Mar 25, 2011

Time Limit

Setiap kita punya batas waktu untuk hidup. Siapa saja. Anak kecil, muda tua..semua sudah punya time limit masing-masing. Hanya saja tak ada satu orangpun yang tahu kapan waktu itu akan berhenti. 

Bagi orang-orang yang sadar memiliki batas waktu. Hidup ini akan digunakan semaksimalnya untuk melakukan hal-hal positif.Tentu saja karena ia sadar bahwa hidupnya gak akan abadi. Ada saat kita akan beranjak tua lalu rentah karena lanjut usia. Kemana kita yang dulu kuat dan muda? Time Limit untuk menjadi anak-anak, remaja telah habis! Gak bisa diisi ulang seperti pulsa atau air galon. Semua berlalu tanpa kompromi. Maka disinilah akan terlihat perbedaan siapa yang memanfaatkan hidup dan siapa yang telah menyia-nyiakan waktu hidupnya.

Waktu aku kecil. rasanya hidup itu indah dan muda. tentu kawan juga tahu kenapa dan saya rasa semua anak-anak merasakan hal itu. Begitu teratur dan berjalan dengan manis.Orang tua yang baik tentu tak akan membiarkan anak-anaknya hidup begitu saja tanpa memberi bekal. Bukan bekal harta melainkan di masa anak-anaklah doktrin tentang baik dan buruk, surga dan neraka, boleh dan tidak boleh itu di tanamkan dalam jiwa anak. Begitulah yang dilakukan orang tuaku terutama kakekku. Hal-hal yang berbau keagamaan adalah priorotas saat aku kecil. Benar-benar terkosep. Beranjak remaja, hidup terasa lebih berwarna lagi. Sensasi-sensasi rasa ingin tahu yang sangat nikmat. Ingin mencoba hal-hal yang baru dan baru. Tak mau ketinggala dengan segala macam info, Musik, Sosial, politik, budaya. Namun sangat jarang ada remaja yang memikirkan time limit hidup. Hidup seolah masih panjang. Cita-cita jadi rocker, (pengalaman nih hehe), dengan celana compang camping, baju urak-urakan. Aku tak akan berpikir "apakah sampai tua aku akan begini" atau kalau berpenampilan begini ada yang mau terima kerja gak?. Tak terpikirkan sampai kemudian masalah-masalah dalam hidup mulai muncul. Masalah-masalah biasanya lebih kompleks saat remaja mulai beranjak dewasa. Rasa tertekan, rasa ingin eksis dan sebagainya. Lalu cuma ada satu jenis remaja yg akan berhasil melewati fase ini. remaja yang dibekali pendidikan agama dan PPKn (hahaha) sejak kecil. Mereka punya batasan-batasan dalam "nakal"-nya mereka masih memikirkan rasa malu dan tanggung jawab. Ada rasa takut berkhianat dari doktrin kebaikan orang tua mereka, maka mereka sukses melewatkan masa-masa biru remaja itu.

Yang gagal tentu saja remaja yang kebablasan. Remaja yang akhirnya menyesal. Bahwa di dunia orang dewasa tak mengenal ada pegawai yang bertindik atau bertatto atau pecandu obat-obatan kecuali mau membuat usaha kreatif sendiri dan itupun harus melewati tantangan berupa kepercayaan orang lain. Bahwa tak ada orang tua yang mendamba menantu rocker abal-abal, yang gak abal-abal aja belum tentu orang tua mau. mereka tak sadar bahwa hidup itu punya batas waktu yang tak bisa diprediksikan. Mereka terlanjur pasrah.

Aku selalu ingat pesan kakekku. Aku diperbolehkan nakal seperti apapun dan selama aku mau. Tapi ingat, di dunia ini aku tak hidup sendiri. Banyak yang mengenalku. Berarti resiko untuk menanggung malu atau dibenci banyak orang juga banyak. Lalu ingat tanggung jawab. Tanggung jawab pada masa depan, keluarga dan Allah tentu saja karena hidup punya Time Limit!

Maka aku berpikir, jika aku bisa hidup bahagia dengan selalu berjalan pada nashat kakek dan orang tuaku, kenapa harus memilih jalan "nakal" yang berbahaya? Godaan memang banyak tapi jika kita selalu "sadar" insyaallah terjaga. Semoga Allah menjaga kita dari "kebablasan" yang salah. Amiin...

Catatan:
Gak ngerti juga gw kenapa malam ini bawaannya ingat mati mulu, maaf kalau postingan ini rada-rada kayak khotib, tapi ga apa-apa kan dari pada kayak penjahat. Maafin gw kalo ada salah-salah sikap dan kata.. Semoga Allah memanjangkan umur kita.Amiiin...

Kamarku, 25 Maret 2011. Abis Magrib!
Comments
2 Comments

2 comments:

Berkicau

Community