Mar 21, 2011

Pahlawan Lugu


Ini Adalah kisah nyata waktu aku kecil dulu, disini ku tulis dengan mengubah beberapa unsur seperti nama dan lain-lain.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Rona jingga langit di ufuk barat semakin nyata. Raja siang akan segera membenamkan diri dalam peraduannya. Kami anak-anak kampung seperti biasanya sedang bersiap-siap untuk menuju rumah Dea Guru, sebutan untuk guru ngaji di kampungku. Tidak boleh terlambat jika tidak ingin merasakan lecutan Ekor Pari dari tangan sang dea Guru. Selain mengajar kami membaca dan memahami Kalam Ilahi, beliau juga sangat menekankan disiplin kepada setiap muridnya dan hanya hukuman bagi siapa saja yang terlambat atau melakukan kesalahan. Pecutan BUkan main Ekor Pari kering yang bertuah itu akan mendarat di punggungmu jika kau berani berbuat nakal atau melanggar peraturan.

Aku mengerti mengapa Dea Guru sekeras itu pada muridnya. Lihatlah anak-anak kampung ini, bukan main nakalnya. Jika kau kenal si Sabri, kau akan mengerti bagaimana susahnya jadi orang tua. Hobinya sabung ayam dan taruhan sudah pasti. Begitu ayamnya kalah dibunuh begitu saja. Di nasehati orang tuanya berkali-kali tak pernah mempan. Sampai putus asah bapaknya. Uang ibunya tak luput dari naluri jahat si Sabri, jika tak hati-hati si ibu menyimpan uang, lihat saja besok sore atau pagi, ludes di bawa lari untuk taruhan. Padahal si sabri masih kelas 2 SMP. Maka orang tuanya yang putus asah itu menyerahkannya pada Dea Guru untuk di didik. Dengan penuh harap ayahnya bilang

“Saya serahkan sepenuhnya anak saya pada dea Guru, terserah mau di apakan asal jangan sampai mati saja, dea guru” katanya dengan penuh harap.

“Kami sudah kehabisan akan mengajarinya, dea guru” sambung ibunya.

Itu baru si Sabri, yang umurnya 3 tahun lebih besar dariku. Kemudian lihatlah si Rahmat, anaknya Paman Bolang yang nakalnya membuat teman-teman mainnya tak ada yang berani berada di dekatnya lama-lama. Tidak disekolah di rumah selalu membuat keributan dan membuat nangis anak orang. Terakhir sebelum dia di serahkan ke dea Guru, dia terlibat perkelahian dengan si Jaya, dan paranya lengan si Jaya harus dijahit karena ditusuk dengan Pulpen pilot-nya si Rahmat.

Lalu kenapa aku bisa mengaji disini bersama dea Guru? itulah kawan, aku termasuk salah seorang anak yang penurut, penurut sekali. Tak pernah membantah sepatah katapun kata orang tuaku. Orang tuaku melarang untuk tidak ikutan menonton acara musik tradisional di lapangan depan masjid aku nurut saja. Orang tuaku melarang bermain dengan si A aku ngangguk saja. Lalu saat aku naik kelas 6 SD orang tuaku mulai khawatir, aku tak pernah punya minat bergabung dalam keramain. Aku menjadi sangat pemalu dan minder. Selama ini aku hanya bermain disekitar rumah dan rumah sepupuku di sebelah rumahku. Bahkan mengajipun aku di rumah saja bersama sepupuku. Kekhawatiran bahwa aku akan menjadi anak yang introvert dan susah bersosialisasi dengan lingkungan membuat Kakek gusar. Akhirnya desakan ibu membuat ayah menyetujui aku harus belajar mengaji bersama anak-anak lainnya di dea Guru.


Keputusan ayah membawaku ke Dea Guru tak akan ku lupakan. Karena disanalah hidup baruku dimulai. Sedikit demi sedikit aku menikmati hari-hari bersama teman-teman ngajiku. Aku bukan lagi anak yang introvert dan minder. Meski mendidik dengan keras aku sangat menyenangi kegiatan di Rumah Dea Guru, Jam 4 pagi kami sudah bangun dan mulai menimba air untuk mengisi setiap tempayan di dapur dea Guru, termasuk Bong (tempayan tempat wudu). Kami melakukannya dengan suka cita sesuai jadwal piket masing-masing. Tak ada rasa malas atau ngantuk. Meski awal-awal aku malas dan sangat tersiksa.

Pikiran luguku berkata “setiap jam 3 pagi tidurku akan selalu terusik oleh panggilan teman-temanku yang menjemputku untuk berangkat mengaji bersama, ini sangat menyiksaku! Kapan akan berakhir??”

Tapi semakin hari semua itu semakin menyenangkan. Bahkan jam 2 pagi aku sudah bangun dan menjemput teman-temanku. Lalu kemana kami sepagi itu? Jangan pikir kami akan datang sepagi itu ke Rumah dea Guru. Kebun mangga Bu Hajah yang ada di pinggiran kampung itulah tujuan kami. Kebun dengan beragam jenis mangga yang menggiurkan. Mangga yang tak kenal musim, selalu berbuah sepanjang tahun. Hebat benar teknologi pertanian, dan hanya bu Hajah satu-satunya orang di kampungku dengan kebun mangga yang dahsyat itu. Aku, Yadi, Emen, Yudha, dan Amrul, Partner in crime yang selalu kompak namun kadang terlalu luguh untuk ukuran penjahat. Aku sebagai anak yang paling kecil dan paling luguh selalu di jaga dan didahulukan keselamatannya oleh Yudha ketua sang geng. Yadi si licik yang tak pernah kehabisan akal, tak sesuai sekali otak dengan tampangnya yang kalau kulihat akan mengingatkanku pada tokoh cecep dalam sebuah sinetron di TV.

Benarlah kiranya tampang bukan ukuran untuk menilai otak sesesorang. Yadi adalah putra semata wayang ayah ibunya, tapi sayangnya orang tuanya bukan orang tua yang gampang mengabulkan permintaan sang anak tunggal. Bukan karena tak punya uang melainkan karena tak ingin terlalu menuruti dan memanjakan anaknya. Itulah alasan mengapa ayahnya membawa yadi pada dea Guru yang terkenal galak itu. Lalu Emen, sahabat yang paling dekat denganku, Ibunya meninggal saat kami kelas 4 SD, beberapa bulan kemudian Ayahnya menikah lagi dan ikut istrinya. Dia tinggal bersama pamannnya yang tak memiliki anak laki-laki. Sebenarnya Emen bukan tipe anak nakal seperti yang lainnya. Dia anak yang penurut dan jujur. Tak jarang kejahatan kami terbongkar karena kejujurannya itu. Misalnya saat kami kedapatan mengambil Biji kemiri yang dijemur oleh Papin Siti, dia selalu terlambat lari dan akhirnya diinterogasi. Maka dengan polosnya dia akan menyebutkan nama kami satu persatu dan meluncurlah Papin Siti ke rumah kami masing-masing untuk mengadukan perbuatan kami pada orang tua kami. Hasilnya aku kena omel sepanjang malam, si Yudha harus menerima sakitnya cubitan sang ibu, si amrullah tak kalah kasihannya telinganya yang lebar harus ikhlas ditarik ulur oleh ibunya. Lalu si Emen dengan bangga bercerita bahwa dia dihadiahkan sekantong kemiri oleh papin Siti. Sungguh pembangkang anak itu.

Dea Guru mengenalku sebagai anak yang ulet dan penurut. Maka aku menjadi salah satu murid kesayangan dea Guru. Begitu juga Istri dan mertua dea Guru yang sudah lanjut usia itu. Papin Fatimah namanya. Entah mengapa beliau sangat senang padaku. Padahal naluri usilku bukan main.

Suatu malam, aku duduk berdampingan dengan Iwan tetanggaku yang entah mengapa begitu lambat dalam berpikir. Ayahnya seorang penyalur TKI ke Arab, Ibunya adalah tipe ibu-ibu yang selalu tampil modis, tapi lihatlah anaknya yang malang ini. Betis penuh bekas luka bakar, mengkerut seperti kulit ular baru berganti kulit. Pipinya yang penuh bekas ingus yang mongering. Malang sekali kulihat anak ini. Ditambah lagi leletnya dalam berpikir. Malam itu dadaku kembang kempis menyaksikan semangat kawan-kawanku membaca Al Qur’an, tak ada satupun yang diam semua larut dalam kesyahduan lantunan ayat suci. Malam itu dea Guru sedang pergi jadi Kak Ono, anak kedua Dea Guru yang mengawasi dan mengajari kami. Si anak ini lebih kejam dari sang bapak. Ditengah riuh rendah suara anak-anak kampung ini mengaji Kak Ono berkata dengan nada yang agak keras dan jelas sekali terlihat marah.

“Siapa yang buang angin disini?!” serempak kami diam. “Sungguh keterlaluan ini!” sambungnya dengan mata yang menyeramkan. Aku hanya diam dan menggeleng-geleng sambil menoleh ke kiri kanan mencari tau keluar dari siapa angin yang aromanya menyengat itu.

“Saya Tanya sekali lagi, siapa yang buang angin?!” Kak Ono terlihat bertambah seram saja.

“Jika tak ada yang mengaku, Ekor pari ini akan saya gilirkan ke punggung kalian semua.” Ancamnya.

Iwan yang di duduk disampingku hanya bengong dengan wajah yang seolah-olah tak mngerti sedang terhadi apa. Amrul gelisah. Sepertinya dia tak akan rela jika harus menerima sakitnya ekor pari itu hanya karena gas berbau busuk yang jelas-jelas bukan produksinya. Ditengah-tengah kepanikan dan saling tuduh itu, entah apa yang mendorongku aku menoleh kea rah Iwan dan menatap dalam matanya lalu..

“Wan, lihatlah kalau sampai tak ada yang mengaku maka kita semua akan dipukul oleh Kak Ono, kau tentu tahu kan bagaimana rasanya Ekor Pari itu?” kataku meyakinkan
Iwan mengangguk seolah mengerti.

“Karena itu wan, kamu harus mengaku agar kita semua tak dipukulnya. Kamu mau kita semua di pukul kak Ono? Tidak kan?”

“Hmm..iyah..iyah..” Jawab iwan sok mengerti

“sekarang angkat tanganmu dan mengaku ya” jurus terakhir dan sukses!

Bak seorang pahlwan, atau tepatnya seorang milyuner yang menawarkan harga lelang tertinggi dari sebuah rumah mewah Iwan Mengangkat tangannya dan hanya berkata

“Saya Kak Ono!”

Tanpa ba bi bu lagi, cetass! Ekor pari kering dan lurus kaku itu mendarat dengan sempurna di punggung iwan, aku terkikik bersama Amrul dan yadi. Meledaklah tangis anak malang itu. Tangis protes atas kesakitan yang sebenarnya tak dimengerti kenapa harus ia terima. Suaranya menggema sama seperti cekikikanku yang hamper meledak menjadi tawa.

“Kalian selalu diajarkan untuk menjaga kesucian di depan Al Qur’an! Apa ini namanya menghormati Al Qur’an?” kak Ono benar-benar seperti kerasukan. Mata yang biasanya ramah malam itu seperti mata Tokoh Grandong dalam sinetron-sinetron kolosal di TV. Menyala!

Sementara Iwan masih saja meraung dalam ketidak mengertiannya. Hanya meraung, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Malangnya anak itu. Tapi gerombolanku masih saja cekikikan dengan riangnya.

“Iwan! Keluar wudhu! Tak pantas kamu menyentuh Al Qur’an dalam keadaan seperti itu!” hardik kak Ono.

Di sela tangisnya Iwan angkat bicara.

“Huuu..huuu…Padahal bukan saya yang kentut, kenapa saya yang dipukul?? Huuu..huuu” Sambil berjalan menuju tempat wudhu.

Semakin tak kuat aku menahan tawaku. Bahkan saat Kak Ono mendaratkan Ekor parinya ke punggung kami semua, tawaku masih begitu renyahnya. Tak ada rasa sakit di punggungku. Nikmatnya tertawa saat itu mengalahkan sakitnya dipukul dengan ekor Pari.

Bedug Isya berbunyi tandanya waktu mengaji malam itu selesai. Kami pulang dengan riang dan penuh tawa. Tapi jauh dalam hatiku aku merasa sangat bersalah sekali pada Iwan. Aku berniat akan meminta maaf padanya. Lalu di jalan kulihat Iwan sedang bersama Ainun, gadis kuning langsat anak pak Kades itu seperti sedang berbicara serius pada iwan. Aku mendekatinya dan aku mengerti. Ainun gadis cantik yang sulit kami dekati itu sedang meminta maaf pada Iwan. Dan dialah pemilik kentut beracun itu!

“Wan..Maafkan aku. Gara-gara aku, kamu dipukul kak Ono. Sekali lagi aku mohon maaf. Aku yang buang angin tadi. Sekarang aku akan menjadi sahabat terbaikmu. Kamu boleh minta apa saja aku akan berikan untukmu. Karena kamu sudah menyelamatkan aku di depan Kak Ono dan teman-teman. Aku akan ceritakan ini kepada Mama nanti dirumah”

Hari itu aku mengerti satu hal. Secantik apapun seorang wanita. Itu bukan jaminan kentutnya akan sewangi parfumnya. Akupun meminta maaf pada iwan dan dia hanya tersenyum. Senyum luguh yang menyenangkan dan mengundang keusilan!



Comments
7 Comments

7 comments:

  1. wahahahaha...........
    lucu lucu,ya iyalah orang cantik juga kan manusia dan pencernaannya juga sama kan dengan orang-orang cupu culun kaya saya dan jelas kentutnya juga sama bau
    hihi =D

    ReplyDelete
  2. @aditya: makasih udah comment sob... hahahaha aku juga kalo ingat-ingat masa-masa ini ketawa sendiri.

    ReplyDelete
  3. bgus brooo
    v jngan xolong mangga lg y!!!
    hehehe

    ReplyDelete
  4. @anonymous: (siapa ya? hehe) hahahaha... kalo udah besar sudah bisa menikmati mangga yg di tanam waktu kecil.. ayo menanam sejak dini.. (lha.. jadi kampanye..)

    ReplyDelete
  5. haha,makasih loh postingannya.makasih kunjungan keblog ane ya..

    ReplyDelete
  6. @Yeni: makasi dek...berkunjung juga dia...

    @i-one: sama-sama bro.. saling mengunjungi pererat silaturrahmi sesama blogger.. :)

    ReplyDelete

Berkicau

Community