May 7, 2011

Apa yang kamu inginkan untuk masa depanmu,nak?

Sesungguhnya cinta itu adalah anugerah dan rahmat dari sang Pencipta. Cintalah yang membawa semua keindahan yang pernah hadir di muka Bumi. Masterpiece lahir oleh cinta tulus seorang pada bidangnya, pada orang yang dicintainya. Dua orang berpasangan bergandengan tangan, tersenyum, terharu, menangis dan tertawa bersama oleh cinta. Mereka bahagia.

Namun ternyata kehancuran, penghianatan, kekecewaan, keterpurukan juga imbas dari cinta. Benarlah kiranya jika sesuatu atau seseoran yang kita cintai adalah sesuatu atau seseorang yang berpotensi besar membuat kita terluka. Aku percaya itu.

Adalah cinta seorang Ayah pada anaknya. Cinta yang begitu besar dan tulus. Melebihi cintanya pada diri sendiri. Segala yang terbaik selalu ia berikan pada putra pertamanya itu. Apapun yang menurutnya baik. Sang anak adalah anak yang pendiam, tapi ia terlihat menikmati kasih sayang orang tuanya yang luar biasa itu. Tak pernah ia meminta hal-hal besar selama hidupnya. Sang ayah tak pernah berhenti dengan kasih sayangnya. Si anak di sekolah di SD terdekat agar tak terlalu khawatir pada sang anak, setamat SD sang ayah memilihkan sekolah terbaik untuk putranya, lalu sekolah menengah atas plihan anaknya. itulah pertama kalinya si anak memilih. 

Menjelang Kelulusan SMA, sang Ayah sibuk mencari informasi Universitas dan jurusan yang tepat untuk anaknya. Tak kenal lelah demi cintanya pada sang anak. Ia ingin anaknya sukses dan bahagia kelak saat sudah dewasa. Maka itu ia memilihkan jurusan yang banyak direkomendasikan oleh sahabat dan kerabatnya. Dengan bangga sang Ayah memberitahuka pada si Anak bahwa nanti setelah lulus dia akan kuliah di Fakultas Keguruan Sebuah Universitas yang masih berada di provinsi sendiri sementara kenginan sang anak untuk belajar Mesin begitu besar. Lagi-lagi sang Ayah tak kuat jika harus berpisah jauh dan terlalu lama dengan putra kesayangannya. Si Anak mengangguk tak bersemangat, lalu melanjutkan belajar untuk ujian akhirnya.
Si anak lulus dan didaftarkan di jurusan yang dimaksud sang ayah. Singkat cerita iapun lulus. Betapa bangga sang ayah. Kelak anaknya akan menjadi seorang guru dan pegawai negeri. Otomatis hidup anaknya tak akan susah, paling tidak lebih baik dari dirinya yang hanya menjadi petani.Syukur dan puji-pujian ia haturkan pada Tuhannya atas kelulusan sang anak di universitas. Acara syukuran keci;-kecilkan dengan mengundang tetangga terdekat diadakan. Tak bosan-bosan ia bercerita tentang harapannya pada sang anak kelak saat lulus dengan kelar Sarjana pendidikan. Diberikannya juga nasehat pada tetangga-tetangganya itu agar anaknya menjadi guru saja. Jalan hidup pasti mudah,katanya.

Tapi Tahukah sang ayah itu..
Saat Sang Ayah begitu bersemangat menentukan masa depan untuk anaknya, si anak menangis pilu karena mimpinya dirampas oleh kasih sayang ayahnya.
Saat ayahnya berkata inilah yang terbaik untuk masa depanmu, si anak berbisik dalam hati tak bolehkan aku memiliki keinginan untuk masa depanku sendiri?
Si anak tak bisa mengelak dari pilihan-pilihan ayahnya. Bukan. Bukan tak bisa. Tak mampu tepatnya. Ia tak mampu mengecewakan ayahnya yang ia tahu begitu mencintainya.  Ia lebih memilih merelakan mimpinya menjauh daripada mengecewakan ayahnya. Ia hanya bisa memangis saat tak ada siapa-siapa. Mengadu pada Tuhannya atas semuanya. Ia lelaki dan seharusnya ia punya pilihan untuk hidupnya sendiri.paling tidak untuk dipertimbangkan oleh ayahnya. Namun semangat dan cinta ayahnya terlalu menggebu dan membumbung tinggi.. Ia tak ingin saat ia bantah semuanya ayahnya akan jatuh pada kekecewaan yang menyakitkan. Ia menunggu dan selalu menunggu sebuah pertanyaan dari sang ayah 

"Apa yang kamu inginkan untuk masa depanmu,nak?"

Menjalani hari-hari dengan hal-hal yang tak disenangi tentulah hal yang tak mudah dan itu harus dilalui sang anak selama beberapa tahun. Suatu saat magma itu akan muncul ke permukaan dan meledak. Karena hidup itu harus dijalani dengan kesenangan hati, dengan suka cita dan ikhlas. sementara ikhlas itu begitu sulit untuk beberapa alasan.

Maka itu wahai para bapak-bapak dan calon bapak-bapak. Jangan biarkan cintamu pada anak membuat kalian lupa bahwa si anak juga manusia yang mempunya kenginan, kemauan dan minat sendiri. Yang tak bisa dipaksa seperti robot. Segala yang terbaik menurut orang tua tak selamanya terbaik untuk dan menurut anak. Biarkan mereka bebas memilih selama itu baik. Apa lagi yang kita cari di dunia ini selain bahagia? Tak ada gunanya memiliki segalanya jika tak bahagia. Bahagia itu adalah saat kita menjalani hari-hari dengan hal-hal yang kita sukai dan orang-orang yang kita sayangi.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community