Mar 15, 2011

Bisul dan Pak Kades yang Salah Tingkah

Selamat pagi,kawan! semoga hari ini menyenangkan.

Sebelum memulai aktifitas, bloging dulu. Jadi semalam (tepatnya tengah malam tadi) aku memposting beberapa hal tentang Bisul, kenapa harus bisul? Karena saat ini sebuah "gunung berapi aktif" sedang tumbuh dengan tidak sopan di pantatku sebelah kanan. Eits, jangan ketawa! cuma ini belum terlalu menyiksa,karena  masih berstatus siaga. Tapi lama kelamaan juga akan berstatus awas dan efeknya bisa jadi demam, sakit di pangkal paha dan tentu saja emosi!

Kalau kuingat-ingat, ini bukan kali pertama aku dijangkiti bisul. Dulu sewaktu SMP. Masa-masa pubertas. Bisul seperti momok yang menakutkan bagiku. Meski sudah menjaga kesehatan sedemikian rupa tetap saja muncul bergantian di kiri dan kanan. Sebulan bisa dua kali dalam jangka waktu beberapa bulan pula! sial memang. Tapi sejak itu aku menjadi agak-agak sabar dengan bisul. Jika muncul aku tahu apa yg harus ku lakukan. Seperti gunung berapi. Ada saat-saat nonaktif, lalu aktif, berstatus siaga, awas lalu meletus. Setelah itu ada pasca letusannya. Persis seperti itu. Jadi saat bisul muncul aku tinggal menunggu waktunya meletus saja. meski proses menunggu itu adalah proses yang sangat tidak menyenagkankan. Bayangin, ada tonjolan berisi darah kotor di pantatmu dan kau harus duduk di kelas, di rumah, di tempat hangout dan lain sebagainya. Sangat TIDAK NYAMAN!

Aku punya cerita yang boleh kau bilang lucu, tapi ini benar-benar membuatku merasa ngeri dan shock saat mengingatnya. Dulu, waktu aku kelas 1 SMP. hampir tiap bulan aku bisul, cuma aku selalu bisa untuk kesekolah atau bermain dan sebagainya. tidak terlalu masalah saat ia berstatus siaga atau belum menunjukkan tanda-tanda akan mengeluarkan laharnya. Tapi saat-saat status Awas. Aku mulai kesakitan dan biasanya tidak masuk sekolah.


Pada suatu hari, saat si bisul hampir meledak dan aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah, Aku bermain kelereng di halaman rumah bersama adikku. Karena bisul ini sakit saat aku jongkok jadi saat aku menembakkan kelerengku aku harus nungging sedemikian rupa. Menyiksa sekali. Tapi permainan harus terus berlanjut hehe. Sampai tiba-tiba saat aku nungging menembak kelereng adikku. Sebuah telapak tangan besar dan terasa sekali kekar dan ototnya mendarat dengan setengah keras tepat di pantatku, di atas si bisul. Bisa kah kau bayangkan apa yang ku lakukan? Aku refleks menoleh sambil berteriak histeris sekencang-kencangnya. Tak lupa mengabsen beberapa binatang dan embel-embelnya. Aku kalaf dengan kalimat-kalimat itu. Tak peduli lagi siapa yang telah berani-beraninya menepuk pantatku yang sedang menderita. Aku menangis sejadi-jadinya. Adikku panik, kakekku datang dan tak henti beratanya ada apa, sementara ibuku segera memelukku menenangkan dan mengecek keadaan terakhir "gunung berapi" itu. Mataku  terus terpejam menahan sakit.

Orang yang menepuk pantatku salah tingkah dan sepertinya bingung dengan yang terjadi. Sampai akhirnya kakekku memberitahukan bahwa ada komplek Bisul di pantatku. Hiks.. aku membuka mata saat sakitnya mulai mereda dan lihatlah siapa yang menepuk pantatku dan yang hadiahkan sumpah serapah itu. Dia Pak kepala Desa, kawan! Aku  telah menyumpahi kepala Desa, orang nomor satu di tempatku dan aku yakin hanya aku satu-satunya yang dengan terang-terangan menyumpahinya, di depan hidungnya pula! 

Tapi jika ingat sakitnya pantatku, rasanya cuma sumpah serapah saja belum cukup. Tapi sudahlah, aku telah membuat rekor baru di kampungku. Anak kecil pertama yang menyumpahi kepala desa aih..tak keren sekali award itu!

Sejak hari itu cerita tentang mendaratnya tangan pak kelapa desa dan cerita anak kecil menyumpahi kepala desa menyebar meski di sekitar komplek RT ku saja. Orang-orang telah memiliki koleksi cerita lucu yang baru fresh dan original. sialan! Sejak saat itu orang-orang selalu berhati-hati untuk memukul pantatku. Lagipula buat apa mereka memukul pantat? hahahaha...

Sungguh tak terlupakan saat itu. Maafkan aku Pak Bolang Abu (alm), kepala Desa sahabat Kakekku yang baik. Yang mukanya langsung kebingungan saat melihat aku menangis padahal dia cuma gemas meilihat aku menembak kelereng dengan lebay-nya. Nungging! BUkan karena apa-apa pak, semua karena bisul. Ya Bisul yang malam ini mulai ku rasakan tumbuh lagi. 

Sepertinya Bisul ini mengajakku bernostalgia. Baiklah... 

........
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community