Mar 14, 2011

Gelisah!

Hatiku dan logika ku sedang tak sejalan rupanya. coba kau simak perdebatan mereka, kawan! 

Hati      :
"Aku mencintainya dengan tulus.. tapi aku tak tau apakah dia juga cinta padaku?"

Logika :
"Bagaimana mungkin bisa tahu kalau tak kau tanyakan?" 

Hati      :  
Itulah masalahnya aku belum menanyakannya dan belum jujur tentang perasaanku? 

Logika :
kalau begitu jujur dan katakan saja padanya sekarang sebelum dia di ambil orang.

Hati     :
Aku belum punya cukup nyali untuk berterus terang.. tahukah kamu? mengungkapkan isi hati itu tak mudah. Aku lebih siap disuruh melawan banteng mexico dari pada jujur tentang perasaanku padanya. 

Logika  ;
Kalo seperti sampai kapanpun kau tak akan pernah tahu isi hatinya.apa dia punya perasaan yang sama atau tidak kau tak akan pernah tahu. 

Hati      :
Iya..memang demikian tapi... aku..aku.. 

Logika :
terus saja dengan "tapi tapi" mu itu sampai nanti kau lihat dia sedang bergandnegan tangan bahagia dengan orang lain.

Hati     :  
Tahu kah kau? Aku mencintainya. bukan sekedar menginginkannya. Aku yakin kau tak akan bisa mengerti yang ku rasakan. Aku mencintainya tanpa peduli aku terluka. Aku mencintainya karena aku ingin semua yang terbaik di dunia ini untuknya, entah apapun itu. Bahkan jika nanti dia bergandengan tangan bahagia dengan lelaki lain aku akan bahagia untuknya. karena aku mencintainya. Aku mencintainya bukan sekedar menginginkannya.Dengan atau tidak bersamaku asal dia bahagia aku akan bahagia. Terlebih lagi jika dia bersamaku. Semua hal terbaik yang ku miliki dan ku bisa akan ku berikan untuknya.

Logika :
Hmmm Omong kosong! Kau jelas membutuhkannya. Memnginginkannya ada untukmu, mencintaimu dan hidup denganmu. sudahlah sudahi "tapi" mu itu. Beritahukan perasaanmu padanya. 

Hati      :
Aku akan mengatakannya. Tapi pada saat yang tepat. Pada saat dia sedang tersenyum bersama hari-harinya. Saat dia sedang nyaman dengan perasaannya hari itu. Saat itulah aku akan mengungkapkan semuanya. Bahwa aku telah lancang mencintainya. Bahwa akibat kelancangan itu aku telah di dera pikiran dan perasaan yang selalu tertuju padanya. Atas kelancangan itu hari-hariku menjadi seperti menjadikannya candu. Aku kecanduan melihatnya, mengetahui kabarnya atau menyebut namanya atau tak bisa memejamkan mata hampir setiap malam karena mengkhawatirkannya. Kau tahu? aku bahkan khawatir jika seekor nyamuk menggigit kulitnya. Ahh..

Logika  :
Sudahlah.. kau memang lamban, terlalu dramatis dan melankolis. Kita hampir saja taks sejalan. 

Hati      :
Hmm..kau tak akan pernah mengerti indahnya sensasi cinta yang meletup-letup dalam jiwa. Kau terlalu ambisius. ingin semua berjalan instan dan serba cepat. Ini Indah.. rindu itu.. rasa cinta itu begitu lezat saat kau merasakannya.

Logika  :
Semakin cepat semakin jelas dan lebih baik bukan? Sudahlah, kau memang Bodoh! 

Hati     :
Tak ada yang terlambat bagiku dalam hal cinta. Dia tahu atau tidak, aku tetap mencintainya dengan ikhlas.

Aku memilih untuk membuka kembali salah satu Novel Harper Lee di rak bukuku. Membacanya sambil tidur-tiduran. Menunggu serangan kantuk melumpuhkan arogan-nya logikaku dan keuh keuh-nya hatiku. Agar aku sedikit tenang malam ini. Disela-sela aku membaca, hati berbisik gelisah  

"Kenapa dia tak membalas sms-ku?""Jelas saja dia sudah tidur pulas! Ini sudah jam satu malam, asal kau tahu!" Logika tiba-tiba saja muncul.


Haaahh... sudahlah. Biarkan aku tenang!

Diam!  

Kamar kostku- Mataram, 14 Maret 2011, 01.08  am
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community