Apr 25, 2011

Brama Kumbara Wanna Be

Sejak TK aku tinggal dirumah kakekku, hanya sesekali aku pulang ke rumah ibu bapakku, itupun cuma buat ngambil stok pakaian dan pulang mandi sama ibu. entah kenapa kalau aku nginap dirumahku sendiri aku sulit memejamkan mata dan selalu rindu rumah kakek nenekku. padahal rumahnya bertetanggaan. ah aku memang aneh.
       Sepulang sekolah aku bersikeras ikut kakek untuk membawa kuda pacuannya ke Sawah. meski sudah dilarang oleh ibu. tapi kakek selalu membelaku dan membiarkan aku ikut dengannya. di jalan seperti biasa aku main koper-koperan di tangannya kakek. caranya aku bergelantungan di lengan kakek dan seolah-olah aku adalah koper yang di tentengnya. aku yakin lengan kakek pasti pegal tapi beliau gak marah. kalo sudah pegel bener pasti perhatianku akan di alihkah ke hal lain. misalnya "Lihat burung itu, makan apa ya dia?" 
yah begitulah, akupun elepas lengannya dan mulai memperhatikan siburung yang menyambar belalang.

     Kami tiba di kandang kuda yang lumyan jauh dari kampungku. dan kuda yang berbuluh hitam itu akan di bawa ke sawah untuk di mandikan. di perjalanan kakek menaikkanku ke punggung kuda dan beliau memenga tali kuda dan berjalan di depan. di atas punngung kuda, betapa girangnya aku. berkali-kali kakek melarangku agar jangan memukul-mukulkan tangan dan kakiku ke kuda tapi aku berhenti cuma sebentar, lagi-lagi ku ulangi. sampai saat-saat yang menegangkan buat kakekku namun menyenangkan buatku itu tiba. aku semakin keras memukul punngung kuda dengan tangan dan kaki kecilku sambil berteriak 

"serbuuuu, akulah Brama Kumbara"

 
Si Kuda hitam itupun tiba-tiba beraksi, seakan ia mengerti maksud kata "serbu" ku itu. ia mengambil langkah terpanjang dan talipun terlepas dari genggaman kakekku. dengan sangat kencang si hitam berlari membawaku melewati sawa-swah orang, parit, pematang, dan jalan. sementara kakek dengan panik berlari sekencang-kencangnya berusaha menangkap tali kekang si hitam. ah aku benar-benar merasa menjadi Brama Kumbara dengan kudanya. aku berteriak penuh semangat. ku pegang erat-erat bulu si kuda. semakin kencang larinya.
kakek semakin khawatir dan berteriak supaya aku jangan berteriak dan menarik tali kekangnya. di depanku ku lihat sungai. aku mulai takut. takut jatuh ke sungai, dan aku mulai takut kudanya gak mau berhenti. aku takut di bawa jauh oleh si kuda. aku panik. takut dan akhirnya meledaklah tangisku. yaaah cemen..

Kakekku terus berteriak menyuruhku menrik tali kekang si kuda. tapi belum sempat ku tarik tali itu. si kuda berhenti sendiri di pinggir sungai dan langsung saja menyantap rumput yang tumbuh hijau di pinggir sungai. tangisku berhenti. kakek malah tertawa melihatku.

"Brama Kumbara kok nangis??!" katanya
"Masih mau naik kuda?"

aku tersipu malu dan menggeleng-geleng kepala sambil mengusap air mataku. kakek mengelus kepalaku dan mengajakku memetik buah Karto (Buah yang mirip Stroberi tapi pohonnya besar).
kantongku penuh buah itu hingga banyak yang mengeluarkan air warna merah dan ibukupun kesal membayangkan susahnya noda itu hilang.

dulu aku memang nakal, sekarang gak lagi kok! di jamin.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community