May 9, 2011

Penutupan Festival Budaya Sumbawa 2011

"Aku tak ingin lenyap walau telah hilang, aku tak mau mati walau telah terkubur, aku tak akan redup walau lampu lampu pentas padam, aku tak akan berhenti menari dan bermelodi walau layar panggung ini diturunkan, aku tak mungkin senyap walau suara suara dibungkamkan, aku ingin hidup seribu satu tahun lagi untuk kebudayaan, aku adalah ruh dalam jiwa-jiwa, jika pun aku pergi, kehidupan ada di mana-mana..! Salam" (Bunda Bening)

Puisi itu di deklamasikan begitu lantang dan menyentuh jiwa maka kelar sudah perhelatan akbar Festival Budaya Sumbawa 2011 : Samawa Intan Bulaeng. Berakhir dengan decak kagum para penonton, senyum puas para pelakon, dan dada kembang kempis bangga Tau Samawa. Acara yang digelar selama 5 hari (4-8 Mei) ini sukses mempersembahkan sekaligus membuktikan eksistensi kebudayaan Tana' Samawa yang gilang gemilang dan kaya.

Bolehlah kiranya aku sebagai salah satu bagian dari pelakon acara ini mengucapkan rasa bangga dan haruku. Bangga karena meski tak begitu banyak mendapat peran, paling tidak pernah berada di panggung megah yang menoreh sejarah baru Sumbawa itu dan terharu, tepatnya bahagia melihat Tana' Sumbawa-ku di elu-elukan keberagaman adat dan budayanya.

Bintang-bintang yang menari di bawah bianglala, mereka bekerja keras untuk kesuksesan acara ini. Kak Joe Think dengan ide briliant dan kesabaranya membimbing para pelakon, Kak Ivan yang cerdas, yang merancang kostum-kostum penuh warna dan elegan tanpa meninggalkan ciri khas Sumbawa. Aku bangga pada mereka. Juga Pada BUnda Bening yang KIAK (Semangat) mewujudkan acara ini bersama Bapak Badrul Munir (Wagub NTB) sebagai penggagas. Seorang pemimpin yang tak lupa pada budaya, seorang pemimpin yang mencintai budaya. 

Tak banyak yang bisa ku tulis, secara pribadi memang ada hal-hal yang sedikit membuat kecewa tapi itu sama sekali tak perlu untukku bahas dan di permasalahkan. Aku terlanjur bangga dan bahagia untuk FBS, KIAK g-Art dan Sumbawa-ku!

Berikut ini 5 Hal yang menjadi Alasan Hebatnya Festival BUdaya Sumbawa 2011 :


1. Panggung yang luas dengan tata lampu dan dekorasi yang apik. 

2. Musik pengiring yang luar biasa. Memadukan musik etnik dan modern, syahdu, menghentak menyemangati.

3. Kostum penari dan pemusik yang elegan, penuh warna, berciri khas sumbawa (Motif Bunga Eja, Lonto Engal, Cadar dll)

4. Penari-penari yang cantik molek dan tampan berwibawa dan penuh senyum semangat.

5. Team building yang kokoh dan kompak, meski pada awalnya para penari adalah mahasiswa-mahasiswa Sumbawa yang berada di Mataram yang sebagian besar sebelumnya tak saling mengenal.


Dewa Mas Mawa Sultan Kaharudin IV yang diminta memberi sambutan juga menyatakan bahwa event ini “Sungguh Cemerlang”, karena tidak saja memperkenalkan budaya Samawa, tetapi juga memiliki nilai penting sebagai medan pemaknaan kehidupan menghadapi era global. Sultan Sumbawa ke 17 tersebut mengatakan,” Sikap budaya itu seperti parasut, akan berfungsi jika sudah terbuka. Karena itu hakekat dari kebudayaan adalah pola pikir dan pola sikap kita yang respektif terhadap kebaruan tanpa meninggalkan khazanah yang kita miliki,” ungkapnya. 
 
“Tak lupa saya sebagai pribadi, juga mewakili masyarakat Sumbawa mengucapkan terimakasih yang sangat mendalam kepada masyarakat kota mataram khususnya yang menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ini, kepada para pejabat daerah, juga para pengisi acara dan seluruh panitia,” kata Sultan menutup sambutannya.
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini memang tidak hanya menampilkan pentas atau atraksi kesenian saja. Tetapi juga diisi dengan berbagai rangakaian acara, seperti lomba lukis dan mewarnai untuk anak-anak, loba memasak, dialog budaya dan aneka rupa pameran industry kerajinan khas Sumbawa serta pameran foto Sumbawa tempo dulu hingga kini. 
 
Dalam kegiatan mala mini juga dibacakan Deklarasi Budaya Sumbawa yang intinya bahwa dengan berpegang teguh pada nilai-nilai luhur tradisi, masyarakat Sumbawa khususnya, berikhtiar untuk memajukan seni-budaya serta menjalin silaturrahmi budaya, mempererat tali persaudaraan serta bersama-sama meraih kemajuan bagi daerah hingga ke pentas nasional dan internasional.(senimana.com)


FBS 2011, PENGHARGAAN BAGI MEREKA YANG BERJASA 
 
Malam penutupan FBS 2011 ini menjadi terasa sangat istimewa dengan diserahkannya anugerah budaya, atau penghargaan kepada para seniman dan budayawan yang telah berdedikasi untuk memajukan budaya Sumbawa dari Gubernur Nusa Tenggara Barat. Penghargaan tersebut disampaikan kepada 7 orang seniman dan budayawan, diantaranya; H. Mustaqim Biawan, Mantan kepala Taman budaya NTB atas jasa-jasanya. Bahkan dimasa pension, budayawan senior itu masih aktif menjadi pembicara seni-budaya didaerah maupun ditingkat nasional juga menciptakan lagu-lagu yang menjadi mars kab. Sumbawa Barat serta beberapa lagunya dijadikan nada sambung bekerja sama dengan Telkomsel. 
 
Peraih penghargaan berikutnya adalah H. Dinullah Rayes, sastrawan senior yang karyanya dapat dijumpai dalam berbagai antologi bersama maupun antologi tunggal. Perannya sebagai budayawan Sumbawa cukup besar terutama dalam memajukan Lembaga Adat Tana Samawa. Penghargaan lainnya juga diberikan kepada H. Machmud M, Drs. A. Gani Selim, Nurhayati K, Spd, Alm. Bujir DM, dan Hasanudin, SPd. 
 
Pemberian penghargaan ini merupakan wujud apresiasi yang mendalam dari pemerintah daerah, khususnya dalam pengembangan seni-budaya di Nusa Tenggara Barat. Dengan penghargaan ini akan memberikan beberapa dampak seperti ketauladanan bagi generasi muda untuk terus berkarya demi kemajuan daerah. Wagub NTB secara khusus menyatakan bahwa penghargaan serupa akan diberikan setiap tahunnya bukan hanya untuk para senior, tetapi semua kalangan, termasuk generasi muda yang memiliki inovasi-inovasi dalam berkarya dan mampu menciptakan dampak yang positif bagi daerah NTB.(senimana.com)
 
PAGELARAN YANG MERIAH  
 
Seusai sambutan-sambutan dan pemberian anugerah budaya, acara dilanjutkan dengan penampilan KIAK SPIRIT yang menyajikan aneka taritian dan iringan music yang luar biasa, perpaduan antara etnik , modern dan kontemporer. Pada malam penutupan ini, kita bias mendengarkan aransemen rancak lagu-lagu Sumbawa yang digarap dengan apik. Suasana yang dihadrkanpun hampir mirip dengan pembukaan piala dunia di Afrika Selatan kemarin. Hal ini patut diapresiasi, betapa tanah Samawa yang banyak memiliki padang Savana, terasa seperti The Litle Afrika, sehingga memiliki beberapa kesamaan ritme dan melodi. 
 
Berbagai tarian dengan sesekali diselingi puisi itu sungguh mampu menghipnotis pengunjung. Panggungpun terasa mewah dengan taburan warna-warni cahaya dan gerak gemulai para penari yang menggunakan kostum dominan cerah. Acara ditutup dengan pawai obor dan pembacaan puisi yang mengikrarkan kemuliaan tanah Samawa. (senimana.com)

Iqbal Harun Sohar : Jenderal Musik KIAK

Dwi Bujir "Penyair Jiwa"

KIAK Cultural Show

Tarian Angin Renas

Bagian Tarian Angin Renas

 Kata Mereka :


Pak BM Penggagas FBS (Wagub NTB)
“Catatan penting dari daeri kegiatan ini adalah FBS 2011 merupakan ajang silaturrahmi lintas budaya. Saya melihat bahwa selama ini kita sering terjebak dalam ego sektor budaya, dimana masing-masing budaya merasa dirinya yang terbaik, padahal semua adalah baik dan terbaik. Dengan memahami budaya lain, kita menjadi lebih berendah hati namun tetap bersemangat untuk berbuat yang terbaik,” ungkap Wagub. 
 
“Festival ini adalah jalan harmoni, dimana kita bias saling bahu-membahu, bekerjasama memajukan kebudayaan kita. Tak lupa saya menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak atas apresiasinya yang mendalam, tertama panitia yang sudah bekerja keras dan sangat solid. Ini merupakan cerminan kerjasama yang baik dari anak-anak muda kita dan seluruh masyarakat yang mendukung kegiatan ini” ungkap Wagub NTB. 


Dr. Endo Suanda, yang diminta berkomentar secara resmi pada malam penutupan festival yang lebih tepat disebut sebagai malam puncak acara itu juga membenarkan, bahwa banyak hal yang bisa dimaknai dari festival besar ini. 
 
“Tadi saya menunggui mereka, anak-anak muda itu yang latihan sampai menjelang pagi. Kita para orangtua selalu menyalahkan mereka seolah anak-anak muda tidak memiliki kepedulian. Ini bukti bahwa keliru jika anak-anak kita tidak memiliki kepedulian dan kecintaan terhadap khazanah tradisi. Tinggal bagaimana sekarang memfasilitasi dan mendorong mereka untuk terus maju,” Kata direktur PSN atau Pendidikan Seni Nusantara tersebut. 
 
“Saya merasa bersyukur bisa menyaksikan seluruh rangkaian acara. Luar biasa. Festival ini membuka mata bagi kita semua, tidak cukup kita lihat hanya sebagai pentas seni semata. Masyarakat, kita semua bisa belajar banyak hal. Ada banyak rangkaian acara, tidak hanya pementasan seni. Tadi saya lihat ada pameran foto, disitu ada foto karya Kapolda dan Kapolres lombok Timur yang menurut penilaian saya sangat luar biasa, setaraf dengan hasil jepretan para profesional. Ini membawa makna, bahwa para seniman, budayawansemestinya juga harus merasa tertantang. Jika kapoldanya sudah mahir seni, maka seniman-budayawan juga harus memiliki kecerdasan politik, kecerdasan sosial sehingga kita memiliki tanggungjawab pada kebudayaan dan kerukunan sosial,” ungkapnya. 
 
“Kemarin ada Lomba memasak yang diikuti oleh para pejabat. Saya tanya kesalah seorang peserta , sudah berapa lama bapak tidak memasak? Lalu beliau menjawab, 52 tahun. Memang umur bapak berapa? Dia jawab, 52 tahun juga. Berarti semuur hidup baru pertama kali ia memasak. Luar biasa, festival ini memberi ruang bagi orang-orang yang belum pernah menjadi pernah,” tuturnya. (senimana.com)
 
 Fan Page Festival Budaya Sumbawa 2011 




Sumber foto : dokumentasi senimana.com


Comments
5 Comments

5 comments:

  1. Aku blom nonton kok sudah tutup nih.. Sukses deh..hehe

    ReplyDelete
  2. tunggu festival berikutnya :)

    ReplyDelete
  3. arifah lagi ne guys...aq hanya menikmati istimewa acra tu dalam khaylan wkt aq tau di net.ya rabb gk sabar ingin segera raga ini beranjak dari bagian bumi lain ini..mf yac oretan aku banyak banget alnya mumpung da kesemptan.im always missing u west sumbawa

    ReplyDelete
  4. sempurnaaa,,,,,FBS 1 N FBS 2,,,,,!!!!

    ReplyDelete

Berkicau

Community