Jun 27, 2010

Kenangan Indah itu...

Aku merasa telah begitu lama berada dalam kesalahan dan kegagalan. Sejauh ini hidupku tak pernah mengalami sesuatu yang berarti, tak pernah lebih berarti. Atau paling tidak memberi sebuah keberhasilan yang membanggakan. Aku terlalu terbuai oleh hari-hari indahku bersama sahabat-sahabatku. Jarang sekali terpikirkan apa yang akan terjadi esok, akan jadi apa besok, kami (atau tepatnya aku) seperti tak serius. Selalu mengandalkan kata ”Santai saja..” atau ”Nanti saja..masih ada waktu” dan hingga waktu benar-benar berlalu aku mendapati diriku tak pernah beranjak. Sungguh tragis dirku ini.



Februari Tahun 2008, adalah hari yang bahagia buat keluargaku. Karena hari itu adalah hari wisuda Diploma-ku yang sangat di nanti-nantikan oleh keluargaku. Tapi bagiku hari itu adalah hari paling menyedihkan sepanjang sejarah aku kuliah. Kau tentu tahu alasannya. Setelah hari itu aku tak akan lagi bisa mengulang hari-hari indah bersama sahabat dan tempat-tempat indah di pulau ini. Orang tuaku sudah menyiapkan Sekolah tempat aku akan langsung mengajar sebagai seorang guru. Begitu besar keinginan mereka melihatku menjadi seorang guru, dan akulah Guru pertama dalam sejarah keluargaku. Karena selain aku sebagian adalah Petani dan Sebagian berwirausaha. Maka akulah anak emas yang mereka nantikan, yang mereka elu-elukan sebagai kebanggaan.. sayangnya aku tak melihat itu pada waktu itu. Begitu wisuda otakku dengan liciknya mulai memikirkan bagaimana agar aku tetap bersama sahabatku. Disini. Di Lombok!

Acara wisuda selesai dan besoknya aku harus balik ke Sumbawa, memulai hidup baru sebagai seorang guru muda di sebuah sekolah dasar yang sudah menunggu kedatanganku. Aku mulai mengajar dan tak pernah merasa nyaman. Begitu rindunya aku dapa sahabat-sahabatku. Bayangan mereka muncul saat aku sedang apa saja. Tidur,mengajar, menyendiri, bahkan saat aku makan. Seketika makanan tak lagi bisa masuk ke mulutku. Rinduku begitu berat dan tak masuk akal. Kakekku gelisah melihatku sperti itu. Berkali-kali aku dinasehati, di hibur dan sebagainya. Tetap saja. Begitu berartinya sahabat bagiku. Hari-hari indah itu kini tinggal kenangan.

Sebulan kemudian, aku dapat kesempatan ke lombok dan berjumpa lagi dengan 5 sahabatku. Semakin betah saja rasanya bersama mereka. Tentu saja karena rindu yang kami rasakan sama adanya. Kembali otakku merencakan agar aku bisa kembali tetap di lombok. Dan kali ini aku berhasil meski dengan begitu berat aku meninggalkan kakek dan harapannya.. aku telah membuatnya menangis dan kecewa. Aku sungguh menyesali hari itu! Beliau melepasku, memeberiku kesempatan untuk kembali lagi. Pada saat itu aku beralasan bahwa aku masih muda dan butuh pengalaman diluar..aku akan bekerja di disebuah perusahaan distributor yang manajernya adalah kakak temanku. Lama sekali kakek memberiku ijin, setiap aku menanyakan hal itu kakek hanya diam dan berlalu, meninggalkanku tanpa sepatah katapun kuluar dari mulutnya sebagai jawaban. Tapi aku bisa membaca dengan jelas bahwa beliau tak pernah memberiku ijin. Hingga pagi itu, aku menanyakan untuk kesekian kalinya, apakah aku boleh menerima tawaran kerja itu (yang sebenarnya bukan tawaran). Dan dengan sangat berat hati tak sedih yang tak terbilang kakek melepasku. Tak kuasa kubendung ari mataku melihat beliau begitu berat. Tapi saat itu aku adalah sosok yang begitu egois! Mengambil keputusan semauku. Dan aku pun berada kembali di lombok.

Aku mulai bekerja sebagai Staf admin di perusahaan itu dengan gaji yang lumayan banyak, dan lebih dari cukup untukku. Hingga dua bulan kemudian aku mulai merasa jenuh. Aku masuk kerja jam 8 pagi dan baru pulang jam 5 sore itu belum termasuk lembur. Malamnya badanku seperti remuk setelah seharian duduk didepan komputer dengan laporan dan nota-nota yang jumlahnya mencapai ratusan ribu. Tak pernah lagi aku bertemu sahabat yang menajdi alasanku kembali lagi kesini. Bodohnya aku! Aku mulai menyesal, marah-marah pada mereka, tapi inilah konsekuensi dari keputusan egoku. Tak boleh menyesal. Aku menjalani hariku dikantor dengan hampa. Teman-teman kantor begitu baik padaku. Begitu perhatian. Itu yang sedikit membuatku betah dan bertahan. Hinga 6 bulan kemudian aku memutuskan untuk kuliah lagi melanjutkan diplomaku ke S-1. semakin padat saja jadwalku. Kau mulai harus pintar membagi waktu kuliah, bekerja dan istirahat. Kakek tak pernah berhenti menanyakan kabarku, menanyakan kesehatan dan sebagainya. Ingin menangis. Aku seperti telah menjebak diriku sendiri. Aku kesepian, lelah dan jenuh. Pacarku satu-satunya harus pindah ke makasar dan tak mudah menumbuhkan rasa untuk wanita lain. Saat-saat itu benar-benar berat.

Kuputuskan untuk berhenti bekerja dan mulai menyibukkan diri dengan dunia kampus. Organisasi dan Kuliah menjadi kesibukanku. Sahabat-sahabatku telah hanyut dalam kehidupan masing-masing, kami hanya bertemu sekali duakali, itupun tak pernah lengkap, dan selalu ada silang pendapat, terutama aku yang mudah marah. Hari-hari berikutnya aku mulai sadar akan satu hal, Hal-hal seru tak seharunya mengalahkan hal-hal penting dalam hidupku. Selama ini aku terlalu memprioritaskan hal-hal seru daripada hal-hal penting. Bahkan aku sering mengabaikan hal-hal yang penting untuk masa depanku. Bersama sahabat tak kan ada habisnya hal-hal seru itu, dan semua itu membuatku mengabaikan hal-hal penting dalam hidupku. Aku sadar bahwa hidup terus berjalan dan setiap waktu tak akan pernah sama. Rintangan dan tantangan akan datang dengan level yang semakin meingkat. Lalu aku mulai menanamkan dalam diriku untuk serius dan memiliki prioritas!

Kuputuskan prioritasku adalah keluargaku. Apa yang menjadi keinginan mereka itulah prioritasku.

Awal 2010, aku terpilih menjadi pemimpin organisasi di universitas. Sebuah tanggung jawab yang berat. Yang tak seharusnya ada dipundakku. Karena saat itu pagi hari aku bekerja Part time di sebuah warnet, siang harus kuliah, malam sudah pasti untuk tugas kampus dan istirahat. Lalu kapan ke organisasi? Aku sering mencuri-curi kesempatan dan bolos kuliah untuk menghandle kegiatan dan hanya untuk memimpin sebuah rapat. Semakin lama semakin jauh ketertinggalanku di kampus, organisasi mulai membuatku mengabaikan tugas-tugas kuliah. Tuntutan teman-teman agar aku selalu ada sebagai ketua membuatku stress. Bidang-bidang yang ada dibawahku tak pernah berjalan sesuai fungsinya dan itu kembali menjadi tanggung jawabku sebagai ketua. Saat-saat yang memusingkan itu datang, tugas di kampus semakin menggunung, sementara di organisasi aku harus membuat segala macam hal, menyiapkan berbagai macam program kerja, belum lagi suasana di tempat kerja yang semakin hari semakin membuatku tak nyaman. aku membuat permohonan mengundurkan diri ditempat kerja tapi ditolak oleh atasanku dengan alasan belum ada pengganti.

Empat bulan masa kerja sebagai pemimpin organisasi, aku telah berhasil menjalankan 3 program kerja sesuai time schedule dan itu berati aku harus mengadakan evaluasi 4 bulan kepengurusanku. Pontang-panting aku mengurusi semuanya, sendiri..hanya sendir karena bidang-bidang dibawahku tak pernah kutemukan lagi, hanya sesekali datang dan hanya membuat otak tambah runyam. Saat-saat sesibuk itu, vertigoku kambuh, aku tepar dan membuat orang tuaku mencabut semua izin untuk organisasi. Aku tetap melaksanakan rapat evaluasi empat bulan dan itu berati aku harus siap menerima kritik-kritik sepadas cabe rawit dan sepahit empedu dari rekan-renaku sendiri. Dan aku hanya sendiri. Sekretaris yang seharunya ada bersamaku seperti lupa pada tanggung jawabnya. Bidang-bidang yang urgen hanya bisa bicara tanpa ada usaha real menjalankan program kerja dan mereka semua menyalahkanku. Menudingku, mencerca, dan mencari kesalahanku. Dari sini aku mengerti satu hal, bahwa manusia memang benar-benar srigala bagi manusia lainnya.. Saat aku melakukan hal-hal baik hanya sesaat mereka mengingatnya dan dilupakan saat itu juga, tapi saat aku melakukan sedikit kesalahan bahkan sampai aku teparpun mereka masih ingin menuntut!

Ditengah-tengah hiruk pikuk kritikan pedas itu aku angkat bicara, ku jelaska apa yang membuat semua hal-hal yang mereka anggap salah itu terjadi, ku jelaskan betapa aku pusing dengan semua ini. Meledak-ledak aku bicara sampai atak ada lagi kudengar kata-kata dari mereka. Rapat brekahir dengan keputusan merevisi lagi bidang-bidang kepengurusan. Aku pulang dengan kepala berat dan menemui diriku dalam keadaan yang sangat-sangat depresi. Asal kau tahu kawan, ketua dipilih berdasarkan suara terbanyak dan tak perlu ada persetujuan dari orang yang terpilih. Apakah menurut kalian aku sial karena telah terpilih?

Sekarang, tekadku bulat! aku akan memperbaiki semua kesalahan-kesalahanku. Aku hanya ingin fokus pada kuliah. Tak ada lagi ketua organisasi. Otakku telah terlalu capek dengan segala macam plitik-politik dan tuntutan. Aku ingin manjadi manusia yang bebas kembali. Aku ingin berkarya untuk organisasi seperti dulu waktu aku hanya anggota biasa.

Aku lebih bisa berkarya sebagai orang biasa daripada sebagai ketua. Jadi, mengikuti perintah orang tuaku dan hatiku. Aku mundur sebagai ketua. Terlalu banyak aku telah membantah orang tuaku. Ini saatnya aku perbaiki semua kesalahan-kesalahan. Semua yang telah kulalui akan ku jadikan pelajaran berharga dalam hidupku. Pengalaman yang berharga.

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community