Feb 10, 2011

Hidup, Mati dan Penyesalan Yang Tak Berarti

Pagi itu aku sedang berada di ladang pamanku di sebuah Dusun Wisata bernama Pamulung menikmati indahnya kota kecil Sumbawa dari atas bukit. Barisan pantai Saliper Ate yang biru membuat siapa saja terkagum-kagum melihatnya dari atas bukit itu. Paman dan bibiku masih dengan canda tawanya yang lucu. Sampai beberapa menit kemudian semua diam, sepi.. aku menoleh dan ku lihat Bibi Onteng sedang menerima telepon dengan raut muka serius. Rupanya Bi Onteng barusan di telepon oleh Sepupuku Shanty dan mengabarkan bahwa Bibi ikun ibu-nya Iwan yang semalam aku dan keluargaku jenguk baru saja meninggal dunia. Kami pun bergegas pulang.

Maut. Sungguh tak ada yang tau kapan akan datang selain Allah dan orang-orang yang diberi ilham. Bibi Ikun, dua hari lalu masih terlihat segar bugar dan kelihatan sangat sehat. Masih bercengkrama dengan tetangga dan sahabat-nya. Sehari sebelum meninggal bibi Ikun sedang beristirahat siang di rumah seperti biasa, sampai tiba-tiba beliau mendapat kabar Iwan anaknya yang sedang ke Ibu kota Kabupaten bersama Neneknya jatuh dari motor. Beliau panik dan kaget. Maklum nalurinya sebagai seorang ibu sangat peka. berita yang sama juga di dengar ole Suaminya Paman Azis. Paman Azis yang sehari-hari tampak pendiam ini -mungkin karena panik- marah-marah ke sang istri, menyalahkan dan entah apa lagi. Sontak bibi Ikun semakin shock dan akhirnya kejang-kejang. Beliau langsung di larikan ke Puskesmas Kecamatan, namun menurut diagnosa dokter beliau mengalami serangan jantung dan stroke. Mereka tak mampu menangani dan harus di bawa ke RSU di Kabupaten. Di rujuklah kesana dan sampai malam aku dan familyku menjenguk tak ada perkembangan berarti dengan kesehatannya. Semua keluarga dan tetangga mengunjungi beliau di RSU, semuanya hanya bisa berdoa untuk kebaikan dan kesembuhannya. Malam itu aku, Ibuku dan beberapa keluarga lainnya tak bisa ikut menginap dan menjaganya. Cukup Paman Azis, Iwan dan Adik bibi Ikun yang tinggal. Tampak jelas rona penyesalan di wajah Paman Azis. Sebuah tindakan yang tak ada gunanya lagi untuk disesali. Semantara Iwan, teman mainku sejak kecil ini tampak sangat-sangat mengkhawatirkan ibunya. Aku sangat sedih melihatnya. Ia sampai seperti linglung dan bingung. Kau tau kawan, Iwan dan nenek-nya tak mengalami luka barang sedikitpun karena berita kecelakaan itu.

Pasca berita meninggalnya bibi Ikun, aku, ibu dan paman bibiku kembali ke rumah dan segera membantu mengurusi keperluan untuk prosesi pemakaman bibi ikun. Hujan begitu derasnya hingga malam. Keluarga memutuskan untuk memakamkan jenazah keesokan harinya. Malamnya aku dan kawan-kawan seusiaku menunggui jenazah bibi ikun sambil berdoa dan membacakan surat Yasin untuknya. Yang membuat hatiku perih malam itu, Iwan tak sadarkan diri sejak ibunya meninggal. Dalam pingsannya selalu memanggil-manggil ibunya. Ku coba membangunkannya dan berbicara dengannya namun tak didengar. Sedih sekali.

Esoknya, setelah pemakaman. dari Dapur rumahku aku mendengar suara tangisan wanita. Aku penasaran dan mencari tau asal suara itu. Aku mengendap-endap ke luar rumah, pelan-pelan dan semakin dekat suara itu dan ku pastikan suara tangisan itu berasal dari rumah Bibi Nci (sebut saja begitu). Bibi Nci sedang tersedu sedan di dapur rumahnya yang bersebelahan dengan rumahku. Ada apa gerangan??

Esoknya tanpa sengaja, aku mendengar Kak Erly bercerita bahwa bibi Nci sangat shock dengan berita meninggalnya bibi Ikun. Pasalnya, sebelum itu mereka tak saling bertegur sapa karena suatu masalah yang ia akui adalah kesalahannya. Bibi ikun tak salah sedikitpun. semua hanya karena rasa iri dan sakit hati semata. Ia menangis dan menyesal karena tak sempat meminta maaf kepada bibi ikun...

***
Kawan, semoga kau mengerti kenapa aku menceritakan ini disini. Bukan agar kau tau siapa Bibi Ikun, Siapa paman Azis atau siapa yang lainnya tapi itulah Hidup dan maut. semua tak terduga.. Semoga kau mengerti kawan. jika selama ini kita pernah melakukan kesalahan maka mari saling memaafkan sebelum semua terlambat. Sebelum detik terhenti.

Comments
2 Comments

2 comments:

  1. aku jadi teringat sama ceritaxa kak heru waktu kemah sama nak kdktran...crta dmn s'org anak yg tlh marh sama ibuxa n bgitu plg sklah, ia mnmukan ibbuxa tlah tiada tnpa smpat meminta maaf kepada ibuxa....

    ReplyDelete

Berkicau

Community