Aug 11, 2010

Beguba, The Sweet Memories

Di Kampungku, dan beberapa kampung lainnya di Sumbawa, ada kebiasaan unik anak-anak kecilnya di bulan Ramadhan. selain Gendang Sahur tentunya. Kebiasaan itu adalah "Beguba", yaitu menabuh bedug selepas sholat ashar. entah sejak kapan adanya tradisi ini. yang jelas ini tradisi yang sangat disukai anak-anak dan orang tua.

Kenapa orang tua? begini kawan, anak-anak yang Beguba itu boleh umur berapa saja dan ini bukan sebuah keharusan atau hal yang serius. ini seperti permainan saja bagi anak-anak sambil menunggu waktu magrib. Bedug yang ditabuh tempatnya di teras masjid. Maka lihatlah, setiap sore mesjid kampungku ramai oleh anak-anak yang begiliran menabuh bedug, yang tidak kebagian menabuh bermain bersama teman-temannya, lari-larian, bola bekel dan sebagainya. (ini salah satu hal yang kurindukan dikampungku). Menjelang Ashar atau magrib, anak-anak kecil yang sedang belajar berpuasa itu biasanya sedang benar-benar merasa lapar. -Karena aku juga pernah merasakannya kawan-. :) dan orang tua harus pintar-pintar merayu dan menghibur si anak agar bertahan hingga magrib menjelang. Nah, orang tua dikmpungku biasanya akan mengajak anaknya ke mesjid dan menyuruhnya bermain bersama teman-temannya. Si anak sudah pasti akan senang dan lupa akan perutnya yang lapar karena keasikan bermain.

Aku jadi teiringat kisah kecilku dulu, kira-kira kelas 4 SD. Waktu itu Adzan Ashar berkumandang, aku mulai merengek minta berbuka pada bapakku. Bapak dengan sabar menenangkanku, mengiming-imingiku dengan berbagai macam janji, ibu tak kalah gesitnya menjanjikanku Baju baru dan Gelas Batman favoritku akan dibeli satu lagi. tapi semua itu tetap saja tak mampu menggodaku untuk berhenti merintih ingin membatalkan puasa. Lalu ayah menggendongku, ayah bilang "ayo kita liat orang Begubah" meski meringis ayah tetap saja menggendongku ke Mesjid dan setiba disana, melihat ramainya teman-teman seusiaku bermain aku sedikit tenang dan mulai lupa akan rengekanku tadi. Ayah mengajakku ke Bedug memintaku memul-mukul bedug dengan pemukulnya yang tak begitu berat. Aku menyukainya. aku minta turun dari gendongan ayah. tak berapa lama aku telah benar-benar lupa pertuku yang lapar (padahal tidak begitu lapar sebenarnya). Magrib tiba aku berlari pulang bersama teman-temanku dan bercerita tentang Begubah pada ibu. Ayah ibuku tersenyum.

Esoknya, Ba'da Ashar aku pergi ke Mesjid lagi. kali ini tanpa perlu diantar ayah lagi. Tapi rupanya aku kalah telat dari Opik, dia sudah lebih dulu mengambil pemukul bedug itu. entah dapat pikiran dari mana. aku kembali lagi kerumah, mengendap-endap di dapur, mencari Ulekan ibu, begitu ketemu aku langsung kabur dan menuju mesjid. Jadilah aku Beguba dengan Ulekan ibu yang terbuat dari kayu. Meski aku tak puas dengan suara bedug yang dihasilkan Ulekan itu. tapi hari itu aku menuntaskan juga puasaku sehari full, senang bukan kepalang rasanya, puasa sehari full untuk pertama kali.

Dengan wajah polos aku mengembalikan Ulekan itu pada ibu. Mata ibu terbelalak. Seperti menemukan benda bertuah yang telah dicarinya berabad-abad lamanya.

"Astagfirullah..Ulekan kok ada di kamu anak..?" tanya ibu

"Kan tadi pake Begubah,Bu.." jawabku tanpa rasa bersalah dan dengan polosnya. Bangga pula!

"Ck.ckk.ckk ya sudah, ayo kita berbuka" Jelas sekali kulihat ekspreasi ibu yang antara ingin ketawa dan kesal, karena kemudian ku tahu ibu dengan sangat terpaksa dan malu meminjam ulekan tetangga.

I'm Sorry Mom.
Comments
2 Comments

2 comments:

  1. hihihihi..
    lucu kali lah mas ni

    ReplyDelete
  2. ya bagubah salah satu tradisi yang sangat menyenangkan utk anak-anak kecil.saya tdk tahu apakah sekarang setiap mesjid di sumbawa masih ada yg begubah?waktu saya masih kecil begubah adalah satu kegiatan pavorit utk menunggu waktu buka puasa tiba

    ReplyDelete

Berkicau

Community