Feb 15, 2011

Pelan - Pelan Saja

Aku telah mengambil sebuah keputusan penting,kawan! Keputusan yang harusnya dari dulu ku ambil. Tapi ini belum terlalu terlambat dan semoga menjadi pelajaran. Aku telah memutuskan untuk meninggalkan wanita itu. Bukan karena dia tak baik atau sejenis itu tapi karena hatiku yang tak bisa mencintainya. Jika berkenan bolehlah kiranya aku membagi cerita ini denganmu kawan.

Dengannya aku dikenalkan oleh temanku, tak ada yang istimewa. Aku berkenalan dan bersikap seperti akan mendapat teman baru. Namun tak begitu dengannya. Sepertinya dia merasakan hal lain saat berkenalan denganku. Dia jatuh cinta padaku, begitu kata temanku. Aku tak menanggapi karena aku sendiri tak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Bagiku -yang "berbasic" pemalu dan sering minder ini- sebulan atau dua bulan belum cukup untuk mengangkrabkan iri dengan orang yang baru ku kenal apalagi untuk menjadikan pasangan serius. Aku tumbuh dalam lingkungan yang serba di batasi dan memang terbatas. Jadi agak sulit untuk membuka diri apalagi langsung akrab dengan orang lain. Namun ternyata wanita itu benar-benar menanggapi serius rasa yang -mungkin- hanya ketertarikan sejenak dalam hatinya saat kenalan itu. Dia pun memulai aksinya. Perhatian demi perhatian, dan segala macam hal untuk bisa selalu kontak denganku dia lakukan. Aku masih tetap berusaha untuk tak merespon kelakuan "special" itu.

Sampai akhirnya ia menjadi terlalu baik bagiku. Aku mulai mencoba (tepatnya memaksa) diriku untuk bisa membalas cintanya. Kebetulan pada saat itu hatiku sedang benar-benar pilu, gadis yang kukasihi dan ku cintai menjadi korban kediktatoran orang tuanya. Dalam usia yang masih belia dia di jodohkan paksa dengan saudara sepupunya. Itu pukulan yang hebat untuk hatiku. Pada saat genting itu wanita ini tak pernah lelah membuktikan keseriusannya. Sampai suatu hari saat hatiku benar-benar sedang sakit, saat api sedang membakar pikiran kotorku. Aku menerimanya dan pikiran-pikiran jahat lalu lalang dalam otakku. Peduli apa dengan cinta? apa yang ku cari dari cinta? Di depanku ada wanita yang pasrah, ku apakan saja dia pasti rela. itu kata Akal bulusku! Namun disisi hati yang lain berkata : Mungkin memang wanita ini yang dikirimkan Allah untukku, untuk hidupku. Apa salahnya aku berusaha untuk mencintainya. Memang sulit tapi aku akan mencoba.

Namun hasilnya, setelah beberapa bulan menjalani sebuah hubungan yang sepertinya mati. Aku menyerah juga! Tak bisa aku berlama-lama membohongi diriku dan dirinya. Jika jauh aku tak merindukannya. Saat dekat aku tak bisa mesra dengannya. Aku yakin dia merasakan apa yang ku rasakan. Itulah hati, jika dipaksakan pasti takkan baik (Kotak Band). Tadi pagi, ku lawan semua rasa bersalahku ku ungkapkan semuanya. Berat sekali kawan, aku adalah tipe lelaki yang tak tega menyakiti wanita. Namun aku juga tak bisa terlalu lama membohongi diriku. BIarlah dia mencintai lelaki yang mencintainya. Insyaallah pelan-pelan dia akan melupakanku.

Cuma yang aku takutkan sekarang adalah hubunganku dengan keluarganya. Seumur-umur aku menjalani sebuah hubungan baru kali ini aku begitu dekat dengan keluarga pasanganku. mereka begitu menyukaiku. Apa kata mereka setelah mengetahui ini? Hhhh... paling tidak aku sudah menjelaskan dengan sejujur-jujurnya dan sepertinya tadi dia mengerti karena sperti katanya dia sudah wanti-wanti jika ini terjadi.. oohhhh maafkan aku..!

Jangan bersedih lagi.. Karena kau kehilangan orang yang tak mencintaimu, kalaupun ada yang harus bersedih itulah aku. Karena aku kehilangan wanita yang mencintaiku.. biarlah hati ini menemukan tambatannya. Aku akan baik-baik saja begitupun kamu. Kamu akan-baik saja. pelan-pelan saja, kamu pasti bisa melupakan aku.

Kawan, Hari ini. Meski rasa bersalah masih menggelayuti hati tapi aku lega. Paling tidak aku tidak lagi membohongi diriku sendiri dan dirinya.

Kamarku, 15 februari 2011, 01.23 pm

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community