Nov 14, 2010

Kenapa Saya Harus Menulis?

Sesekali aku menggoda teman-temanku untuk memiliki blog. Terutama teman-teman yang menurutku berbakat sekali mengolah kata-kata. Tapi jarang ada yang merespon. Jika demikian aku kemudian berpikir. Mereka yang memang tidak bisa atau aku yang menghabiskan waktu di blog?. Entah sejak kapan? aku adalah pribadi yang selalu banyak mikir dalam hal berinteraksi dengan orang lain. Maksudnya begini, misalnya aku akan bicara kasar ke orang lain, maka aku selalu berpikir dan bertanya pada diriku bagaimana jika kata-kata kasar itu ada yang mengucapkannya padaku? tentu aku tak akan suka dan mungkin marah. Maka ku batalkan. Parahnya aku sulit untuk mengatakan hal sebenarnya jika itu menyangkut bahagia atau tidak, senang atau tidaknya orang lain. Jika harus jujur mengatakannya maka akan ku pilih cara paling soft dan beresiko untuk menyampaikannya. Aku selalu dihantui rasa takut mengecewakan orang lain. Hhh...

Okeh..back to topic. Lalu aku berpikir, buat apa aku menulis sepebarnya? Toh tulisanku dibawah standar semua. Jadi sangat sulit menemukan alasan untuk dibilang agar terkenal lewat tulisan. Buat apa aku menulis? Buat apa? Biar eksiskah? atau Hanya agar dibilang keren karena punya blog? Bukan,kawan! Jika berkenan, ijinkan aku menuliskan alasannya disini.

Aku adalah anak pertama, cucu pertama dan keponakan pertama dalam keluarga besar Ayah maupun Ibuku. Maka tak heran jika aku menjadi anak emas dalam keluarga. -meski sebenarnya aku tak nyaman dengan hal itu- Yah...sejak kecil aku biasa di turuti semua mauku. Walau sebenarnya keluargaku bukanlah keluarga berada. Jarang sekali aku menemukan kesulitan hidup di usia-usia kecilku. Namun semua menjadi begitu sulit saat aku mulai menyadari bahwa aku telah terlalu terkurung dengan kata "jangan" "tidak boleh" harus ini" dan "harus itu" dalam keluargaku. Aku tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Minder dan pemalu. Wajar karena setiap ada acara semacam acara hiburan di lapangan aku selalu menjadi anak yang "haram" mendekatinya. Aku tak boleh bermain dengan anak-anak tertentu, kata ibuku mereka nakal dan aku bisa ketularan nakal. Aku tak boleh tidak tidur siang walaupun aku tak ngantuk. Intinya lingkup hidupku terlalu sempit.

Sedari kecil aku punya minat baca dan menonton yang tinggi. Aku paling menyukai acara anak-anak di TV, apalagi yang ada surat penonton-nya. Aku selalu ikut dan bangga rasanya jika suratku dibaca. Jika tiba acara menggambar, aku berada didepan tv dengan perlengkapan gambarku. Aku juga suka sekali pada buku. Buku apa saja ku baca. Hal ini mungkin yang membuatku jarang sekali bicara. Aku tertutup sejak kecil.

SMP aku mulai mengenal buku harian. AKu gemar sekali bercerita pada buku harianku. Seperti bercerita pada sahabat. Tamat SMP tamat pula buku harian episode SMP. Masuk SMA buku harian yang baru mulai terisi. Hingga lulus. Taukah kawan..buku-buku harian itu sampai sekarang selalu membuatku tak bisa menahan senyum jika membacanya sampai sekarang. Aku menemukan lagi masa-masa luguh dan polosnya aku sebagai anak. Buku-buku harian itu seperti harta yang snagat berharga bagiku. Tak boleh ada yang mengambil atau membacanya tanpa seijinku. Siapapun! Karena disana aku terlampau jujur dalam menulis. :) Menulis buku harian adalah paling menyenangkan disaat sendiri dan kesepian. Bahkan aku selalu mencari tempat-tempat sunyi untuk menulis. Tak peduli sejelek apapun tulisanku. Aku menyenangi kegiatan ini. Karena aku memang sulit terbuka pada orang lain.

Namun seiring berjalannya waktu. Aku menemukan apa yang selama ini tak ada pada diriku. Percaya diri,kawan. Hal itu yang membuatku tertutup sejak kecil. Tidak percaya diri karena jarang bergaul. Maka saat mulai masuk kuliah. Ku proklamasikan pribadiku yang baru. Yang lebih baik dan hebat! Tak ada alasan dunia meremehkanku, tak ada yang berhak menentang hidupku. Begitulah tekadku. AKu bukan yang dulu. diriku yang dulu adalah bagian sejarah kelam yang berat.

Aku patut berucap terimakasih yang tak terhingga apa pada para penemu alat tulis, para penemu pulpen dan kertas. Karena seandainya tak ada yang menemukan kertas dan pulpen, aku mungkin tak akan menemukan percaya diriku sampai kapanpun. Sekarang aku juga berterimakasih banyak pada orang-orang hebat yang menciptakan internet dan blog! Blog adalah rumahku. Blog adalah temanku. teman curhat, teman berbagi kisah...

Begitulah kawan, ada bermacam-macam motivasi orang untuk menulis. dan begitulah awal dan caraku menulis. Tak akan ada yang arak setahuku jika tulisanmu tak bagus. Blog adalah rumahmu dan dirumah sendiri kita bebas berekpresi positif! Dari semua kisah dan perjalananku itu aku sangat meyakini satu hal : Percaya Diri adalah kunci kesuksesan hidup! karena anak siapapun kamu, sekaya apapun kamu, setampan dan secantik apapun kamu jika tak ada percaya diri dalam dirimu...tak ada artinya hidup!
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community