Mar 7, 2011

Indahnya Toleransi Ini

Hari ini aku begitu bangga dengan toleransi antar umat beragama di lingkungaku ini. Kota Mataram.
Hari minggu ini sama sekali aku tak ada planing untuk kemana-kemana. Hanya ingin menikmati nove-novel di rak bukuku yang kebetulan masih ada yang belum selesai di baca. Sampai akhirnya Tata –cewek, teman kuliahku diploma dulu- meminta tolong aku tuk menemaninya mengantarkan krupuk kulit pesanan pelanggan ibunya. Tanpa pikir panjang aku iyakan. Dua jam kemudian Tata datang dengan Mio Putihnya. Selepas sholat Ashar kamipun berangkat menuju lingkungan Cemare, rumah pelanggan kerupuk kulit buatan ibunya Tata.
Seperti yang aku ketahui, Cemare adalah wilayah agak ke utara pusat kota mataram yang warganya heterogen, mulai dari pekerjaan, asal-usul, suku, bahasa dan agama tentunya. Agama Hindu dan Islam adalah agama yang lebih banyak di anut warga sana. Kami memasuki salah satu gang berukuran sedang menuju rumah pelanggan yang di maksud. Sepi dan sunyi. Rupanya Upacara Nyepi umat hindu baru saja akan berakhir. Tata memintaku berhenti di sebuah Rumah dengan arsitektur bergaya Bali kental. Tempat sesajen yang dibuat dari bambu yang di anyam dan aneka kelenngkapannya seperti dupa masih mengeluarkan asap dengan wangi yang aneh menurutku.
Kami dipersilahkan masuk oleh ibu pemilik rumah yang ternyata adalah ibu Teman baiknya Tata. Mbak Putu nama temannya dan suaminya bernama Ode. Mereka adalah pasangan muda yang baru saja di karuniai seorang anak lucu dan cantik bernama Naya. Kami dipersilahkan masuk lalu di suguhkan Sebotol Coca Cola dan beraneka jajanan. Aku sedikit merasa ini seperti sedang bersiarah kerumah tetangga saat lebaran. Tak lupa Mbk Putu juga menawarkan Puding rasa Mocca buatannya. Aku bermain dan tertawa dengan Naya putrinya yang lucu itu begitu bahagia. Sampai saat mbak Putu kembali dari dapur dan mempersilahkan kami untuk makan Opor Ayam dan Lontong. Menu yang sudah di siapkan untuk kami katanya. Aku merasa sungkan, tepatnya ragu-ragu dan agak takut. Karena dalam agamaku selain Daging Babi kami juga diharamkan memakan daging yang disembelih tidak dengan nama Allah. Aku melirik ke arah Tata yang sedang bercanda dengan pasutri itu. Sepertinya Tata mengerti maksudku lalu dengan santainya dia angkat bicara.
“Mbk Putu, Menu ini buat saya kan?” katanya seolah-seolah sedang ingin memperjelas bahwa menu itu memang Halal untuknya dan untukku.
“Tenang Ta, Opor itu tak mengandung Babi atau sejenisnya yang kamu gak bisa makan. Bahkan daging ayamnya di beli di pasar Kebon Rowek Ampenan, tenang deh…” Dengan santai pula Mbk Putu menjawab.
Kamipun menyantap opor itu dengan lahap tentunya berdoa sebelumnya.
Alangkah indahnya sebuah kehidupan bermasyarakat jika semua saling mengerti satu-sama lain. Tata memenuhi undangan makan-makan selepas Nyepi Mbak Putut dan mbak Putu tau apa yang boleh dan tak boleh di makan oleh Tata dan aku tentunya. Aku jadi teringat Pesan Bpk. Tuan Guru Hasanain (Pimpinan Ponpes Nurul Haramain – Narmada) sewaktu menjadi pemateri di Jambore Pemuda tahun lalu di Lombok Timur. Beliau memberikan petuah tentang sikap apa yang seharusnya di lakukan dalam kehidupan antar umat beragama. Menurut beliau yang sangat harus ada terlebih dahulu itu adalah pertama keterbukaan dan kejujuran. Beliau lalu mencontohkan prilaku terbuka itu. Misalnya pada saat pertama kali berkenalan dengan seseorang. Setelah mengenalkan nama maka beritahukan teman baru itu bahwa Anda adalah seorang muslim atau hindu atau Nasrani dll. Maka dia juga akan menginformasikan agama yang di anutnya. Lalu jujur dengan apa yang menjadi kewajiban dan larangan dalam agama Anda. Kedua Pengertian, setelah kita mengetahui batasan-batasan agama seseorang maka kita akan lebih bisa menentukan sikap dan melayani teman baru kita takut dia akan tersinggung atau melanggar aturan agamanya. Indahnya jika itu dimengerti oleh semua orang. Seperti Mbk Putu, dia tau batasan-batasan halal haram umat muslim maka dia mengerti apa yang harus di lakukan saat melayani Tamunya yang beragama lain. Begitupun sebaliknya.
Harapanku bukan hanya sekedar satu dua keluarga yang pengertian akan keluarga lain yang berbeda kepercayaan. Bayangkan jika semuanya memiliki pengertian yang luas tentang toleransi beragama. Betapa Indahnya kehidupan bermasyarakat.
Comments
1 Comments

1 comment:

Berkicau

Community