Mar 2, 2011

Sabar dan Dilema

Cukup menggelisahkan pagi ini. Aku adalah anak tertua dalam keluargaku dan sudah seharusnya aku menjadi contoh dan pemandu bagi adik-adikku.

Dhani, adikku nomor tiga kuliah di sebuah universitas swasta dengan jurusan Bahasa Arab. Tinggal di asrama kampus dan menurutnya tempat itu sangat membosankan. Setiap minggu bahkan kadang 3 kali seminggu dia datang dan menginap di kost-anku. Aku senang dengan adanya dia karena selain ada teman ngobrol (kelahi kecil, tepatnya) aku juga tak kesepian saat makan dan nonton Bola dan Overa van java. Kau tahulah kawan, tertawa sendiri menonton sebuah acara komedi itu tidak seru. Lebih-lebih nonton siaran langsung sepak bola.

Kost-anku terbilang sangat ketat pengawasannya oleh bapak kost. Siapa yang menginappun selalu ditanyakan dan tak boleh lama-lama. Dasar dhani ngeyel. Seolah tak peduli dengan bapak kostku tetap saja datang dan nginap bermalam-malam. Akupun dilema. Lalu aku juga mulai berpikir. Berkat membaca berbagai macam buku dan novel tentang studi islam, al qur’an, bahasa arab dan sebagainya aku mulai tegas pada adikku agar jangan terlalu banyak bermain atau datang ke tempatku. Aku tau belajar bahasa arab atau menghafal al qur’an itu bukan hal yg gampang. Apalagi jika tidak serius. Dari Novel negeri 5 Menara aku bisa tahu betapa berat usaha Alif belajr bahasa arab di pondok. Sehari semalam harus bicara bahasa arab, jika tidak ada jasus (mata-mata) yang mengawasi dan jika ketahuan maka sanksi berat akan menemaninya melewati hari berikutnya. Lalu bagaimana dengan adikku? Aku melihatnya seolah bosan dan tanpa semangat. Aku mencoba bocara baik-baik dengannya namun mungkin karena jiwanya masih dipenuhi ego ingin benar sendiri (Aku pernah merasa seperti itu saat awal-awal kuliah), selalu membantah apa yang aku sampaikan meski sehalus apapun. Aku jengkel juga kadang-kadang. Setiap dia datang ke kost-anku aku bicara baik-baik tentang hal itu, setiap itu pula ia kesal padaku dan pulang lagi ke asramanya. Aku merasa kasihian juga namun kali ini kupikir aku harus “tega” demi belajarnya.

Menurut yang ku baca, hal yang membuat orang sulit menghafal al qur’an adalah terlalu sering mendengar musik, bernyanyi lagu-lagu cinta, ketawa dan malas. Sebagai kakak aku ingin adikku sukses dengan pendidikannya sekarang. Ku jelaskan padanya bahwa ini hanya godaan kecil untuk langkahnya menuntut ilmu, apa jadinya kedepan jika godaan ini saja tak bisa di lalui? Ku beri pula bahwa yang aku alamipun sama seperti dia bahkan lebih berat. Ingin aku dia membaca buku-buku dan novel-novel motivasi koleksiku di rak buku. Agar dia mengerti betapa banyak orang di luar sana yang kurang beruntung dan tak mampu untuk meneruskan pendidikannya. Seharusnya tak ada alasan untuk malas. Kita punya kesempatan dan akses untuk belajar. Kita tak punya hak untuk malas. Bahkan yang tak punya akses mengenyam pendidikan saja begitu giatnya melanjutkan hidup.

Hari ini seorang teman memintaku mengetikkan proposal penelitiannya yang berbahasa inggris semua. Dia akan membayarku untuk ini. Aku senang, bukan karena akan mendapat upah melainkan karena aku punya bacaan dalam bahasa inggris, paling tidak dengan mengetik puluhan halaman berbahasa inggris, hari ini aku akan lebih banyak membaca bahasa asing. Hmm nice!

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community