Apr 17, 2011

Penobatan Sultan Sumbawa


5 April 2011, Daeng Muhammad Abdurrahman Kaharuddin dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa XVII. Ribuan orang memadati jalan-jalan dan Istana tua Bala Kuning di kota kami. Selama ini, kami, anak-anak muda di daerah ini hanya tahu, di gedung tua itu tersimpan benda-benda keramat. Apapula artinya bagi kehidupan zaman sekarang dimana tak seorangpun bisa lepas dari benda-benda tekhnologi? 
 
Sultan diarak dari Istana Bala Kuning, bersama permaisuri menggunakan tandu dengan hiasan warna kuning, yang disebut Juli. Sejak pagi hari, lonceng di istana sudah berdentang, menandai mulainya prosesi adat. Sultan dan permaisuri, Andi Tenri Djadjah Burhanuddin diarak sambil diiringi pasukan bertombak dan hulubalang istana, dengan musik rebana khas Sumbawa. Bersama permaisuri Sultan keluar istana Bala Kuning dengan bacaan Shalawat Nabi Muhammad SAW. 
 
Ribuan warga memadati dua sisi Jl Dr Wahidin dan Jl Sudirman, jalan protokol yang dilalui rombongan sultan. Rombongan bergerak dari Istana Bala Kuning menuju Istana Dalam Loka, istana kayu milik Kesultanan Sumbawa yang dibuat tahun 1885 silam. Di istana tua itu, Sultan dan Permisuri istirahat sejenak, sebelum menuju Masjid Agung Nurul Huda, tempat penobatan berlangsung. Di Masjid Agung, penobatan sultan tidak dilakukan dengan pengambilan sumpah, melainkan Sultan membacakan sumpahnya sendiri dengan bahasa Arab disaksikan Imam Masjid Agung. Sultan bersumpah sebagai orang yang ditakdirkan sebagai Sultan. Isinya antara lain kalau Sultan tidak adil maka dirinya akan dilaknati Al Quran 30 Juz. Usai sumpah itu, Sultan selanjutnya melantik pengurus Tana Adat Samawa. 
 
Selain oleh masyarakat, upacara penobatan dihadiri beberapa raja, diantaranya Raja Denpasar IX, Raja Niki Niki, Timor Tengah Selatan, NTT, Raja Gowa, Sulawesi Selatan, dan juga Gusti Kanjeng Ratu Hemas dari Kesultanan Ngayogyakarta. Gubernur NTB, M Zainul Majdi bersama pejabat Pemprov dan Pemkab Sumbawa dan Sumbawa Barat juga hadir di arena penobatan. 

 
Penobatan Sultan yang merupakan pertama sejak 80 tahun lalu itu bagi sebagian besar kami anak-anak muda, prosesi itu memang tidak lebih sebagai karnaval budaya. Harusnya Sultan naik tahta pada 1975 silam, sesaat setelah ayahnya Sultan Muhammad Kaharuddin III mangkat. Namun penobatan sultan waktu itu diputuskan ditunda. Kamipun lantas bertanya-tanya, apa pula urgensinya, penobatan seorang Raja atau Sultan di zaman seperti ini, zaman dimana seorang kepala Negara sekalipun sering dicaci dan dimaki karena dianggap tidak becus mengelola dan mempertahankan kedaulatan Negara? Zaman, dimana globalisasi telah membuka tabir rahasia paling rahasia. Segala sekat tersingkap, dan manusia di seluruh dunia, seperti hidup di dalam sebuah kampong yang sangat kecil. Bukankah penobatan itu sendiri tak lebih dari sebuah sandiwara yang digelar secara kolosal? Bisa saja anda berfikir seperti itu. Tetapi cobalah tengok kembali sejarah kami. Sejarah yang tak pernah berhenti menyusun diri, meski beberapa kali mengalami pembungkaman dan pemberangusan oleh sebab-sebab alamiah atau penguasaan bangsa lain. Selama itu pulalah kami terus tiarap, seperti menunggu untuk menyusun lembaran sejarah baru kami. 
 
Tetapi zaman terus bergerak. Seiring dengan perkembangannya, system kerajaan justru dianggap ketinggalan zaman, feudal, penuh kepalsuan dan lekat dengan penindasan. Sebab siapa pula yang mengangkat dirinya seorang raja dan menganggap dirinya lebih dari manusia lain? Begitulah zaman demokrasi ini menyebutnya, meski sejatinya sama saja. Demokrasi, ternyata juga tak seperti yang dibayangkan orang. Ia hanya milik mereka-mereka yang memiliki modal besar. Demokrasi menjadi mata rantai penindasan baru, dimana Negara-negara yang merasa lebih maju mengendalikan dan memaksakan keinginannya pada Negara-negara kecil. Globalisasi, senyatanya juga hanya kedok “penyeragaman” nalar dan pemaksaan sebuah komoditas budaya pada budaya-budaya yang telah ringkih. 
 
5 April 2011, memang layak disebut sebagai hari paling bersejarah bagi kami, masyarakat Sumbawa. Bukan saja karena dihari itu dilakukan penobatan Sultan setelah 36 tahun tertunda. Pada hari itulah kami sebagai masyarakat Sumbawa merasa harga diri, pengakuan, dan kehendak untuk berdiri tegak dan sejajar dengan masyarakat lain dibumi Nusantara dan diseluruh dunia sepertinya terwujud. Prosesi penobatan sultan itu sendiri hanyalah sebuah momentum dimana kami memaknai kembali sejarah kami; sebuah peneguhan, kedaulatan dan harga diri sebagai sebuah masyarakat yang memiliki akar, cita-cita serta kehormatan. 


Comments
5 Comments

5 comments:

  1. Nice blog sahabat..
    Sudah difollow, mohon segera kembali follow blog Bacaanmu teman..
    Silahkan juga tukaran link disini atau saling review Alexa disini..

    Saya juga berharap untuk komentar & kunjungan sahabat selalu, terima kasih..

    Salam Bacaanmu!

    ReplyDelete
  2. Terima kasih kawan, kita saling berbagi... dgn senang hati silahkan share artikel di web kami www.senimana.com sebanyak2nya. Kita saling berbagi ilmu untuk kemanusiaan. Salam !

    ReplyDelete

Berkicau

Community