Aug 6, 2010

Gendang Sahur dan Ramadhan Tanpa Nenek

Aku belum bisa menerka atau tepatnya berani menerka seperti apa suasana malam Ramadhanku tahun ini di rumah. Jiwa yang menghidupkan suasana ramadhan itu telah tiada. Salah satu wanita terindah dalam hidupku telah memenuhi panggilan Rabb-nya. Ramadhan tanpa nenek, betapa akan terasa sepi dan sebuah kebiasaan dimalam-malam ramadhan kini bersarang dengan indah dalam benakku, kakekku dan adikku.

Jika mendengar atau menyebut kata ramadhan, maka secara spontan aku teringat dan terbawa pada malam-malam dimana aku boleh pulang larut malam karena tadarus dan nongkrong dimasjid dengan teman-temanku. Lalu kemudian dengan setia Nenek menungguku pulang dan membukakan pintu untukku. Karena jangan harap kakek akan mau membukakan pintu jika aku pulang lewat jam 11 malam. Baru setelah aku benar-benar berada di rumah, nenek memulai tidur singkatnya karena tak berselang lama beliau akan bangun lagi untuk menyiapkan menu sahur untukku, Kakek dan Adikku Elis. Akulah orang pertama yang akan beliau bangunkan entah karena aku selalu tidur di depan televise atau karena aku teman bertukar cerita yang baik. Entahlah. Tapi ku pikir nenek membangunkanku lebih awal dari kakek dan adikku karena aku paling malas bangun dan harus dibangunkan dari awal agar tak ketinggalan sahur karena membangunkanku jam segitu tak jauh beda dengan membangunkan mayat , itu kata kakekku. Maka jadilah aku berdua dengan nenek yang menjadi penyaji menu sahur disetiap malam-malam Ramadhan jika aku sedang di rumah.

Lain lagi saat aku masih duduk dibangku SD. Tanpa dibangunkan aku sudah terlebih dulu bangun dan duduk di teras rumah Panggung kebanggaan kami. Aku duduk dengan perasaan yang aneh, tak sabar dan penuh suka cita. Nun jauh disana, menembus kesunyian dini hari suara bedug dan tetabuhan lain mulai terdengar membelah kegelapan. Lalu dari pengeras suara mesjid melantunlah ayat-ayat suci Al Qur’an menyaingi suara tetabuhan itu. Semakin lama suara tetabuhan semakin dekat dan aku semakin di selimuti sensasi yang luar biasa, seperti seorang buta bertahun-tahun yang akan segera bisa melihat dan tak sabar menunggu tangan dokter membuka perban matanya. Begitulah kira-kira gelora dalam hatiku menunggu anak-anak muda kampungku lewat di depan rumah dengan tetabuhannya untuk membangunkan warga untuk sahur. Tapi dari suaranya rombongan itu masih jauh. Aku sudah senyum-senyum sendiri seperti orang udik yang pertama kali melihat kemegahan kota. Tak lama kemudian muncullah rombongan penabuh “Gendang Sahur” itu. Aku meloncat-loncat kegirangan sendiri di teras rumah sambil bertepuk tangan, bahkan mereka yang lewat tak menoleh sedikitpun padaku. Tapi bisa menyaksikan Rombongan Gendang Sahur lewat adalah keajaiban dimasa kecilku. Bagiku mereka adalah entertainment yang penuh kebaikan. Penuh pahala. Mereka dengan suka rela merelakan waktu tidurnya untuk membangunkan ibu-ibu kampungku untuk menyiapkan menu sahur dikeluarga masing-masing. Mereka rombongan yang kreatif. Ember, Galon, Panci, Botol Limun, Besi-besi sepeda rusak, dan kentongan yang mereka jadikan alat music yang menjadi irama yang abadi dalam ingatanku. Mereka berlalu dan aku tak bisa mengendalikan senyumku. Aku duduk sejenak dengan senyum yang masih mereka. Tepat di depanku, di ufuk timur kerlip venus seolah menemaniku menyaksikan Gnedang Sahur dini hari ini. Aku membalas senyumnya dengan tulus dalam hati aku berucap aku tak akan melupakan malam-malam Ramadhan yang membuatku selalu tersenyum ini.

Gendang Sahur telah berlalu, aku berlari masuk lagi rumah. Menuju dapur dengan tak sabar menceritakan apa yang kulihat, siapa yang ada dalam rombongan Gendang Sahur, dan kenginanku untuk ikut mereka keliling kampung membangunkan orang-orang untuk sahur. Lalu nenek akan melarangku dengan lembut karena aku masih kecil, buktinya tak ada anak kecil yang kulihat dalam rombongan itu. Aku mengangguk. Dalam hati aku berharap pada Tuhan semoga besok malam aku sudah besar.
Tak putus-putus aku berceloteh disamping nenek yang sedang memasak. Kuceritakan tentang rencanaku puasa full hari itu. Kutanyakan apakah kentut membatalkan puasa? Karena disekolah si Rahmat bilang Kentut bisa membatalkan puasa. Nenek tersenyum. Aku juga bercerita kalo tamat SD nanti aku ingin sekolah di Pesantren di Lombok seperti Kak Neneng. Nenek selalu menyimak dan menjawab semua cerita dan pertanyaanku. Sampai akhirnya nenek menyuruhku membangunkan kakek dan adikku karena Menu Sahur kami sudah siap. Begitulah.. Malam-malam Ramadhan selalu terasa hidup.

Sekarang, beberapa hari lagi Ramadhan tiba, tapi nenek sudah tenang bersama Tuhannya. Malam-malam ramadhanku akan terasa sepi dan haru.

Aku Tak ubahnya kakekku.
Aku. Pulang kerumah di pintu berucap salam masuk dapur dan dengan spontan memanggil Nenek. Lalu aku terdiam sendiri. Bibi berdehem dari dalam kamarnya. Aku selalu merasa nenek masih ada. Lalu Lihatlah kakekku, pulang dari kebun. Menaruh handuk di gantungan pakaian, mulai berjalan ke dapur dan dengarlah dengan lembut kakek akan berkata:

“Awi, kapuli balong bua punti pang keban ana pe..” (artinya: Awi –nama panggilan nenekku- Bagus-bagus benar buah pisang dikebun..).

Lalu suasana hening. Kakek terdiam lalu seperti memarahi lidahnya sendiri. Bibi berdehem dari dalam kamarnya. Dan aku susah payah menahan haru.
Comments
2 Comments

2 comments:

  1. semoga bisa menjalani Ramdhan dengan khusuk ya ..
    walaupun tanpa orang yang kita sayangi ..
    tetap semangat ...!

    ReplyDelete

Berkicau

Community