Jul 6, 2010

Sayang Yang di Sayangkan

Ternyata jauh lebih banyak manfaatnya tidak di manja oleh orang tua dari pada di manja dan dituruti segala maunya.

Kadang, saat seorang anak dibiarkan melakukan hal-hal sendiri atau memecahkan masalahnya sendiri si anak berpikir bahwa orang tuanya tak menyayanginya. Padahal sebenarnya bukan seperti itu. Justru orang tu seperti itulah yang sangat memperatikan masa depan anaknya. Orang tua semacam itu adalah orang tua yang mempunya pandangan jauh kedepan. Tentang masa depan anaknya, tentang watak dan karakter anaknya kelak.

Aku punya saudara sepupu yang kebetulan adalah anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, dan karena dia adalah anak terakhir dalam keluarga dia menjadi sangat-sangat istimewa bagi kedua orang tuanya. Apapun yang dia kehendaki harus ada saat itu juga. Dan orang tuanyapun selalu berusaha agar anaknya tak kecewa. Si anak tunggal ini mulai tumbuh dewasa dan berkarakter sangat keras kepala. Wajar karena kebiasaan semua kemauannya dituruti sejak kecil. Minta motor, beberapa hari kemudian motor datang, minta PS sorennya PS2 langsung ada dirumahnya. Begitulah. Orang tuanya tak pernah berpikir panjang atas semua itu. Aku membayangkan orang tuanya seperti pelayan raja yang harus buru-buru menyiapkan segala keperluan raja dengan sesempurna mungkin. Begitulah.

Mulailah si anak kuliah dan ngekost, si ibu semakin menunjukkan kasih sayangnya yang unlimited pada si anak, kalau aku dapat kiriman jatah makanan dan duit sebulan sekali, maka dia hampir setiap minggu mendapat paketan makanan seperti ikan goreng, ayam goreng, kue-kue dan sudah pasti uang. Meski suda begitu ada saja yang akan di komplain oleh si anak. Misalnya, “ck..kenapa sih ikannya yang besar? Aku kan sukanya yang kecil?” atau “Sudah berapa kali saya bilang saya gak suka dikirimin ikan mentah” atau “saya mau ganti hape, mana cukup 500rb??” huuff…

Yah..tapi sikap anak yg seperti itu aku jadi sangat-sangat bersyukur orang tuaku tak pernah memanjakanku seeperti itu. Orang tuaku yang sederhana selalu memotivasiku untuk selalu berusaha dan bersabar dalam hidup, bukan mengandalkan orang tua dan orang lain. Orang tuanya yang sederhana selalu mengingatkan bahwa ada suatu masa dalam perjalanan hidup kita akan kehilangan orang-orang yang kita sayangi, akan merasakan kesulitan-kesulitan hidup yang jika tak kita siapkan dari sekarang dengan belajar mandiri maka kita akan termasuk orang-orang yang kalah dan menyesal.

Jika dulu aku sering berpikir bahwa orang tuaku pasti tak pernah memperhatikanku hanya karena jarang menelponku (setelah semester 4 keatas), Tak mengijinkanku membawa motor sendiri, dan lain-lain. Kadang aku marah walaupun tak pernah langsung protes ke orang tuaku,.. sekarang aku mengerti, mereka ingin aku kuat, kelak saat mereka tak lagi kuat menumpuhkan kaki di bumi, saat mereka hanya bisa tersenyum melihat anak-anaknya sukses. Sekarang aku mengerti tak selamanya orang tua yang membiarkan anaknnya mandiri itu ‘kejam’ seperti kata misanku tapi sebaliknya.

Maka dari itu, buat para orang tua-orang tua dan calon orang tua termasuk saya, jadilah orang tua yang bijak, orang tua yang tak kalah dan lemah oleh cinta pada anaknya. Menuuruti semua kemauan anak itu bukan bentuk cinta yang baik buat perkemabangan dan mental anak apalagi masa depannya. Didiklah anak agar kuat dan gak lemah menghadapi dunia, supaya gak cengeng ketika masalah datang.

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community