Dec 22, 2010

Negeri 5 Menara dan Motivasi-nya

Pengeen banget punya NOvel Negeri 5 Menara yang hebat itu. Tapi budged belum-belum bisa untuk mendapatkan hal-hal yang sekunder (buku kebutuhan sekunderku,kawan). Lalu semalam aku berkujung ke Rumah temanku dan ku lihat dia baru mendapatkan hadiah beberapa buku dari kawannya di Jogja. Ada Dwilogi Padang BUlan - Andrea Hirata dan beberapa buku lainnya termasuk Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Niatnya mau minta pinjam tapi belum sempat ngomong sudah di tawarin sama yang punya..hehe Alhamdulillah.. walau sebenarnya lebih enak baca punya sendiri karena bisa baca dengan tenang tanpa harus diburu waktu untuk mengembalikan. Tapi tidak apa-apalah, hari ini buku ini ku baca dan kalau ada duit lebih ku beli untuk melengkapi koleksi buku-buku hebat di Rak buku ku.

Sebelum kawan membaca resensi Buku Negeri 5 Menara (N5M) ini, ada sebuah halaman di buku ini yang mengutip syair penuh motivasi Karya Imam Syafi'i yang menurutku sangat..sangat hebat dan seharusnya syair ini dibaca oleh orang tuaku dulu agar mengijinkan aku untuk berkelana mencari ilmu ke negeri jauh... ini dia kawan..

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hutan

Mantab bukan?? Subhanallah.. tentu kawan ingat Hadist Rasulullah yang mengatakan Uthlubul ilma walau bisshin.. yang artinya “Carilah ilmu sekalipun di negeri Cina.”

-----------------------------

N5M berkisah tentang kronik kehidupan enam sahabat yang sedang bergelut dengan ilmu di Pondok Madani ( PM ). Keenam sahabat itu; Alif Fikri, Raja, Dulmajid, Atang, Said dan Baso menamakan kelompok mereka sebagai Pasukan Sahibul Menara. Sahibul Menara dan semua warga PM berasal dari berbagai propinsi di Indonesia dan semua perbedaan yang melekat dari masing – masing individu melebur dalam kebaikan yang di syi’arkan di Pesantren PM. Penulisnya yang juga salah satu dari Sahibul Menara bertindak sebagai narator menceritakan sebagian kisah masa remajanya secara flash back. Seharusnya lika keenam sahabat itu lulus PM semua mungkin judulnya “ Negeri 6 Menara “. Tetapi karena kondisi Baso sedang terbatas , ia mengundurkan diri dari PM beberapa bulan sebelum ujian kelulusan. Sayang yah… seperti tokoh lintang dalam Laskar Pelangi. Tapi jangan berkecil hati karena semua berakhir indah bagi Baso.

Kalimat “ Man Jadda Wajada “ yang menjadi urat nadi novel ini menjadi mantra sakti bagi Sahibul Menara untuk mewujudkan cita-citanya. Lewat penyampaian yang mengalir dengan sangat apik, penulis ingin berbagi pengalamannya, bahwa cita-cita dan impian itu dapat diraih bila kita berusaha keras dan bersungguh-sungguh serta berdisiplin tinggi untuk memperjuangkannya. Tetapi usaha yang kita lakukan harus dibarengi dengan do’a untuk mendapatkan ridho dan berkah Allah SWT. Jangan pernah meremehkan do’a karena dalam do’a tersimpan kekuatan yang dapat menerangi dan meluruskan jalan pikiran serta jiwa kita dalam mengenggam tujuan.

“ Man Jadda Wajada, Barang siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh akan berhasil “

Menikmati M5N juga membuka wawasan pemikiran kita tentang kehidupan pesantren. Dalam novel ini digambarkan keprihatinan Amak-nya Alif terhadap sekolah-sekolah yang berbasis agama dan lebih jauh lagi nasib umat islam di masa mendatang. Sekolah agama selalu menjadi “ second Alternatif “ dan murid-muridnya sering di-cap sebagai siswa kelas dua yang kepandaian, pengetahuan dan gengsinya di dibawah murid-murid sekolah umum. Padahal tidak selalu demikian, karena ada beberapa sekolah atau lembaga pendidikan lain berbasis agama yang berkualitas, seperti Al-Azhar atau Pesantren Gontor yang banyak mencetak pribadi-pribadi berintelektual tinggi yang berjiwa islami.

Stigma yang lebih parah melekat dalam tubuh pesantren. Masih banyak ( termasuk aku ) yang menganggap kalau sisitem pendidikan pesantren bersifat tertutup dan konservatif karena tampilannya yang jauh dari formal. Memang baru beberapa pesantren yang mengeluarkan ijazah untuk para lulusannya tetapi melalui novel ini opiniku agak bergeser, karena banyak lulusan pesantren yang kuliah di universitas-universitas ternama baik di dalam dan di luarnegeri, bahkan ada yang menjadi pejabat, rektor atau orang yang disegani segala lapisan masyarakat, misalnya; (Alm.) Nurcholis Majid, Gus Dur, Emha Ainun Najib, Amin Rais dan masih banyak lagi. Dan dalam novel ini PM adalah “ kawah candradimuka “ bukan hanya bagi orang-orang yang mengalami “ penurunan akhlak “ tapi juga bagi siapa saja yang ingin menggenggam dunia dan akhirat.

N5M adalah novel lintas agama karena meskipun nuansa spiritual islaminya sangat kental tetapi bisa dinikmati oleh berbagai umat beragama. Kebajikan-kebajikan yang dituangkan dalam novel ini bersifat umum. Dan aku yakin agama apapun di dunia ini juga mengajarkan kebaikan yang sama meski dikemas dalam berbagai rupa. Aku senang membaca novel ini karena aku sedikit sedikit bisa belajar dan mengerti bahasa Arab. Oh ya, selain Man Jadda Wajada ada ungkapan dalam bahasa arab yang kena banget dihatiku saat ini, yaitu ;

Man Shabara Zhafira. Barangsiapa yang bersabar akan beruntung.

Nah, kawan..mantab kan?? Sekarang.. tak ada kata telat.. yuk baca novelnya dan ambil sebanyak mungkin pelajarannya.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community