Oct 29, 2010

Sahabat sang Penguat Jiwa

Seperti biasa, tidak bisa tidur lebih awal. Pikiran melang-lang buana.


Dua hari lalu aku kembali mengunjungi Fuji sahabatku yang seminggu lalu adiknya meninggal akibat kecelakaan motor jam 6 pagi sewaktu si adik hendak ke Mataram dari Rumahnya di Tanjung Ringgit Lombok timur. Kali ini aku kesana untuk memenuhi undangannya. Undangan Tahlilan 9 hari adiknya meninggal. Dari sekian banyak sahabatku, Fujil-ah yang banyak mengajarku tentang sabar dan ikhlas. Aku sering mendengarkan cerita-ceritanya tentang masa kecilnya yang harus ikut melaut bersama sang ayah hingga berhari-hari berada di tengah samudra. Tentang kehidupan kampung nelayannya yang sangat indah namun masyarakat yang tak bisa mensyukuri keindahan itu dan tentang beban hidupnya yang semakin membuatnya begitu terbebani. Tapi bukan Fuhi namanya jika menyerah. Jiwa Fuji adalah hasil tempaan alam, pahitnya hidup sudah ia kecap sejak belia. Maka saat ia bercerita tentang masalah-masalahnya yang sangat berat dan rumit, aku mengijinkannya untuk menangis dihadapanku. Ku biarkan dia mengeluarkan segala unek-unek yang memenuhi kepalanya.

Fuji adalah anak ke 4 dari 6 bersaudara. kakak-kakaknya sudah menikah dan mengikuti suami masing-masing. maka tinggallah Fuji dan dua adikknya. Ayahnya hanya nelayan biasa yang mulai tua dan sakit-sakitan. Tapi semangat untuk membiayai pendidikan anaknya tak pernah surut meski waktu mulai meremah raganya.

Adalah Muhammad Nasoha adik kandung Fuji yang tahun ini mulai kuliah. Nasuha sebenarnya lebih memilih bekerja di laut daripada kuliah. Bukn karena tak mau mendapat pendidikan yang lebih baik melainkan karena mengerti akan situasi keuangan keluarganya yang bahkan untuk memperbaiki rumahpun tak bisa. Fuji bercerita tentang kerja kerasnya membiayai kuliahnya sendiri dengan mencoba membudidayakan rumput laut di pantai dekat rumahnya. Proposal disebar ke bermacam-macam instansi. Alhamdulillah menuai hasil. Namun sayang Rumput lautnya sering gagal panen karena ia tak bisa selalu ada di pantai karena kuliah. Lalu sekarang Nasuha mulai kuliah, tentu saja beban bertambah dan harus ekstra kerja keras, Lalu Fuji mulai berjualan Es Rumput Laut di lingkungan kampus, usahanya mulai lancar dan untuk sementara Fuji optimis bisa membiayai kuliah sang adik tersayang. Lalu musibah itupun datang.

Pagi itu (lupa harinya), Nasuha berangkat dari rumahnya ke Mataram selepas sholat Subuh untuk mengejar agar tak telat masuk kuliah. Jarak dari rumanya ke mataram 1 jam lebih. Dengan berkendara motor, Nas berangkat dan tepat setengah perjalanan maut menjemputnya. Sebuah truk berhenti mendadak di depannya. Ia tak bisa mengendalikan laju motor yang ia pacu dengan kencang. Ia pun manabrak truk itu dan tewas seketika bersimbah darah di bagian kepala. Betapa tak terhingga sedihnya Fuji. Kami sahabatnyapun merasakan kesedihan yang sama. Nas adalah calon anggota baru Pramuka dikampusku. dan hari itu Nas berencana akan membantu kakaknya berjualan sampai sore. tapi takdir berkata lain..

Yah,.. semua sudah di atur oleh Allah. di balik semua ini ada rencana Allah yang lebih indah. tugas kita sebagai manusia hanya berdoa, ikhtiar dan ikhlas. Semua yang hidup akan kembali kepada Tuhannya, cuma kita tak pernah tahu kapan saatnya. Banyak hal yang ingin ku tulisa tentang Fuji. Tentang kampungnya, keluarganya, perjuangannya tentu saja. aku berjanji suatu saat aku akan selesaikan sebuah tulisan untuk sahabatku itu.

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community