Mar 25, 2011

Kisah Emak & Bapak : Antara Pukat - Samongkat

Itu Kampung Bapak
Konon dulu waktu bapak melamar emak, kakek gak setuju. Alasannya karena bapak belum dikenal oleh keluarga. Wajar, karena bapak itu berasal dari kampung nun jauh di atas bukit Sumbawa Bagian Selatan. Semongkat namanya. Sebuah kampung yang sejuk dan bersejarah karena banyak peninggalan rezim kompeni. Aku senang berkunjung kesana. Okelah di bagian lain aku akan bercerita tentang Semongkat. kembali ke Bapak, emak, Kakek dan Nenek. Karena tidak disetujui akhirnya dua sejoli itu nekat kawin lari meski sebelumnya tak pernah menjalani pacaran. Mereka bertemu di pelabuhan Poto Tano saat masing-masing mengantar keluarga berangkat ke Tanah Suci. Kakek marah, kecewa katanya. Namun kakek tak mau menghalangi niat baik Bapak dan Emak untuk menikah. Meski marah kakek tetap memberikan hak Wali kepada Emak. Maka berlangsunglah pesta pernikahan yang cukup meriah di Desa Semongkat itu. Kebetulan bapak anak Kelapa Desa disana. Keluarga dari ibu banyak yang datang kecuali kakek. Nenekku terpaksa harus menahan keinginannya melihat Putri pertamanya menikah. 

Pesta telah usai, Kehidupan baru Bapak dan Emak dimulai di desa yang berbatu itu dan kesulitan akses ke kota. Meski demikian emak menjadi istri dan menantu yang baik. Emak adalah wanita yang ulet dan pandai bergaul. dalam waktu singkat saja semua keluarga dan masyarakat disana sudah mengenalnya bahkan akrab. Emak selalu diandalkan dalam hal bermain Voly. Beliau jagonya. Bahkan bisa dibilang beliaulah yang menjadi otak para perempuan kampung itu bermain Voly.

Bulan dan tahun berganti..hari terus berlalu. Udara semongkat mulai bertambah dingin. Musim hujan tiba. Meski merasa bahagia dengan kehidupan barunya emak tak memungkiri, ada rasa rindu yang teramat sangat pada keluarga di rumah. Saat-saat seperti itu bapak akan menghibur emak dengan mengakatakan bahwa Bapak punya rencana untuk mengunjungi Keluarga di Pukat (Nama kampungku sekarang). Emak tersenyum. Saat itu beliau sedang mengandungku di bulan yang ke tujuh. Acara Biso Tian atau Tujuh Bulanan telah selesai. Hari-hari berjalan terasa lambat bagi seorang wanita yang mengandung. Tapi Allah telah mengkaruniakan kesabaran yang berlipat-lipat pada hati seorang wanita saat mengandung. Meski lelah dan penat tak ada yang ia sesalkan. Bayi yang dikandungnya tetap prioritas. Emak mulai arang keluar bepergian ke ladang atau ke sawah. 

Brang (Sungai Samongkat)
Bulan ke-delapan aku dikandungan. Bapak menepati janjinya untuk mengajak Emak berkunjung ke kampungnya. Tak terkira senangnya perasaan Emak akan bertemu lagi dengan keluarga tercintanya. Merasakan kembali hangatnya mentari di Desa Pukat. Menghirup aroma khas jerami. lalu bercengkrama lagi dengan sahabat-sahabat remajanya. Ah..sepertinya aku juga bahagia saat itu di dalam kandungan. Karena itu kali pertama aku akan bertemu dengan kakek dan nenek dari ibuku. Aku jabang bayi yang masih mempunya sepasang kakek dan nenek dan aku akan menjadi bayi paling bahagia saat itu.

Aku yakin, dada Bapak pasti bergemuruh saat itu. Bagaimana tidak, dia akan membawa anak orang -yang sekarang menjadi istrinya- kembali ke orang tuanya. Ada perasaan cemas tak akan diijinkan kembali membawa sang, ada perasaan takut di musuhi atau paling diketusi. Ah... bapakku memang lelaki yang pemalu,kawan! Lihat saja sekarang aku, beliau menurunkan sifat pemalunya padaku. Perjalanan 160 Menit itu berakhir. Seperti bermimpi, mereka sekarang berada tepat di depan pintu rumah Kakekku. Sebelum mengetuk, Bapak menoleh ke arah emak yang sepertinya juga merasakan sensasi gelisah yang sama. Emak mengangguk memberi persetujuan untuk mengetuk. Saat pintu diketuk, salam terucap.. Nenek muncul dengan tangis harunya. Memeluk erat badan Emak yang gendut karena mengandungku. Bapak salah tingkah. Hanya berdiri mematung menyaksikan anak dan ibu melepas rindu. Nenek mencoba mencairkan suasana dengan mempersilahkan Bapak dan Emak masuk. Kakek ternyata ada di dalam, sedang duduk didepan cangkir teh-nya. Siapa sangka kakek yang tadinya begitu keras hari itu luluh melihat menantu pertamanya yang sederhana datang berkunjung, memohon maaf dan bersimpuh sembah.  Ah..kakekku...

Hari-hari ku bersama emak mulai ringan. Karena sepertinya tak ada lagi yang perlu dipikirkan oleh emak. Kakek telah menerimanya dengan lapang, Nenek apalagi. begitu juga keluarga yang lain. Bapakku, lelaki sederhana itu begitu tersanjung berada dalam keluarga ini. Bagaimana tidak Beliau tak sempat melakukan Observasi sebelum memutuskan untuk membawa lari cinta-nya. Sungguh lelaki nekat. Tapi satu hal yang membuatnya gundah gulana. Kakek meminta Bapak dan Emak tinggal di Pukat.

"Rumah kalian sudah jadi, tinggal ditempati. Ya..memang masih sederhana tapi itu akan menjadi awal kalian untuk memulai hidup baru disini" Kira-kira seperti itulah ucapan kakek.

Tak ada pilihan lain, Bapak menyetujui. Setelah pamit dan membereskan segala macam hal di Semongkat. Resmilah Bapak dan Emak tinggal berdekatan dengan Kakek di sebuah Rumah sederhana, dimana nantinya disanalah pertama kali aku akan memecah kesnyian dengan tangisanku. Tanggal 18 Agustus, 23 tahun silam sehari setelah bangsa ini merayakan kemerdekaannya. Tepat saat kakekku baru saja pulang dari acara Pawai kendaraan di kota kecamatan. Aku lahir dengan selamat dan normal. Aku menggeliat, terisak-isak melihat dunia. Namun mereka yang mengelilingiku menyunggingkan senyum terbaik mereka. Kebahagian yang begitu besar dalam keluarga besar Kakekku. Cucu pertamanya telah lahir. Bapak tersenyum dalam diamnya setelah mengumandangkan adzan pertama di telingaku. Jagoan pertamanya telah lahir. Rambutnya lebat seperti rambut bapaknya, dagunya lancip persis dagu kakeknya. Matanya turunan mata ibunya, bibir dan hidungnya adalah cermin bibir dan hidung neneknya. 

Beberapa hari sejak kelahiranku, Emak diboyong ke rumah kakek hingga pulih. hari-hari kakek tak bisa jauh dari cucu pertamanya. Aku telah menjadi belahan jiwa kakekku, begitupun beliau..beliau belahan jiwaku. Kamu Kakek dan cucu yang kompak sejak aku kecil. Kemanapun kakek pergi aku akan selalu ada besertanya. Dikenalkannya aku pada semua kerabat dan sahabatnya. Diceritakan pada mereka tentang semua tingkah lucunya dengan bangga. Tapi lelaki sederhana itu, bapakku. Harus ikhlas membiarkaku tinggal dan besar dibawah asuhan kakek dan nenek. Tapi kasih sayangnya tak pernah putus hingga detik ini. 

Malam ini, aku merindukan mereka seperti malam-malam sebelumnya saat aku sendiri dan kesepian. Mereka yang begitu mencintaiku tanpa syarat. Bahkan saat aku melakukan sebuah kesalahan aku tetap cucu dan anak terbaik mereka. Maafkan aku, cucumu..anakmu yang hingga detik ini belum bisa memberikan kebanggaan berarti. Tapi ketahui, tak ada orang lain sehebat mereka dalam hati dan hidupku. Merekalah dunia pertamaku yang akan ku kenalkan ke dunia keduaku.. seorang gadis yang kelak menjadi menantu mereka.



sumber : Cerita ibu pada suatu malam saat aku pertama kali masuk SMP dan kesaksian paman-paman dan bibi-bibiku. :)

Mataram, 25 Maret 2011 12.42 am


.......................
Comments
4 Comments

4 comments:

  1. djie... tulisannya renyah. Enak. Ngalir dan nyentuh bangettttttt

    ReplyDelete
  2. ah masa si bang?
    malu saya..tulisannya di baja bang akhi hehe

    ReplyDelete
  3. info yang bagus. semoga bermanfaat bagi kita semua.
    keep update! :)
    PIALA DUNIA 2014

    ReplyDelete

Berkicau

Community