Aug 3, 2010

Renungan Magrib

Waktu terus saja bergulir. Detik,menit, Jam, Hari, Minggu, BUlan Tahun berlalu begitu cepat. Waktu terus memangkas detik-detik demi detik umurku. Sementara dosa-dosaku terus saja bertambah, terus bertambah seiring hilang-hilangnya detik-detik dalam hidupku. Aku sadar hal itu namun begitu kuat jerat dunia ini. Selalu saja ada cara membelokkan pada kejahatan.

Magrib ini aku berpikir. Bagaimana jika saat aku sedang bersimbah dosa ini, Malaikat maut menjemputku? Dia hadir dalam hening, berdiri di belakangku tanpa ku sadari. Aku berbalik dengan mata terbelalak saat mengenali siapa tamuku itu. Tamu terakhir datang dalam hidupku. Tamu yang akan membawaku serta bersamanya dan tak akan pernah kembali lagi. Saat-saat mencekam itu. Aku memohon belas maaf dan kesempatan padanya. Sehari lagi agar aku bias menemui orang tuaku dan memohon maaf atas atas tumpukan dosa yang telah kuperbuat padanya, atas kebohongongan-kebohonganku pada mereka, dan atas perkataan-perkataan yang seperti sembilu melukai mereka. Tentu saja Izrail menolak. Lalu aku meminta satu jam saja untuk menemui sahabat dan teman-temanku untuk meminta maaf terakhir kalinya. Teman-teman yang selalu salah dimataku.

Tak kuingkari hatiku tak bersih. Aku tak bisa menghindar dari rasa iri dan cemburu yang berujung pada kebencian yang sebenarnya tak beralasan dan tak perlu ada. Aku ingin memohon maaf agar dosaku berkurang sebelum kematianku. Izrail menggeleng pelan dengan sorot mata tegas mengatakan Tidak! Atau satu menit saja Ya Izrail.. Ijinkan aku menelpon atau mengirim sms ke semua nama di handphoneku, paling tidak sebelum kematianku aku ingin meminta maaf dan mengucapkan salam perpisahan pada semuanya. Aku manusia biasa yang tak pernah bisa bebas dari kesalahan. Entah sudah berapa banyak orang yang sakit hati karena perkataanku, karena perbuatan dan tingkah lakuku. Oh Izrail.. Semenit saja. Dan Izrail Menggeleng tegas dan mungkin akan berkata.

“Begitu banyak Ayat Tuhanmu yang mengingatkanmu akan saat-saat kematianmu. Mengingatkanmu untuk selalu waspada pada kematian. Sudah berapa Ulama yang kau dengar mengingatkanmu bahwa kematian harus dipersiapkan karena tak satu makhlukpun tau kapan datangnya saat itu. Tapi kamu selalu lalai. Seolah-seolah kau akan hidup selamanya. Kau abaikan petuah orang tuamu, tak kau dengar nasehat sahabatmu, kau buang begitu saja ajaran guru agamamu. Sementara dosa terus kau perbuat. Lalu sekarang saat aku harus mencabut nyawamu, kau memohon,memelas dan menghiba untuk kuberikan kesempatan padahal telah begitu banyak kesempatan yang diberikan Tuhanmu. Tak ada lagi waktu untukmu, tak adalagi tawar menawar”

Oh betapa mengerikan saat-saat itu. Saat tak ada lagi orang yang mampu menyelamatkan kita. Semua orang hanya bisa pasrah, menangis dan bersedih atas kepergianku.. bahkan orang yang mengaku mencintaikupun tak akan mampu berbuat apa-apa. Itulah kematian…

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community