Nov 30, 2010

Catatan Pendakian pertamaku ke Gunung Rinjani

Kawan, aku pernah mendaki G.Rinjani. dan itu adalah pengalaman terhebat dalam hidupku saat itu. Tulisan ini adalah tulisan Tahun 2009 silam. aku bercerita dengan luguh saat itu hehehe..

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Apapun yang aku dapatkan, sudah sepatutnya aku bersykur. Apalagi jika mimpiku yang terwujud. Sungguh tak ada lagi alasan untuk tak mensyukuri dan memuji kebesaran-Nya.

Akhirnya mimpi kecil itu terwujud tanggal 01 Agustus 2009 kemarin. Meski harus berdesak-desakan dengan barang-barang penumpang di atap sebuah angkutan pedesaan itu, aku tiba juga di Bayan. Tempat yang akan menjadi garis Star menuju puncak tertinggi di Pulau ini. Rinjani. Mual tak ku pedulikan lagi di atap engkel reot dan bau itu. Ku biarkan angin dingin pegunungan Pusuk dan Tanjung menerpa wajahku yang pias. Ah sore itu adalah awal petualangan yang ku impikan sejak kecil. Mendaki Rinjani.

Magrib hampir lewat. Engkel berhenti di depan Rumah pak Yamin, kepala SMAN 1 Bayan yang ternyata tema nya Ahwan,sahabatku. Ku tunaikan kewajiban sholat magrib berjamaah di Berugaq (shelter) di halaman rumah Pak Yamin yang penuh Bonsai unik itu. Sebetulnya bukan rumah pak Yamin tujuan kami. Tapi karena Engkel Cuma bisa mengantar sampai disitu, dengan terpaksa kami harus setuju karena itulah engkel terakhir petang itu. Tujuan kami adalah Kecamatan Bayan, rumahnya Ahwan. Disana sudah menuggu Rahmat, yuni dan Swardi. Mereka jalan lebih awal dari kami dan pakai motor pula. Menjelang Isya, Rahmat dan Swardi datang menjemput kami.



2 Agustus 2009.Pendajian dimulai. Semua telah kusiapkan dan ku packing dengan teliti sesuai cara packing yang di ajarkan waktu aku diklat Pramuka 2006 lalu. Pukul 8.30 pagi kami ber-enam Aku, Ahwan, Swardi, Erwin, Asri, Yuni dan Emi memulai petualangan menuju puncak ini. Dengan perasaan yang tak bisa ku jelaskan –antara senang dan ded-degan- aku mengucapkan Basmalah di gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai pembuka langkahku. Medan awal tak begitu menarik dan menantang karena kami melewati kebun-kebun warga dan ladang lalu satu jam kemudian kami tiba di Jebag Gawah (
bhsa Sasak; Pintu Hutan) yang menjadi tempat istirahat pertama bagi para pendaki. Dan hari itu sedang ramai sekali pendaki dan turis asing yang mendaki. Tak lama, kami menaljutkan perjalanan kami menuju Post I yang berada di ketinggian 1.165 meter dpl dan sejauh ini, perjalanan menyenangkan, sepanjang jalan tak henti-henti kami bercanda dan bercengkrama tentang berbagai macam hal. Tak terasa kami tiba di Post Extra namanya,tepat jam 1 siang. Disinilah aku menerapkan Tayamum yang ku pelajari waktu zaman SD dulu karena sudah tak ada sumber air lagi di ketinggian itu. Sebelum jalan aku sempatkan buang air kecil, lagi-lagi aku menerapkan pelajaran agama Islam SD-ku tentang bersuci tanpa air. Ternyata untuk bisa kita memang harus mencoba dan mengalaminya kawan. Begitulah tentang Tayamum dan bersuci itu, jika tak ku alami keadaan yang seperti ini mungkin aku tak akan ingat lagi tata caranya.

Mulai lelah, dua jam lebih pendakian kami barulah kami tiba di post II, teman-teman cewekku mulai mengeluh pegal di bagian kakinya. Akupun demikian tapi aku tak boleh mengeluh batinku. Aku harus kuat. Ku teguk dengan sangat hati-hati air di botol minumanku. Tahukan kawan, di Post II dan selanjutnya jangan harap bisa menemukan sumber air lagi. Karena sekarang aku berada di ketinggian 2ribuan meter di atas permukaan laut. Kalopun ada kamu harus turun jauuh ke lereng bukit untuk mengambil air yang tak jarang kotor. Karena itu sebisa mungkin ku tahan dahagaku. Untunglah di sepanjang jalan banyak ku temui tumbuhan Roseberry yang ranum dan lumayan untuk mengganjal perut dan dahaga dengan rasanya yang asem manis. Meski di dalam carierku masih ada 1 botol air mineral itu adalah untuk beka turun gunung lusanya. Memang dahaga kadang merupakan godaan terberat untuk menghabiskan bekal air. Tapi jika tak ingin kehausan saat pulang keesokan harinya, bersabarlah untuk minum seperlunya atau sekedar membasahi tenggorokan saja.

Dalam pekat malam berkabut, Post III mulai nampak. Dua atap shelter terlihat jelas ditengah gelap karena cat-nya yang berwarna terang.dengan susah payah akhirnya kami tiba di sana. Istirahat sebantar lalu mulai begerak membangun tenda dan menyiapkan makan malam. Dan disini aku menemukan sebuah pelajar penting. Ada bermacam-macam karakter orang di dunia ini. Jika kau ingin tahu bagaimana karakter atau sifat temanmu, maka ajaklah dia mendaki untuk beberapa malam, maka akan nampaklah siapa dia sebenarnya. Benar saja, di Post III mulai kelihatan seperti apa sifat aslinya teman-temanku. Dan sifatku sendiri tentunya.

Menurut Ahwan, akulah yang paling terlihat egois tapi aku juga semangat dan bertanggng jawab katanya lagi. Lalu Asri adalah anak yang manja, terbukti setiap perjalanan keluhan hampir tak berhenti tapi itu hanya sampai post II, karena setelah itu dia menjadi anak yang kuat dan bersemangat. Ia sadari sifat jeleknya dan berusaha mengubahnya. Emi, diam tapi bijak dalam menentukan apa saja. Penuh pertimbangan dan care pada semua teman. Yuni, palinh lemah dan manja, isi ranselnya semua di hibahkan ke swardi, hingga ransel yang menempek di punggungnya itu hampir kosong. Tapi masih saja dia yang paling belakang dan mengeluh dengan kata-kata dramtisnya. Ahwan, ketua rombongan kami yang ternyata punya sedikit sifat angkuh, wajar menurutku karena dia sudah berkali-kali mendaki Rinjani, wajar kalau dia jengkel dengan keluhan-keluhan yang kadang tak sadar keluar dari mulut kami. Swardi, sosok laki-laki yang bertanggung jawab memang kelihatan dari raut wajahnya, tapi ternyata ego-nya juga tak kalah denganku. Jika sudah maunya maka tak akan dipikirkan teman-temannya. Malam itu tiba di Post III Swardi langsung mengatur posisi tidurnya, masuk ke sleeping bag-nya dan tak lupa menitipkan pesan, jika makanan siap tolong bangunkan. Hahaha dassarrr! Erwin, satu-satunya teman yang tak penah mengeluh di pendakian ini. Dari awal perjalanan tak sekalipun dia mengeluh. Meski barang-barang Asri di ungsikan ke Cariernya, erwin tak pernah komplain. Makan malam,dengan susah payah erwin,emi dan ahwan masak. Aku tak mau tinggal diam, ku siapkan bumbu sambal dan mulai meracik sambal yang tak pernah ku tahu begaimana caranya. Tapi cobalah..rasanya tak akan membuatmu menangis atau memuntahkannya diam-diam di belakang. Paling tidak rasa cabe, garam, tomat dan bumbu lainnya ada dan berkombinasi dengan serasi di lidah. Untuk ukuran koki gunung, bolehlah aku dapat nilai 7.hehehe. Pagi tiba, acara masak kembali dimulai kali ini swardi dan yuni yang aktif memasak, entah apa yang dimasak. Karena aku dan erwin selepas sholat subuh langsung merapatan resleting sleeping Bag dan tidurrr..dingin-nya pegunungan membuatku tak ingin jauh-jauh dari sleeping bag dan 4 lapis jaket tebalku.


Jam 9.30. sesuai rencana kami melanjutkan perjalan mendaki lebih tinggi lagi menuju Lokasi peristaharatan berikutnya yang dinamakan Cemara Lima entah oleh siapa. Sepanjang jalan, sejauh mata memandang yang ada hayalah hamparan Edelwies yang mempesona setiap mata. Bukit-bukit Edelwies dengan cemara-cemara yang tumbuh berjauhan membuatku ingin menetap disini. Langit yang biru dengan mega yang berarak bak kapas tertipu angin. Ah..Rinjani, tak salah jika aku memimpikan pendakian ini sejak kecil. Semakin atas aku mendaki, hamparan Edelwies itu semakin menggodaku untuk merebahkan tubuhku di rerumpunnya. Tak bosan ku ambil gambar dengan camera digital temen kost-ku yang ku pinjam. Sebuah pemandangan yang tak boleh di leatkan begitu saja. Hingga akhirnya tibalah kami di cemara lima setelah menempuh perjalanan 4 jam. Sungguh kelelahan yang imbang dengan pemandangan-pemandangan yang ku saksikan. Inilah Rinjani kebangganku, kebanggaan Lombok dan Sumbawa. Di Shelter cemara Lima kami sholat Zuhur dan istirahat sambil sesekali menyapa dan membalas senyum ramah bule-bule yang begitu semangat menuju Pelawangan. O ya, saat itu pendaki tak di bolehkan turun ke danau Segara Anak dan Puncak karena Anak Gunung Rinjani, G. Baru Jari itu sedang aktif dan berada pada status siaga. Awalnya sempat kecewa karena tak bisa mancing di danau yang kabarnya siapapun yang mancing, sebodoh-bodohnya ia memancing pasti akan dapat ikan yang besar-besar. Karena sejak ikan-ikan itu di lepas oleh Alm. Pak Harto belum ada yang memanennya secara besar-besaran..hehehehe. cukuplah sampai pelawangan perjalanan kali ini. Lain waktu Insya Allah akan sampai kesana.


Jam 3.04 sore. Matahari masih menyengat dengan sangarnya. Aku tiba di pelawangan, serasa tak percaya hamparan danau dengan air kehijauan dan sebuah gunung kecil yang sedang mengeluarkan Lahar di tengahnya. Lalu di sebelah timur, dengan gagah perkasah berdiri Puncak Rinjani yang menjadi tujuan sebagian besar orang yang ke Rinjani. Tak henti hati ini mengucapkan takbir, dan aku masih belum percaya saja ini ada di depan mataku. Nyata. Kurai lagi kamera digital lalu ku puaskan diriku menjepret pemandangan yang tak sembarangan orang mampu melihatnya.


Yups, harus kuat mendaki baru bisa lihat. Setelah semua kelar, tenda telah berdiri dan makanan siap, aku duduk dari bawah bukit sebelah barat yang menutup matahari sore itu. Dengan bangga aku menulis pengalaman ini di buku harianku. Menulis sambil duduk dengan rasa seperti mimpi menyaksikan lahar yang menyembur keluar dan mengalir dari gunung Baru Jari. Tak akan ku lupa. Ini salah salah satu pengalaman terdahsyat dalam hidupku. Ada di Rinjani. Mimpi kecilku itupun ku jelang...

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community