Oct 30, 2010

E.M.O.S.I


Ada saat-saat dimana aku harus "mengasah" emosiku. Empati pada rasa yang sedang kurasakan sendiri. Bukan cengeng, tapi sekali-kali itu perlu menurutku. Untuk mengasah hati agar lebih bisa merasakan fitrahnya. Fitrahnya sebagai bagian inti hidup manusia yang menentukan apa yang akan kita perbuat dalam hidup. Cuekkah pada sekitar atau empati.

Dalam hening malam, mari menyambangi kembali lika-liku hidup yang terlewati yang sudah pasti pernah melewati dua hal: senang dan sedih. Manusia manapun tak akan luput dari dua hal itu karena itu sudah menjadi hal yang wajib ada dalam hidup. Kemudian yang ingin ku tulis disini adalah seperti apakah kita menghadapi dua hal itu?

Ada saat-saat dimana mimpi tak tercapai, keinginan tak terwujud, kepercayaan yang ternodai, janji yang diingkari. Bagian dari diri kita yang akan menanggung semua itu adalah hati. Luluh lantak saat cinta tulus kita dikhianati pasangan, seperti hancur saat sahabat tak berlaku seperti layaknya sahabat. Saat itulah kita merasakan kesedihan, keterpurukan dan tersudut. Untuk hal ini ada beberapa hal yang biasanya dilakukan orang. Pertama, mereka akan mengahayati dengan sepenuh hati kesedihan itu maksudnya mereka akan benar-benar mengekspresikan kesedihan itu dengan menangis atau bahkan ada yang dengan meluapkan amarah pada sekitarnya. Kedua, Menahan sebisa mungkin kesedihan itu dengan alasan sebagai pembuktian diri bahwa dia bukan manusia yang lemah, bahwa dia bisa tegar dalam mengadapi kesedihannya. bahkan dia tak akan berbagi kesedihannya dengan orang lain. Ketiga, Orang yang ketika sedih ia akan menangis sebagai simbol kekecewaannya pada hal yang membuatnya sedih, menangis sepuasnya dan memilih untuk berbagi cerita pada orang lain dan biasanya kesedihan yang di ekspresikan seperti ini adalah kesedihan yang akan penuh hikmah.




Kenapa demikian? Menurutku, kesedihan adalah salah satu cara tuhan untuk memberikan kita beberapa hal indah dalam hidup. Pertama, saat sedih (misalnya di tinggalkan oleh seorang kekasih yang berkhianat) kita telah disadarkan akan satu hal. Ternyata si kekasih bukanlah yang terbaik baginya, si kekasih telah menunjukkan siapa dirinya. Kedua, Kesedihan adalah penyetu antara dua hati yang paling ampuh. Lihatlah saat seseorang sedih dia akan menangis untuk mengungkapkan kesedihannya selanjutnya sesuai firahnya sebagai makhluk sosial dia akan berbagi dengan seorang kawan tentang segala rasa sakit yang ia rasakan. Tak bisa diragukan lagi kedekatan dua kawan yang saling mendengarkan dalam kesediha itu,kawan... kedektan yang lahir adalah kedekatan dari hati. Bukan kedekatan biasa. Kesedihan atau duka juga alarm bagi manusia untuk selalu sadar bahwa tak ada yang kekal di dunia fana ini. siapapun, apapun dan kapanpun semua akan pergi meningalkan kita. Saat sedih itulah kita dijarakan untuk ikhlas dan berlapang dada menerima segala kenyataan yang memang tak akan bisa kita ubah. itulah takdir Tuhan yang tak bisa di cegah. Maka saat sedih pelan-pelan hati menjadi ikhlas dan kuat untuk menerima takdir-takdir sedih berikutnya yang sudah pasti akan menghampiri. Begitulah kesedihan kawan..

Malam ini, aku ingin memanjakan emosiku. Menuruti kemana ia ingin berpetualang. Aku akan mengirinya dengan nada-nada yang dulu pernah menjadi teman setiap moment. Hanya desahan nafas yang terasa sesak yang mampu menggambarkan betapa nikmatnya sebuah rindu. Rindu pada masa-masa indah dan masa-masa penuh semangat yang polos. Senyumpun mengembang dengan sendirinya saat moment-moment kocak penuh keluguan mampir di benak.. kembali aku menarik nafas yang penuh emosi. Ahhh betapa indah hidupku sebenarnya. Betapa banyak hal yang bisa aku syukuri daripada hal yang selalu aku keluhkan.

Tuhan, jagalah hatiku yang merupakan aset terbaikku dalam hidup. Jagalah setiap ia sedih.. saat ia mekar seperti rekah mawar dipagi hari. Agar tak ada kotoran yang menghampirinya. karena aku sangat tahu dan yakin, Kau-lah penguasa hatiku... Karena aku tahu Kau-lah Cintaku....
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community