Hanum & Rangga (2018), Faith and The City Review

Pertanyaan besar di film sebelumnya masih menjadi yang menonjol di film ini : Would World Be Better Without Islam?
Masih bercerita tentang Rangga (Rio Dewanto) dan Hanum (Acha Sptriasa), pasangan suami istri yang tengah ke New York dari Vienna untuk project Hanum. Project sukses dan mereka harus kembali ke Vienna, disinilah masalah mulai menghampiri.

Selamat membaca review ala ala ini, genks.

Tepat saat akan naik Taxi, tawaran untuk magang di TV besar di Amerika datang. Hanum bimbang. Ia harus menemani Rangga kembali ke Vienna ketika mimpinya sejak kecil kini di depan mata. Hanya harus menjawab ya atau tidak maka semua akan berubah.

Film Garapan Benny Setiawan ini memang seperti mengulang kisah yang sama dengan film sebelumnya. Setidaknya seperti itu pikiran saya setelah menonton Trailernya. Karena pertanyaan Apakah Dunia akan lebih baik tanpa Islam masih menjadi pertanyaan besar dalam film ini. Namun ternyata Sang Director berhasil memainkan cerita menjadi tidak mudah tertebak. Drama yang dibangun juga bagus meski agak memakan durasi untuk menuju ke scene drama itu.

Konflik-konflik yang dimuncul memberi pelajaran yang bagus tentang komunasi dalam rumah tangga, tentang keinginan-keinginan pribadi pasangan yang kadang tak sejalan dengan situasi dan kondsi bersama. Masing-masing pribadi memiliki mimpi masin-masing dan ini kadang  menghadirkan dilema yang berat. Di film ini kita akan melihat bagaimana Hanum dan Rangga menyelesaikan masalah ini.

Tokoh Azima dan anaknya Sarah kembali hadir. Bukan cuma Rangga yang berubah, Azima dan Sarah pun di film ini diperakan oleh orang yang berbeda, Jika di film-film sebelumnya Azima di perankan Rianty Cartwright di Film ini Titi Kamal dipercaya untuk memerankan Azima, Rangga diperankan oleh Rio Dewanto. Menurut saya tak ada masalah dengan Rio Dewanto karena dia berhasil membuat saya tak memikirkan Abimana sebagai Rangga terdahulu. Porsinya as banget. Yang jadi sedikit masalah akan Azima, terasa ada yang terlalu berbeda antara Rianty dan Titi Kamal jadi ketika scene Azima saya kesulitan untuk mencari relate film ini dan film sebelumnya.

Andy Cooper sang boss TV diperankan oleh Arifin Putra. Tak perlu diragukan lagi akting nya, karakter perannya dapat banget, menyebalkan dan sangat berhasil membuat penonton membenci karakter Andy Cooper yang kapitalis. Di dunianya hanya ada Rating, rating dan rating tinggi untuk acara tv nya. Tak peduli apapun. Bahkan perasaan orang yang ia jadikan narasumber; Azkiyah (Alexandra Gottardo) yang suaminya juga merupakan korban peristiwa 9/11. Karena kejadian itu banyak muslim Amerika mengecam Hanum , hal ini membuat Hanum semakin semangat mencari cara untuk menjawab pertanyan Would World be Better Without Islam?

Ada banyak konflik sebenarnya yang dihadirkan dalam film ini. Dari sini saya mendapat pelajaran dan informasi bahwa betapa banyak hal yang harus dikorbankan dan dilakukan seorang reporter demi rating tinggi. Keluarga, sahabat dan diri sendiri.

Rumah tangga Hanum Rangga goyah seketika. Azima terseret, Andy Cooper terseret. Lalu apa yang akan terjadi? Sebaiknya kalian nonton langsung deh.

Oke, berbicara tentang sinematografi, sebagai awam saya merasa tidak ada yang istimewa dari sinematografi film Harum Rangga ini, tak jauh beda dari yang sebelumnya. Tidak ada sudut-sudut istimewa selain memperlihatkan suasana New York yang sebenarnya sering kita lihat di video-video atau di film-film lain. 

Yang surprise di film ini adalah hadirnya Alex Abbad dengan perannya yang berbeda dengan peran-peran sebelumnya. Disini lebih kemayu meski dengan jenggot menuntai dan he did it! Keren banget emang Alex Abbad ini. Hadirnya Ayu Dewi menambah warna dari film ini, tidak melulu drama rangga dan hanum. Hanya saja penggamabaran bahwa banyak orang Indonesia di sekitar mereka di New York agak-agak membuat saya berpikir aah masa sih .. gitu.  

Over All ini tontonan yang bagus di tonton bersama pasangan halalmu agar lebih saling memahami dan saling support dalam menjalankan Passion masing-masing. Tidak rugilah kamu membeli tiket dan menghabiskan 90 menit waktumu di dalam bioskop. Pesan moral tentang tujuan berumah tangga, tentang membela agama, tentang memanaj perasaan ada di film ini.


Untuk film ini saya kasi rating  3/5. 

Gimana komentarmu tentang film ini? Comment di bawah ya. Mohon maaf atas review yang tidak beraturan ini. Menulisnya curi-curi waktu hehe. Thanks for coming.. 
Share:

Radit dan Saumi yang Istimewa


Tahun ini saya dapat amanah banyak siswa istimewa (ABK/inklusi). Tadinya saya takut gak bisa handle mereka, secara ada lebih dari tiga anak dengan keistimewaan yang berbeda-beda. Saya kadang mikir "sengaja nih kepala sekolah saya ngasih kelas dengan banyak hal yang butuh perhatian biar saya gak sering izin ke luar kota hehehe". Tapi bismillah saya menerima tanpa expektasi apa-apa. Sejak awal dalam hati saya hanya berkata saya akan jadi teman main dan belajar mereka yang paling asik!

Diantara nya, ada dua anak yang benar-benar menonjol istimewa nya. Radit dan Saumi. Semakin kesini saya semakin sayang sama mereka karena sejak hari pertama kelas tiga mereka tidak pernah menyusahkan seperti yang dikeluhkan guru - guru mereka di kelas sebelumnya. Konon Radit suka tantrum tanpa alasan, Saumi sering teriak-teriak histeris tanpa alasan juga. Alhamdulillah sejauh ini saya belum pernah melihat hal itu terjadi.

Adit hanya tidak fokus belajar karena ia tertarik pada hal-hal dalam imajinasinya. Kadang ia merayap di lantai kelas, mengendap-endap sampe kolong meja teman-teman nya. 

Kadang suka datang ke bangku guru lalu memeluk saya sambil bilang 

"Pak Guru, ganteng. Jangan jadi jelek ya" hahaha. 

Kadang juga dia bilang "Pak guru jadi bapak kita yaaa😅.

Adit bisa menulis dengan metode meniru. Dia tidak bisa membaca dan berhitung. Belakangan sudah bisa mengenal huruf yang ia tulis sedikit demi sedikit. Semakin hari ia semakin senang menulis walaupun tidak bisa dibaca. Dia tidak mau pulang kalau belum selesai nulis. Saya sampai bengong kadang nunggu dia kelar nulis baru pulang padahal jam sekokah sudah selesai. Gitu juga tiap jadwal piket nya, pantang pulang sebelum bersih, gitu kita bikin tagline bareng-bareng.

Saumi beda lagi. Dia lebih tertutup. Kalau bicara tidak berani bertatap muka. Setiap hari hanya mewarnai dan menggambar. Tidak bisa menulis dan berhitung.

Setelag beberapa minggu mengenal Saumi saya semakin paham apa yang ia perlukan. Ia butuh pengakuan, butuh sanjungan dan sahabat. Saya pun berusaha mendekati dengan cara-cara yang ia sukai seperti tiap hari menyapa dengan senyum, ngajak tos, memuji gambarnya, memuji usaha menulisnya, dan terakhir saya tahu dia sangat menyukai Omar dan Hana. Dia akan lupa diri kalau ada lagu arau videp Omar dan Hana. Semakin hari terlihat juga hasilnya, Saumi lebih percaya diri.

Di video ini dia sedang bernyanyi mengikuti Omar Hana. Sebelun ini dia barus aja mempresentasi kan denah rumahnya (pelajaran IPS dan Bahasa Indonesia). Meski gambar denah rumahnya tidak rapi tapi dia bisa menyebutkan letak letak ruangan di rumahnya dengan baik. Setelah selesai presentasi dia minta di putarkan video Omar dan Hana. Subhanallah dia girang bukan kepalang. Dia bergaya seperti ibu guru katanya dia. Setelag presentasi ini dia semakin semangat menunjukkan hasil menulis dan menggambar nya walaupun ujung-ujungnya merayu 

"Pak Guru, boleh ke nyanyi Omar dan Hana?" tanyanya dengan logat khas Omar dan Hana.

Ya dia seperti masuk ke karakter kartun itu. Gayanya dan bicaranya persis tokoh kartun itu. Malaysia semua. Bisa ditebak tontonannya di rumah apa, bagusnya kartun Omar dan Hana ini memberikan pesan-pesan dan ilmu yang baik untuk anak-anak. Andai kertun-kertun anak semua begini ya.

Beruntungnya teman-teman yang lain memahami keadaan Radit dan Saumi. Mereka tidak terlalu terganggu, mereka juga tidak protes kalau saya memuji atau memberi nilai 100 untuk usaha Radit dan Saumi. Jika Radit mulai terlalu menganggu barulah mereka melapor ke saya.

Mereka semua memberikan banyak hikmah dan ilmu buat saya...

Share:

Ada Lombok Coffee Art Competition di Wyndham Sundancer Lombok

Sejak Lombok diguncang gempa lebih kurang dua bulan yang lalu, rasanya kayak suntuk aja gitu karena teman-teman masih sibuk menata kembali semuanya. Mengatur kembali semua perencanaan dan kegiatan. Sayapun demikian sedikit-demi sedikit mulai kelar apa yang selama gempa tertunda. Hanya saja beberapa hari belakangan jadi kepikiran untuk piknik kemana gitu. Pasca gempa kayaknya sih sepi ya di tempat-tempat wisata di Lombok dan aku lebih suka berwisata ke tempat yang tenang dan tidak crowded sih. 

Tuhan seperti mendengar suara hati saya. Tiba-tiba aja dapat pesan menyenangkan dari Bluebird Grup Lombok yang sering banget dukung kegiatan blogger lombok. Bluebird ngajakin ke Wyndham Sundancer Lombok. Denger nama Sundancer aja aku udah langsung membayangkan pantai yang cantik di Sekotong dengan pasir putih yang bersih, ombak yang tenang, langit biru yang menyenangkan untuk dipandang. Fix ikut! 

Akhirnya diangkutlah saya dan beberapa teman blogger lainnya ke Wyndham Sundancer Lombok oleh Bluebird Grop Lombok yang ramah dan safety riding banget. Perjalanan 2 jam kurang tidak terasa bosan sama sekali karena saya tidur hehehe. Berangkat jam 10 pagi dan tiba disana sebelum jam 12 langsung disambut oleh keseruan Lombok Coffee Art Competition yang sedang berlangsung. Wah pas banget! Ini ilmu sekaligus pengalaman seru menyaksikan 5 Barista dari penjuru Lombok beraksi membuat kopi terbaik untuk para juri.  Bukan jarang lagi tapi saya gak pernah liat langsung barista berkompetisi. Ternyata seru banget!


Lombok Coffee Art Competition

Acara keren ini gak sekonyong-konyong ada gitu aja guys, ide nya berawal dari upaya membangkitkan lagi Pariwisata Lombok yang sempat lesu karena gempa bumi beberapa waktu lalu. Acara ini di gagas dengan harapan Lombok kembali ramai oleh wisatawan karena pariwisata Lombok masih tetap cantik dan menjadi primadona. Acara yang juga disupport oleh Banyuatis Kopi Bali ini di gelar di Resto Wyndham Sundancer Lombok yang kece banget, view nya langsung ke arah pantai dengan pasir putih yang bersih dan langit yang biru bersama mega-mega yang berarak. Sepanjang pantai pepohonan ketapang pmenjadi peneduh tamu yang beristirahat sembari menikmati minuman dan makanan mereka. Siang yang sempurna.

Foto by Kristin
Menurut informasi, Ada sekitar 50 orang barista yang diundang, tetapi yang menghadiri kompetisi ada 38 orang yang merupakan barista dari hotel-hotel dan coffeeshop indie yang tersebar di penjuru Lombok. Ini baru permulaan, ke depannya, event ini bakal dilaksanakan dengan taraf nasional. Kebayang kan bagaimana serunya Barista-barista dari seluruh Indonesia berkumpul di Lombok? Mantab!

“Wyndham Sundacer mendukung kebangkitan Lombok Tourism, salah satunya adalah dengan cara melakukan Lombok Barista Competition. Tujuannya untuk menunjukkan ke seluruh masyarakat Indonesia dan dunia bahwa bukan hanya Lombok, tapi pariwisata Lombok juga sudah bangkit lagi’, ungkap Nanang Supriadi, General Manager Wyndham Sundacer Resort Lombok.

Peserta-peserta Lombok Coffee Art Competition ini bikin saya terbengong-bengong. Mereka meracik dan menyajikan kopi dengan waktu yang singkat abis, ada yang cuma butuh waktu 2 menitan, ada yang 3 menitan dan 4 menitan hingga akhirnya keluarlah nama-nama pemenang Wyndham Coffee Art Competition 2018. Setelah diumumkan nama pemenang, Juara I berhasil diraih oleh seorang Lady Barista yang mewakili Kedai Kopi Pancing, Ainy. Juara II diraih oleh Fadli dari El-Bazar Café & Resto. Serta juara III diraih oleh Sutrisno dari Maktal Coffee Shop. Selanjutnya Juara IV dan V ada Daniel dan Jaya. Masing-masing pemenang berhak membawa pulang uang Tunai serta piala. Untuk Juara I uang tunai sebesar Rp 1,5 juta, sertifikat, dan piala. Juara II mendapatkan Rp 1,250 juta, sertifikat dan piala. Juara III uang sebesar Rp 1 juta, sertifikat dan piala. 

Bisa dibayangkan tahun depan bakal lebih seru dan mantab hadiahnya. Namun yang paling penting harapan kita semua semoga pariwisata Lombok kembali bersinar , kembali ramai, bangkit kembali.

Terimakasih banyak kepada Bluebird Group Lombok dan Wyndham Sundancer Lombok untuk kesempatan menikmati kopi dan suasana Sundancer yang bikin pengen kembali lagi kesana. 

Jadi kamu kapan ke Lombok? Atau buat yang di Lombok, pernah ke Sundancer Sekotong belum? 

Foto by Kristin

Foto by Kristin

Foto by Kristin






Share:

Meliput Festival Payung Indonesia 2018

Halo teman-teman, rasanya sudah lama sekali tidak menulis. Ada rasa bersalah. Semacam mengabaikan rumah sendiri hingga berdebu banyak sarang laba-labanya kalau rumah beneran untung ini blog hehehe. 

Jadi selama ini banyak hal yang terlewatkan untuk ditulis. Hal menyenangkan, hal yang menyedihkan ada semua. Tapi saat ini saya ingin bercerita hal menyenangkan aja deh. Kali aja bisa bikin kamu juga jadi senang. Kalau sama-sama senang kan enak. Aku senyum kamu senyum. Karena itulah aku mau ngasi tau kalau saat nulis postingan ini aku ladi duduk di meja samping tempat tidur Hotel Graharu namanya. Aku lagi dapat kepercayaan untuk meliput Festival Payung Indonesia 2018 di Taman Lumbini candi Borobudur. Yeeeaaay! 

Kalau kata mentornya Genpi Lombok Sumbawa; Mbak Jhe, anggap aja ini bagian dari Trauma Healing setelah hampir sebulan dibuat parno oleh Gempa Bumi yang beberapa waktu lalu mengguncang Lombok Sumbawa. Benar juga sih. Awalnya sempat bingung karena merasa gak tega aja ninggalin anak istri di rumah dalam kondisi masih pada takut gempa eh tapi istriku malah support. Asik kan?. Setelah dapat support dari istri akhirnya perjalanan menuju Candi Borobudur di mulai.

Meliput sebuah Event yang masuk dalam Calendar of Event (CoE) Kementrian Pariwisata itu adalah sebuah kepercayaan besar buat saya. Event-event yang masuk CoE tentu saja bukan event biasa melainkan sebuah event besar yang dipersiapkan dengan sangat serius maka saya sebagai bagian dari tim Generasi Pesona Indonesia juga kudu memberikan yang terbaik yang saya bisa. Alhamdulillah saya bekerja bersama team yang asik, baik dan ramah. Jadi dengan kerjasama yang baik event Festival Payung Indonesia 2018 bisa berjalan baik dan berhasil menjadi Trending Topic Indonesia di urutan teratas. Buah dari kerjasama semua pihak, panitia event yang bekerja cepat dan giat, tim pers yang juga cepat dan tanggap dan semua pendukung acara yang luar biasa. Semua bahu membahu membuat acara ini berjalan baik dan menghasilkan output yang baik untuk Pariwisata Magelang dan Indonesia pada umumnya.


Apa Itu Festival Payung Indonesia?

Saya yakin pasti ada yang nanya emang apa sih Festival Payung Indonesia (FPI) itu? Oke mari saya jelaskan. Jadi Festival Payung Indonesia adalah ajang bertemunya payung-payung se-tanah air dengan bentuk, motif dan corak yang berbeda. Kerennya masing-masing motif dan bentuk payung membawa pesan tersendiri. Di FPI 2018 kita bisa melihat langsung bagaimana para perajin melukis dan mengkreasikan Payung mereka dengan warna dan cerita tertentu. Di FPI 2018 kita bisa langusng melihat proses kreatif perajin,  dan karya-karya desainer  hebat dengan karya-karya yang serius bikin saya betah duduk di depan panggung. Jadi selain Pameran Payung juga ada fashion Show yang masih berhubungan dengan payung. 

Saya terbelalak kagum saat pertama kali memasuki Taman Lumbini yang sore itu dipenuhi payung-payung dengan motif, bentuk dan ukuran yang tak biasa. Jika selama ini yang saya tahu hanya ada payung cantik hadiah dari bank ini bank itu atau paling jauh payung fantasi di film Sweet 20 maka disini saya melihat banyaaak sekali rupa payung yang benar-benar baru saya temui hanya di Festival Payung Indonesia. Ada payung mini dengan kain-kain batik dan kanvas yang dilukis aneka rupa. Payung dengan ukuran super besar berbentuk kepala gajah lengkap dengan belalai yang menjuntai, payung yang dibuat dari rajutan tali kur, payung dari lontar, dan sebagainya. Intinya di Festival Payung kemarin semua payung berkumpul di bawah ibu segala Payung : Borobudur.

Hal lain yang membuat saya enggan beranjak dari depan panggung Festival Payung Indonesia 2018 adalah penampilan para penari dan Fashion show dengan kain-kain khas dari berbagai daerah di Indonesia bahkan ada penampilan dari luar negeri; India, Jepang, Pakistan, Thailand dan lainnya. Silih berganti menunjukan pesona busana dan gerakannya di atas panggung memanjakan mata para pengunjung termasuk saya. Ada Pentas Tari Buddha Carita dari India yang kolaborasi dengan Pooja Bhatnagar Bali, Workshop Tari Pakistan bersama Rafit Anwar Khan, Mao Arata Co. & NSSU  Dance club dari Jepang dengan tema Flower Walk Under The Moon, Raming Flower Dance Thailand, dan ada "Ibu" Ayu Laksmi dengan musiknya yang magis!


Kekaguman dan Kecintaan saya pada negeri ini semakin membuncah ketika melihat kain-kain tenun khas daerah-daerah menjadi busana yang superr keren dan elegant yang diperagakan oleh model-model cantik dan gagah di atas panggung. Sungguh indah dah kayanya Indonesia. Kain-kain nusantara benar-benar punya nilai dan kualitas tinggi dengan story telling yang menarik. Nyaris tak ada yang tidak menarik perhatian. Kain-kain khas daerah berubah menjadi outfit yang elegant, berkelas dan unik. Beberapa Fahsion Desginer yang terlibat dalam Umbrellah di Festival Payung : Indrias Snthir dengan AKALPA, Sikka & Sintang oleh Dian Oerip dari Ngawi, Lila Imelda Sari dengan MESRA dari Jogjakarta, ada Desainer cilik Akeyla Naraya dari Jakarta dengan RAIN OUT nya yang unik,Ofie Laim dari Bandung dengan AUSPICIOUS SYMBOL, Uzi Fauziah dengan PANCAWARNA yang memukau, ada juga LURIK "Garis Batas Bertuah" oleh Prasojobyrani, dan Umbrella Fashion ULOS RAGIHOTANG oleh Atang Siahaan dari Jakarta yang memamerkan keindahan kain Ulos dan masih banyak lagi desiner-desainer dengan karya-karya luar biasa yang turut menghidupkan rangkaian acara Festival Payung 2018.

Jadi tidak heran jika pengunjung festival yang sudah berjalan selama lima tahun ini selalu membludak, apalagi tahun ini lokasinya di bawah kaki Borobudur yang termasyur.


Suasana Borobudur yang hari-hari ramai semakin tambah meriah dengan hadirnya payung-payung cantik serta komunitas-komunitas yang turut meramaikan, juga ada stand-stand kuliner lokal serta workshop tari yang seru untuk diikuti. Ahh acara ini seru sekali.

Team liputanpun tak kalah seru, ada Mas Yopie yang kalem, om Beng yang seru abis, icha dari jogja asal bekasi, Pak Joko dari Siak Kepri, dan ada bang Benny yang doyan nraktir makan haha dan banyak hal-hal seru yang sulit saya gambarkan dengan baik lewat tulisan (insyaallah lain kali nulis lebih panjang hehe)

Semoga budaya Indonesia terus berkembang dan lestari.








Share:

Cinta adalah Sepaket Rasa

“Love is not liking somebody. Anyone can do that. Love is loving things that sometimes you don't like. ”

― Ajahn Brahm




Apa yang terlintas dalam pikiranmu setelah membaca kutipan di atas? saya sendiri sih yang terlintas adalah "paket komplit". Maksudnya kita tidak bisa memilih untuk hanya mencintai baiknya saja atas seseorang sama seperti kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa karena cinta memiliki logikanya sendiri.

Ada sebuah kejadian kecil memberikan saya dan istri saya pelajaran yang besar untuk terus belajar saling menerima. Semoga ini juga bisa menjadi bahan perenungan buat kamu, temans!

Suatu hari kami sekeluarga mendapat undangan makan durian di rumah salah satu sahabat yang punya kebun durian. Sebuah undangan yang sepertinya dinanti-nantikan semua pecinta Durian. Singkat cerita kami berangkat berempat dengan motor matic saya satu-satunya. Andai saja anak-anak  ini sudah besar maka tak akan ada tempat di motor, untuknya masih kecil-kecil. Perjalanan 30 menit tertempu dengan lancar tanpa masalah dan menyenagkan karena si adek terus saja bernyanyi dan berceloteh sepanjang jalan layaknya orang yang sedang membuat video blog (Vlog). Kami di sambut oleh aroma dunia yang langsung menyerbu hidung, menuju otak dan seketika membuat kelenjar sublingalis saya memproduksi banyak ludah yang harus segera saya kendalika. Saya ngiler seketika. tentu saja bukan cuma aroma durian yang menyambut kami tetapi juga kehangatan dan senyum tulus empunya rumah. Saya selalu merasa pulang ke rumah sendiri ketika berada disana. Inaq dan amaq rasanya seperti orang tua sendiri. Begitu baik dan sellau baik sejak belasan tahun lalu. Tak ada alasan untuk tidak berterimakasih dan bersyukur atas silaturrahim yang terjalin.

Seperti biasa, seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, sejak saya masih mahasiswa cupu hingga saat ini sudah memiliki dua anak inaq dan amaq selalu menawarkan kami kopi, teh, makanan-makanan dan buah. Jika kami berempat (kami bersahabat dekat berlima dan tuan rumah ini satu-satunya cewek dalam genk tak bernama ini) berkunjung, Inaq sudah hafal bahwa saya lebih prefer teh daripada kopi. Namun tetap saja kadang ditawari untuk menyeruput kopi racikannya. Ah buat saya kopi atau teh tak masalah saat yang menawarkan tulus dan ikhlas penuh kasih. dari kopi saya tahu bahwa selera manusia berbeda dan kadan rumit bahkan untuk satu jenis minuman. Tanpa gula, sedikit gula, dengan krimer, bahkan cara menyruput pun berbeda. Dari teh saya belajar bahwa hidup ini hanya perlu dinikmati dengan tenang, manis atau tidak yang terpenting maknanya, yang terpenting adalah khasiat dari tehnnuya. Begitulah setiap kami berkunjung kesana. Kami ngeteh bersama, makan bersama, lalu ngobrol dengan seruny hinga senja.

Saat kami ngobrol ternyata si Adek asik sendiri bermain dengan kucing disana. Dia selalu akrab dengan kucing dimanapun dan hebatnya kucing-kucing selalu mudah jinak kalau sama dia. Hingga tiba saat pulang dia merengek minta kucing itu dibawa ikut ke rumah. Saya tidak mengizinkannya. Tidak boleh. Tangisnya meledak, katanya dia sayang kucing itu, dia mau punya kucing di rumah. Sebetulnya saya sendiri pecinta kucing tapi masih mikir-mikir untuk pelihara kucing lagi setelah kehilangan King kucing Anggora berbulu putih cantik  sewaktu si adek masih bayi dulu. 

Drama terus berlanjut. Saya luluh, ibunya juga mendesak saya untuk memberi izin. Tapi saya masih bergeming. Empunya kucingnya juga terlihat belum rela melepas kucingnya meski ada beberapa kucing lainnya disana.

si Ibu bilang, ini nanti kalau dibersihkan bagus kok kucingnya.
si Adek bilang, dia sayang kucing itu. 
Si kakak ikutan mendukung adeknya katanya kucingnya lucu. 

Ya benar. Saya juga melihat hal yang sama. Kuicng itu lucu, bulunya bagus jika dimandikan sekali saja nanti, dan saya tahu si adek gampang sekali sayang pada kucing akan tetapi yang mereka lupa adalah kucing itu juga punya sisi tidak baik yang mungkin di awal pertemuan tidak terlihat. Sisi itu akan terlihat nanti seiring berjalannya waktu. Kotorannya, bulu-bulunya, dan lainnya yang seharusnya kita juga siap menerimanya. Hanya saja saat itu aku tidak sempat untuk mengutarakan itu karena hari semakin senja, magrib segera datang dan rumah kami jauh.  Keputusan terakhir setelah empunya kucing ikhlas, kami membawa kucing itu pulang. Dipulkan istriku kucing itu terus menangis, merontah dan berusaha melompat ke jalan. Si adek mencoba menenagkan dengan mengajaknya ngobrol, aah ada-ada saja. Tapi anehnya kucing itu diam hingga kami tiba di rumah.


Sehari, dua hari, smeinggu, kucing yang diberi nama Ginger itu menjadi kesayangan kami sekeluarga. Ginger pun cepat sekali akrab dengan kami terutama saya. Setiap malam Ginger tidur di antara kaki saya, kadang di perut atau di belakang punggung. Dia kucing yang baik, lucu dan manja. Hingga suatu hari dia buang kotoran di bawah jendela kamar. Baunya luar biasa. Adik iparku menggerutu. Aku membersihkannya. Esoknya begitu lagi, terus setiap hari Ginger buang air besar di dekat kamar adik iparku padahal sebelumnya di luar rumah seperti yang say biasakan. Rupanya dia takut keluar karena ada Cepi kucing tetangga yang lebih besar dari Ginger. Kami sekeluarga tetap menyayangi Ginger kecuali adik iparku. Berkali-kali dia menyebut akan membuang kucing itu. Tapi aku yakin itu hanya gurauan. 

Semakin hari si Adek semakin lengket dengan Ginger. Ginger diperlakukan seperti boneka. Digendong, dipeluk, bahkan dicium. Nah ini mulai membuat saya resah.  Saya selalu memperingatkannya agar tidak mencium kucingnya karena belum sempat di vaksin. Ai Adek nurut tapi tetap saja besok-besoknya diulangi lagi sampai membuat si ibu marah, mulai berkurang sayangnya pada Ginger, pelan-pelan keinginan untuk mengembalikan Ginger ke asalnya mulai muncul. Oke, aku sih oke. tapi cinta itu tak seperti itu...

dari Ginger saya semakin memahami bahwa mencintai itu adalah tentang penerimaan. Kelebihan dan kekurangan. Kebaikan dan keburukan dari yang kita cintai. Kita tak bisa hanya mencintai sisi baik seseorang karena setiap manusia punya dua sisi, baik dan buruk. Termasuk diri kita sendiri. KIta tentu saja memiliki sisi tak menyenangkan yang kita sadari atau tidak. Alhamdulillah jika kita sadari lalu belajar untuk berubah menjadi lebih baik. 

Memutuskan memelihara kucing bisa kita jadikan analogi untuk sebuah pernikahan. Dimana ketika masa-masa pendekatan kamu dan dia berlomba-lomba memperlihatkan bagian terbaik dari diri kalian. Meski tak jarang mengabaikan apa adanya dirimu. Masa-masa indah yang membutakan mata untuk melihat bahwa sosok yang kita cintai adalah manusia yang memiliki kekurangan bukan malaikat yang selalu baik. Akan ada masanya sifat asli mu dan dia keluar dan membuatmu shock karena tak pernah menduga. Saat itu terjadi apa kabar rasa cintamu? Sesunggunya beberapa ujian dalam rumah tangga kita sendiri yang ciptakan. Kita terlalu fokus pada hal-hal yang kita sukai segingga melupakan bahwa pasangan kita juga manusia biasa yang bisa saja salah kapanpun. Jika saja sejak awal kamu faham akan hal itu maka ketika kekurangan-kekurangan pasangan terlihat kamu akan lebih bijak menyikapi karena kamu sadar kamu juga punya kekurangan yang bisa jadi sulit untuk diterima orang lain. Ketika pasanganmu berbuat salah dengan sigap kamu akan maklum,selama keslahan itu bukan keslaahan fatal yang bisa menghancurkan keluarga. Semakin banyak maklum semakin jauh kita dari sakit hati. 

Cinta itu adalah sepaket rasa, karsa dan cipta seseorang yang tidak sepenuhnya sesuai dengan seleramu.Tetapi menerimanya dengan ikhlas tidak akan membuatmu menderita atau rugi. Karena hasilnya adalah iapun akan menerimamu dengan segala kekuranganmu. Begitulah aturan mainnya. Meski beberapa memang ada yang tidak peka-peka ya itu karena ia belum matang ketika memutuskan untuk menikah kalau menurut saya. Matang atau tidaknya seseorang bukan perkara umur. Bukan sama sekali. Seseorang "matang" atau dewasa karena pengalaman belajar dari sekelilingnya. Belajar dari masalah-masalah hidupnya dan orang lain. Belajar dari banyak cerita manusia-manusia terdahulu. Dewasa itu pilihan, menua itu  takdir.

Tak ada manusia sempurna saat ini jadi berhentilah menunggunya. Bukalah hati untuk dia yang telah menunjukan diri apa adanya. Terimalah dengan apa adanya dirimu. Tak perlu topeng, tak perlu sandiwara. Karena memakai topeng atau berdandiriwaera saat akan memulai sebuah hubungan akan mencelakai mu dalam perjalanannya nanti...

Tak ada yang salah dengan ketidak-sempurnaan karena cinta selalu bisa menjadi penetral segala kecewa.

Pantaskan diri kita untuk menerima apa yang kita inginkan..

Ingin mobil? Udah bisa nyetir? udah siap finansial?
Ingin anak? Udah siap 24 jam di recokin?
Ingin Istri/Suami? udah siap belum berbagi semua hal dengan pribadi lain? udah siap belum menghabiskan hari-hari dengan orang yang sama terus sampai waktu yang terhingga?

Jika jawabnnya belum maka memang belum pantas... Pantaskan diri dulu baru Allah kasi. Saya selalu berkeyakinan seperti itu. 


Mataram, 10 Juli 2018, 1.34 am




Share:

Dan Menteri Pariwisata pun Singgah ke Pasar Pancingan


LOMBOK - Masih ingat Pasar Pancingan Lombok? Pasar offline yang dibentuk Generasi Pesona Indonesia (GenPI)? Yang pernah dikunjungi artis Gracia Indri dan model Fina Phillipe? Nah, Jumat (6/7) nanti, giliran Menpar Arief Yahya yang datang berkunjung ke sana. Pasar Pancingan pun kembali buka dengan  edisi spesialnya yang mulai start  dari pukul 14.00 - 18.00 WITA.

Juragan Pasar Pancingan, Rizki Fadly mengatakan, edisi spesial  disiapkan lantaran Menteri Pariwisata Arief Yahya akan hadir ke destinasi digital di Desa Wisata Bilebante, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). 

"Pekan ini kami akan buka dua kali. Yang pertama hari Jumat. Itu karena Pak Menpar (Arief Yahya, Red) akan hadir ke sana. Satunya lagi hari Minggu. Pasar akan buka seperti biasa," ukar Rizki Fadly di Mataram, Rabu (4/7).

Dijelaskannya, Jumat nanti stand yang hadir sama seperti hari Minggu. Semua diset seperti biasa. Ada pedagang, makanan khas, aneka games, serta spot-spot selfie yang instagramable. Semua normal seperti biasanya. 

"Akan ada Aneka Sate khas Lombok, Nasi Ebatan, Bakso Rumput Laut, dan lainnya, Untuk Atraksinya sendiri akan ada gebug bantal, pancingan, sepeda keliling desa, juga kesenian performance," ujarnya. 

Di pasar Pancingan, lanjut Rizki, Menpar Arief akan site visit serta berdialog dengan warga setempat. Nanti Menpar Arief akan mengajak warga untuk  mengangkat potensi dan promosi pariwisata yang ada di sekitar mereka. 

"Sebelum ke Pancingan, beliau hadir di acara dialog nasional dan juga meninjau beberapa lokasi  di KEK Mandalika dan Desa Sade di Mataram," Kata Rizki. 

Sementara Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu M Faozal, memberikan dukungannya untuk GenPI dan Pasar Pancingan.

“Dinas Pariwisata NTB mendukung semua kreativitas yang diciptakan GenPI. Apalagi untuk pariwisata. Kami juga mendukung GenPI untuk terus mengembangkan destinasi digital. Dinas Pariwisata juga berharap GenPI dan destinasi digital mampu melibatkan masyarakat sebanyak-banyaknya. Termasuk untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar Pasar Pancingan,” harapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga ikut  mengapresiasi langkah dan ide-ide kreatif yang dimunculkan GenPI. Apalagi, Pasar Pancingan mulai masuk ke dunia industri. Basic konsumennya sangat besar dan kuat. Semua sukses dibuat penasaran oleh jalan masuk di tengah sawah, kemasan instagramable yang serba digital, serta konsep back to nature dan tradisional.

"Menciptakan atraksi baru yang kekinian dengan memanfaatkan potensi lokal serta menggandeng unsur Pentahelix. Ini merupakan acara yang tidak hanya mengangkat cultural value tapi juga akan menciptakan economic value sehingga akan membuatnya sustaine," kata Menpar Arief Yahya. (*)
Share:

Pelajaran dari Pilkada NTB 2018

Hiruk pikuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB 2018 akhirnya menemui ujungnya. Hari ini (27/06) adalah hari dimana seluruh warga Nusa Tenggara Barat memberikan hak pilihnya. Ujung dari segala macam keributan di social media, di baliho-baliho dan selebaran-selebaran sepanjang jalan, dan lainnya. Semoga.

Saya tidak akan membicarakan siapa yang saya dukung dalam pertarungan empat pasang calon pemimpin ini tapi saya ingin sedikit membahas sisi lain dari pesta demokrasi ini, tentunya dari kaca mata saya yang awam dan mempesona ini. eh

Meski tidak pernah menunjukkan secara terang-terangan siapa pilihan saya, sesungguhnya saya tetap mengamati dan mempelajari. Saya bukan ASN yang tidak boleh berpolitik praktis tetapi saya anggota Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Lombok Sumbawa yang mempunyai kode etik yang harus dipatuhi; No Politik, No SARA, No Hoa. Jadi meskipun keinginan untuk memperlihatkan dukungan juga ada, saya ternyata bisa nge-rem juga sampai detik ini. Kecuali di WA grup keluarga besar sih. Disana mah terang-terangan kita dukung siapa. hehehe.

Oke mari fokus ke apa yang ingin saya bahas hehe


1. Belajar Bergerak Senyap dari Pasangan Suhaili - Amin


Adalah Suhaili dan Pak Amin, pasangan yang kemunculannya cukup membuat publik bereaksi macam-macam setelah deklarasi kolaborasi mereka. Pasalnya Pak Suhaili sang calon Gubernur adalah Bupati Lombok Tengah dan Pak Amin sang calon wakil gubernur adalah Wakil Gubernur saat ini mendampingi Tuan Guru Bajang. Berbagai macam reaksi bermunculan, namun yang paling terdengar adalah reaksi sumbang dan cibiran terutama kepada sang calon wakil gubernur yang dinilai salah memilih jalan. Mereka berpendapat seharusnya Pak Amin yang naik menjadi calon gubernur bukannya Pak Suhaili. Entahlah apa yang membuat hal itu terjadi yang jelas selepas deklarasi tidak terlalu banyak terdengar gaung pasangan ini baik di dunia maya maupun dunia nyata hehe. Benar-benar banyak yang mengira pasangan ini akan jauh kalah dari pasangan lainnya. But let's see hari ini berdasarkan Quick Count Pasangan ini meraih suara terbanyak kedua dengan selisih yang tipis sekali. Cocok seperti kata seorang temanku ari Lombok Tengah, Jangan remehnya pak Suhaili katanya. Diam-diam beliau bisa membuat kaget nanti seperti waktu pemilihan bupati Lombok Tengah dulu. Gitu katanya.

Ya, dari pak Suhaili kita belajar untuk lebih santai, tenang dan berjalan dengan senyap. Pembawaan beliau yang tenang, diam ternyata mampu melibas telak dua pasangan lainnya. Air yang tenang kadang menghanyutkan gaess. Catat!

2. Buzzer tangguh ala  Ahyar - Mori

Dari pasangan ini saya belajar untuk optimis dan percaya diri. Saya juga belajar banyak bagaimana untuk menguasai perhatian netizen. Pasangan Pak Ahyar dan Pak Mori ini adalah yang paling gaul dan akrab dengan anak muda. Tak heran jika banyak pemilih pemula yang mengidolakan Walikota Mataram ini. Di dunia maya saya bisa bilang pasangan inilah yang menguasai jagat maya pertarungan pilkada NTB. Di twitter beberapa kali pasangan ini menjadi Trending Topik Nasional gaess. Ini Luar biasa. Buzzer dan influenser serta endorser pasangan ini tenget-tenget (expert) semua. Saya sempat yakin bahwa pasangan ini akan menjadi pemenangnya. 

Dari pak Mori saya belajar bagaimana menarik perhatian publik khususnya anak muda. Ikuti issue-issue yang trend dan sedang happening maka netizen akan mengenal kita secara langsung atau tidak langsung. Bayangkan jika pasangan ini menang NTB akan semakin gampang dikenal warganet dalam maupun luar negeri. 

Sayangnya takdir berkata lain, pasangan dengan ciri khas sorban hitam putih ini harus sabar berada di posisi ketiga setelah dikalahkan lumayan jauh oleh Pasangan Suhaili - Amin. Begitulah politik itu serupa sebuah kota dengan cuaca yang tak menentu. Kita harus siap bagaimanapun cuacanya. terimakasih pak Ahyar dan Pak Mori untuk semangat, pelajaran dan motivasinya. Juga tentang bagaimana mengerahkan anak muda untuk kreatif dan melek politik.

3. Santai ala Doktor Zul dan Ibu Rohmi

Kemudian ada pasangan yang disebut-sebut sebagai pasangan yang akan melanjutkan ikhtiar TGB Sang Gubernur dua periode yang dicintai masyarakat NTB : Zainul Majdi. Sejak awal saya sudah salut dengan karakter Doktor yang biasa di sapa Bang Zul ini. Beliau santai tetapi tegas. Misal ketika publik mulai bertanya yakin akan maju dalam pertarungan dan apakah siap menjadi wakil? Beliau menjawab lewat status fabeooknya bahwa dia hanya akan maju jika menjadi calon Gubernur bukan wakil gubernur. Cool! 

Setelah resmi menjadi calon Gubernur pasangan ini tak hentinya mendapat ujian berupa berita miring dan berbagai issu lainnya yang pada ujungnya terbukti hanya fitnah. Namun bagaimana reaksinya? Sang Doktor lebih banyak diam dan melanjutkan silaturrahminya ke pelosok-pelosok desa di NTB. Tetapi lihat ketika isu negatif mulai berkembang, dengan santai Sang Doktor membuat klarifikasi yang langsung membuat orang terdiam dengan fakta-fakta keren tentang siapa beliau untuk NTB. 

Santai tapi tegas! ini pelajaran besar yang harus kita teladani.

Sementara ibu Rohmi, meski saya tidak begitu memiliki banyak info tentang beliau saya melihat beliau cocok mendampingi seorang gubernur sebagai wakil gubernur. Dari beberapa kali debat calon terlihat beliau mampu mengimbangi. 

and the result.. Pasangan yang disebut mewakili dua pulau ini (Sumbawa dan Lombok) berhasil memperoleh suara tertinggi dari hasil beberapa hitungan cepat (Quick Count). Meski belum resmi, saya mengucapkan Selamat untuk Bang Zul dan Ibu Rohmi, seluruh warga NTB menitipkan banyak harapan di pundak bapak dan ibu. Semoga amanah dan menjadi pemimpin yang dicintai rakyat. Karena jelas tugas beliau akan lebih berat. TGB sudah memberikan standar, jadi minimal harus lebih baik dari TGB. Siap ya bang zul dan bu rohmi.. insyaallah!

4. Ali BD - Sakti ; Hmmm... Saya suka... gayanya!

Setiap debat calon gubernur dan wakil gubernur saya selalu tidak sabar menunggu Pak Ali BD menjawab pertanyaan-pertanyaan. Bupati Lombok Timur ini memang nyentrik, unik, asik dan antik. Bergaya slengean tetapi benar. Meski kadang terlihat terlalu over pede. Saya melihat bapak yang sering di panggil amaq Ali ini memliki niat yang tulus dan besar untuk membangun NTB dengan cara beliau. Jadi setiap debat beliau selalu memberikan statemen yang santai, kocak tetapi memang benar demikian. Beliau menyampaikan dengan apa adanya. Saya suka gayanya! Nyeni banget!

Jauh sebelum pasangan lain memproklamirkan diri, Pak Ali BD sudah lebih dulu memperkenalkan diri lewat baliho-baliho raksasa di sudut-sudut strategis di Lombok Sumbawa. Saya jadi ingat dulu ketika meenemani teman-teman endorser Pesona Indoensia ke Sembalun saya sempat kesusahan mencari angle foto yang pas di pusuk sembalun karena selalu muncul baliho sang Amaq, begitu juga waktu event GNFY view keren di tikungan pusuk sudah terlebih dahulu bercokol baliho Amaq Ali dengan gagah berani. Pelajarannya, selalulah selangkah lebih dulu dalam memulai. Meski cepat tak selalu tepat akhirnya bapak Ali dan Sakti harus rela di posisi keempat. 

Terimakasi atas pelajaran dan hikmah dari sekian bulan masa-masa kampanye hingga hari ini, hari pemungutan Suara Pilkada NTB 2018. Sungguh banyak pelajaran yang saya pribadi dapatkan, lebih banyak dari yang mampu saya tulis di atas.

Semoga yang terpilih bisa mengemban amanah dengan baik dan yang tidak terpilih semoga ikhlas dan saya ucapkan selamat kembali melanjutkan jabatan masing-masing.

Jika kalian juga mendapatkan pelajaran dan hikmah dari para calon silahkan corat coret di kolom komentar di bawah.

Salam Demokrasi!


Share:

Hichki (2018) : Cegukan Yang Bikin Hati dan Mata Basah

Belakangan ini merasa sulit sekali menemukan film-film pas untuk ditonton sendirian malam-malam. Sebenarnya bukan karena filmnya tidak bagus tapi sering bosan aja diawal-awal film akhirnya tidak jadi nonton. Tapi malam ini saya memutuskan menonton  Hichki, film Bollywood yang sudah tayang sejak Mei lalu tapi saya tidak tertarik untuk menonton. Malam ini saya memutuskan untuk menonton karena di posternya ada Ranee Muhkerjee. Bukan karena saya mengidolakannya tapi di antara semua film yang tersedia hanya Ranee yang menurut saya menjanjikan filmnya. Ekspektasi saya filmnya lebih bagus karena memang Ranee filmnya bagus-bagus jadi daripada memilih wajah-wajah baru saya mending pilih aman, nonton Hichki. Sambil tetap berharap tidak bosan di awal. Ternyata ini film yang keren dan sangat inspratif. Simak review ala ala saya ya.


Judulnya Hichki yang artinya Cegukan. Lucu ya. Naina Mathur (Ranee Mukherjee) adalah seorang penderita Tourette Syndrome, sebuah syndrome yang unik. sindrom kejutan saraf otak yang mengakibatkan seseorang mengeluarkan gerakan tak terkendali atau suara yang tak diinginkan secara berulang-ulang, Persis sepetti orang Cegukan hanya saja Tourette tidak bisa dihilangkan. Apalagi ketika gugup atau emosi cegukannya semakin hebat. Dengan sindrome unik itu Naina yang begitu bersemangat untuk menjadi seorang guru tak pernah lelah melamar pekerjaan sebagai guru di berbagai sekolah, semua menolaknya bukan karena kualifikasinya yang kurang tetapi karena sindrom tourette tadi. Di sekolah masa kecilnya yang bernama St. Notkers ia bahkan sudah 5 kali ditolak. Hal itu membuat kepala sekolahnya penasaran dengan semangatnya lalu memberi kesempatan. Hari-hari penuh warna buat Naine di mulai.

Naina mengajar kelas terbandel di sekolah itu. Anak-anak terpinggirkan karena perbedaan status sosial. Anak-anak yang tidak memilik kepercayaan diri hingga lebih memilih membuat onar. Mereka yang selalu memandang hidup tak pernah adil untuk mereka yang berbuah sikap pesimis dan tidak percaya pada siapapun termasuk Naina yang ingin mengajarkan mereka bukan hanya pelajaran sekolah tetapi pelajaran hidup.

Bisa kalian bayangkan gimana hari perama  Naina dengan cegukannya. Jelas jadi bahan olokan kurang ajarnya siswa kelas 9F. Segala cara siswa bandel itu mengerjainya agar segera menyerah dan mengundurkan diri tapi Nainaa malah tertantang. Ia melakukan misinya dengan cara dan metodenya sendiri.

Ada beberapa hal yang Naina lakukan untuk menghadapi mereka dan ini sangat bisa saya atau kalian terapkan untuk mengajar (jika kalian guru):

Pertama, Mulailah hari pertama dengan menyiapkan mental untuk kejutan-kejutan dari siswa bandel itu. Naina memperkenalkan dirinya sekaligus memberikan pengetahuan baru tentang Tourette Sindrome meskipun mereka tidak peduli bahkan mengerjainya dengan lebih heboh. Tetap tersnyum, anggap itu tantangan.

Kedua, Jangan balas kejahatan dengan kejahatan dan liat hasilnya. Ketika siswa 9F mengerjainya dengan bom bola di bak sampah, bukannya menghukum ia malah membela dan memuji anak-anak 9F di depan kepala sekolah, bahkan ia mengaku itu kesalahannya. Moment ini adalah titik balik kerasnya hati anak-anak 9f, mereka mulai tersentuh dan berpikir ulang tentang rencana mengeluarkan gurunya dai sekolah.

Ketiga, Tangkis energi negatif dari luar. Berkali-kali semangat naina berusa dipatahkan oleh rekan gurunya. Namun tak pernah ia masukan ke hati sebagai beban yang membuat sedih justru ia jadikan itu sebagai tantangan yang terus ia perjuangkan. Semangatnya bertambah terusss

Keempat, Ketika seseorang melakukan kesalahan jangan langsung membencinya, lihat alasan mengapa ia berlaku demikian. Benar saya, Naina yakin siswa-siswanya punya hak yang membuat mereka sulit di atur, nakal, melawan dan sebagainya. Ia mempelajari latar belakangan mereka secara umum lalu secara personal, ia mendekat bahkan berkunjung ke setipa rumah siswanya. Hati siapa yang tak luluh jika demikian?

Kelima, Menajarlah dengan menyenangkan. Naina mengatakan pada siswanya bahwa belajar bisa dilakkan dimana saja tidak terbatas di ruangan kelas. Maka dia mengajak siswanya belajar di banyak tempat, di halaman belakang sekolah, di bis, di lapangan, dimana-mana yang membuat anak-anak merasa nyaman dan bisa memahami pelajarannya. Naina berhasil.

Kisah Naina Mathur difilm ini sukses membuat saya terenyuh. Bahkan berair mata sepanjang film. Bagaimana ia menjadikan kekurangan nya sebagai kelebihan yang bisa membuat orang lain berpikir ulang tentang bagaimana memandang hidup. Ada hal-hal yang tak bisa kita ubah maka kita terima dan syukuri saja. Karena mengeluhkan hal yang sama sepanjang waktu bisa membunuhmu perlahan-lahan bahkan langsung. 

Sebagai seorang guru saya memahami bagaimana sulitnya menghandle satu kelas yang semuanya "bermasalah" butuh energi lebih dan butuh perasaan yang kuat untuk bisa strong menghadapi mereka. Jika niat mengajar tak matang maka tak akan mampu seperti naina.

Btw, di film ini kalian tidak akan menemukan orang-orang yang menari dan bernyanyi beramai-ramai seperti film-film india kebanyakan. Meski kebanyakan film-film RM sebelumnya mau sedih mau senang pasi ada adegan nyanyi-nyanyi dan menari-nari sambil lari-lari di padang rumput. Soal akting Ranee menunjukkan kelasnya. Akting cegukan dalam berbagai emosi itu pasti tidak mudah. Ketika ngobrol, tertawa, menangis, serius, dan sedih harus cegukan itu berat menurut saya tapi Ranee suskes memerankan Naina Mathur yang cegukan tak terkendali. Apalagi pas tahu ini filmnya Yash Raj Film hmmm Kalian harus noton film ini. Apalagi jika kamu seorang guru. Harus banget nonton.

Untuk film ini saya kasi nilai lima bintang! Perfect!

Kutipan Favorit : 

  • "Seorang siswa dapat kehilangan nilai karena belajar sesuatu yang salah. Tapi seorang guru tidak pernah kehilangan nilai karena mengajarkan sesuatu yang salah. Mengajar itu mudah, belajar itu sulit.” 
  • “Tidak ada murid yang buruk. Yang ada hanya guru yang buruk.”
  • "Seorang guru yang normal hanya mengajari Anda. Seorang guru yang baik hanya mengerti Anda. Jika dia hebat, maka dia akan menunjukkan kepada Anda bagaimana cara menerapkannya. Akan tetapi beberapa guru menginspirasi kami.”




Trailer Hichki


Share:

Featured Post

Meliput Festival Payung Indonesia 2018

Halo teman-teman, rasanya sudah lama sekali tidak menulis. Ada rasa bersalah. Semacam mengabaikan rumah sendiri hingga berdebu banyak saran...

Instagram @herjunotajie sini

Blog Archive