Apr 25, 2011

Bolos Ngaji, Kisah Kecilku

Adalah Shanty, Saudara sepupuku yang umurnya satu tahun di bawahku. Dia adalah satu-satunya sepupuku yang bisa aku ajak main. karena sepupu yang lain masih "Ode" (Kecil). Karena sekarang sudah mulai SD maka aku dan shanti yang masih TK diharuskan belajar mengaji. ada 3 pilihan tempat belajar. Pertama di Papin Ketu (Kakek Ketu) seorang guru ngaji di kampungku yang terkenal keras dalam mendidik santrinya, Bapak Ojong (pak Ismail, bapaknya Unun seorang guru agama di SD) atau di TPQ Nurul Yaqin yang di asuh Oleh Pak Tahir Orang bima yang sudah puluhan tahun mengabdi sebagai guru agama dan tokoh agama di kampungku. kemampuannya tak diragukan lagi.

Bapak menyarankan aku mengaji di Papin Ketu, dengan alasan supaya aku lebih bisa belajar disiplin dalam ibadah. mendengar kata bapak aku langsung membayangkan seorang kakek berambut putih dengan kayu di tangan kanan,kaca mata yang melorot dan mulut yang penuh omelan. dengan sangat yakin aku menjawab gak mau di sana.

Tawaran mengaji di Bapak Ojong datang dari ibu dan nenekku. alasannya bapak ojong adalah keluarga dan dia orangnya lembut. tapi yang mengaji disana semua cewek. karena anak-anaknya bapak Ojong cewek semua. 

"Gak mau ah, ntar di kira bencong main-mainya ma cewek aja!" jawabku

"Bagaimana kalo ngaji sama Pak Tahir-nya aja, di sana banyak teman-teman laki-laki dan pasti belajarnya enak, kan pake kelas-kelas" kata kakek dan di iyakan oleh ibunya shanti.



"Aku maunya ngaji sama kakek aja! sama shanti juga" Jawabku dan langsung pergi

Dan begitulah, sejak itu aku dan shanti belajar ngaji di bawah bimbingan kakek, ngaji setiap malam, sehabis sholat magrib sampai Adzan Isya. Waktu makan malam tiba, ngaji break. langsung masuk makan. abis itu ngaji lagi. bayangkan kalo aku ngaji de 3 tempat yang di tawarkan, gak ada namanya break makan malam.

Waktu berlalu dan aku sudah mulai membaca Juz Amma, begitu juga shanti. Entah kenapa dari sore aku sudah gak mood untuk belajar ngaji. otakku terus berpikir apa alasan agar aku tak belajar ngaji malam itu.tapi sebelum ide itu muncul, waktu ngjadi tlah datang, dengan malas-malasan aku duduk disamping santi dan hanya memandangi Al Qur'an. Disuru membaca aku baru mau membaca, gak disuruh aku diam lagi. Shantipun tampaknya mersakan hal yang sama. akhrinya muncullah ide jahilku. pertama aku ingat shanti itu anaknya mudah keringatan. duduk di lantai keramik sebentar saja, bekasnya kayak orang ngompol, padahal cuma keringat. Ku bisikkan ideku ke telinganya. Shanti mengangguk setuju.
Aksi dimulai. Aku dan shati pura-pura kelahi dan shant nangis sejadi-jadinya. akting yang hebat. Tangannya di usap-usapkan ke matanya alhasil matanya seolah-olah baru saja mengeluarkan banyak air mata. Kakek dtg, kami beradu mulut meski dengan kata-kata tidak jelas. Mau tidak mau kakek harus memisahkan kami.

"Sudah..sudah.. kalau kelahi begini bagaimana ngajinya?"  Katanya
"Sekarang bereskan Qur'annya, ngajinya lanjutkan besok malam saja" Lanjutnya.

hampir tak bisa menahan tawa, aku dan santi ngacir keluar rumah.

Karena taktik itu akhirnya ketahuan juga, aku punya taktik lain. Tidur! yah.. taktik berikutnya tidur, pura-pura ngantuk. di keluarga aku dikenal cepat ngantuk dan emang suka ngantuk. pernah aku tertidur di meja makan waktu makan malam..aneh bukan? sekarang udah nggak tuh!
Waktu itu jam 8.30 malam akan ada film silat favoritku di TVRI (Dulu yang ada cuma TVRI dan TPI di rumah), ngaji sudah tidak konsen lagi dan rasanya pengen menyudahi tapi waktunya masih lama. Ah, aku pura-pura tidur aja, nanti pasti disuru berhenti ngaji, pikirku. Rencana aneh dan gak biasa itu ku lancarkan. sambil duduk aku pura-pura tidur, sesekali kepala menunduk dan menengada seakan tak sadar. Shanti ketawa meliat tingkahku. Datanglah sang bibi yg waktu itu masih lajang. Bibi yang terkenal galak. melihatnya aku seperti melihat ayam sedang mengeram. galak. gak bisa di ganggu.

"Apa-apan ini? ngaji kok tidur? bangun!! " Bentak si Bibi

Pikirku, kalau aku bangun aku akan ketahuan pura-pura, aku cuek aja. malah semakin memperlihatkan mula lelapku. ah anak-anak.
Ujung-ujungnya, Belajar ngaji malam itu disudahi, Shanti telah pulang kerumahnya sementara aku masih duduk dengan akting tidurku. mau bangun salah, mau tetep tidur, garing banget. mana ada orang tidur sambil duduk? akhirnya dengan sangat malu ku rebahkan badanku ke belakang. berbalinglah aku. agak lama, diam-diam kulirik jam diniding, tepat jam 8.29. aku bangun seolah-olah baru sadar. merengek lapar. bibiku ketawa, kakek mengeleng-gelengkan kepala, nenek tertawa lepas hingga giginya yang bekas kapur sirih terlihat semua. dengan malu aku berjalan gontai ke meja makan dan acara nonton Film favoritpun lancar. meski bibi dan shanti terus saja mengejekku.

"kalo nonton aja gak ada ngantuk-ngantuknya ya..."
Ah cuek aja. toh dirumah aku di panggil cuek oleh paman-pamanku.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community