Jun 23, 2011

Ayam dan Burung Elang

Hari yang sangat melelahkan, kawan! Subuh-subuh aku sudah harus ke terminal bus Damri untuk mengantarkan Edi sepupuku yang pulang ke Sumbawa hari ini. Meski dingin aku senang saja mengantarkannya pulang. Lepas itu aku tak lantas pulang ke kost, hari ini ada beberapa hal yang harus ku urus dan itu pasti akan menyita waktuku. Dan benar saja, aku benar-benar kelelahan dibuatnya. Yah, aku baru saja membuka pintu kamarku, mengganti jeans dan kemejaku dengan celana pendek dan singlet lalu duduk disini, di depan komputer bututku! Aku sedang menulis saat ini, menulis hal-hal yang patut untuk ku ingat hari ini. 

Hari ini (sejak kemarin sebenarnya), dari kakak sepupuku aku mendapat tugas mendesain, mencetak dan mengirim undangan resepsinya. Intinya aku dapat amanah untuk menyelseikan urusan cetak mencetak undangannya. Well, desain sudah kelar sejak dua minggu yang lalu dan 600 undangan berbentuk kalender meja berwarna biru sudah ku kirim ke Sumbawa sesuai pesanan, lalu masalah mulai muncul saat ternyata butuh sekitar 500 undangan lagi dan dari keluarga calon suaminya ada nama-nama yang belum sempat di masukkan ke dalam daftar "Turut Mengundang", Bang Lee (Calon suami kakak sepupuku) bilang ada keluarganya yang Meju (Ngambek ; bahasa sumbawa) karena tak melihat namanya disana, menurut bang Lee ini bukan masalah sebenarnya buat dia tapi karena sang keluarga yang namanya tak ada itu merasa tak "dipentingkan", tak diperhitungan atau tak..tak..tak.. sebagainya.. ah.. ku pikir jika dia renda hati, baik, tidak sombong dan rajin menabung tak perlulah unjuk-unjuk diri hehe itu menurutku,Orang itu mungkin punya pendapat lain. Sudahlah.. Maka undanganku edit lagi, ku bawa lagi ke percetakan. Masalah lain muncul lagi, Percetakan tak bisa mencetak 500 undangan dalam jangka waktu 3-4 hari sesui request kakak sepupuku. aahhh ada-ada saja, acaranya kan tanggal 3 Juli paling tidak 2 minggu sebelum acara undangan sudah kesebar.. hmm aku tau solusinya, DUIT! yah.. akhirnya setelah ditambah beberapa duit lagi setujulah percetakan itu. Tentu saja aku harus bayar DP untuk itu dan kau tahu kawan, ATMku semalam tertelan oleh Mesin ATM dekat kost-anku..ckckck. Aku pun segera ke Bank Mandiri dan harus menunggu hampir 3 jam untuk sampai pada giliranku. Setelah beberapa menit "ngobrol" dengan teller bank yang baik hati itu. 

Urusan ATM kelar meski ATM-nya baru bisa diambil besok siang jam 12. Baiklah, tidak apa-apa yang penting hari ini aku bisa mengambil uang untuk DP cetak undangan. 

Kelar urusan undangan aku tak juga bisa pulang. Masih ada urusan lagi, cetak Label Undangan. Gara-gara printerku rewel aku harus nyari rental komputer dengan segera karena jam 2 siang aku harus megirimkan label ltu ke SUmbawa, ahh kayak di sumbawa gak ada aja. Tapi sekali lagi kakakku telah mengamanatkan ini ke aku dan aku sekarang ada di LOmbok, maka harus ku seleseikan. Sialnya.. entah ada apa, listrik di kota mataram padam pada saat yang tak kuharapkan! Damn!! tapi untung saja ketemu rental yang punya mesin diesel, itupun setelah aku muter-muter kesana-kemari nyari rental dengan mesin diesel. Hmm.. 

Begitu kelar ngeprint label-label itu ku bungkus dan lagi-lagi aku harus bermotor ria ditengah terik panas ke terminal untuk bertemu agen BIs Taruna Jaya yang akan membawa paketanku ke Sumbawa dan kau tahu kawan, aku sampai disana jam 1 siang lewat sedikit, bisnya tak jua datang hingga Adzan Ashar berkumndang.. Aku sudah capek berganti posisi di bangku ruang tunggu, tidur, tengkurap, duduk meluk lutut, jongkok di kursi, dan untung saja pedeku tak sampai membuatku nungging disana. 

Sampai satu jam sebelum bis datang aku melihat wajah yang familiar sekali. Naya namanya. Temen SMA adikku yang ku kenal di organisasi disini. disinilah titik seru dan hebatnya hari ini. Mungkin karena sudah terlalu bosan duduk sendiri berjam-jam dengan hape yang mati dan makanan ringan yang tinggal kenangan aku bangkit dan mendekati Naya yang dudul jauh di luar ruang tunggu sana, cewek supel dan heboh ini langsung girang melihatku. Tampaknya kami mengalami keadaan yang sama saat itu. Sama-sama bosan menunggu! Obrolan dimulai dengan bertanya "sudah lama ya disni?" hampir bersamaan kalimat itu keluar dari mulut kami. Lalu kami tertawa dan mulai ngobrol dengan serunya. 

Sebelumnya aku mengenal Naya sebagai anak yang asik dan tomboy. Tapi hari ini aku sadar aku keliru, ternyata dia lebih asik lagi dan satu hal dia SMART! cewek yang energik dan sangat ramah. Kami berbicara tentang temannya yang sakit malaria dan tipus dengan segala tetek bengeknya penyakit itu (dia kuliah kesehatan), lalu tentang Kegiatan KIAK gART organisasi kami bersama, tentang manfaat organisasi dan dia bercerita banyak tentang pengalamanya selama ini di berbagai macam organisasi. Bagaimana ia menentang kampusnya yang penuh kecurangan, dan bagaimana ibunya mendukung perlawanannya bangga karena dia benar. Hmmm.. pembicaraan itu sama sekali tidak membosankan karena dia tidak seperti sedang membanggakan diri, dia bercerita apa adanya. Aku lebih banyak mendengar dan sesekali membenarkan atau mengingatkan kata-kata yang ia lupa. Lalu dia juga sempat bercerita tentang Sebuah kisah Ayam dan Elang yang dicritakan oleh salah satu pengisi seminar di organisasinya, dan ku pikir ini sangat bagus untuk teman-teman baca, begini ceritanya : 

Disebuah pohon bersaranglah burung Elang yang sedang bertelur, lalu dibawah pohon tersebut hidup ayam yang sedang mengerami telurnya. Pada suatu hari jatuhlah 1 telur Elang ke dalam sarang Ayam tersebut. Ayam tak peduli ada penambahan telur dengan rupa berbeda di sarangnya, dia terus saja menengeraminya hingga akhrnya ia menetaskan telur-telurnya termasuk telur sang Elang. Anak Elang itu tumbuh bersama anak-anak ayam, dia hidup seperti layaknya ayam, yah dia tidak bisa terbang meski pada hakekatnya Elang adalah burung yang terkenal bisa terbang tinggi dan lama. 

Apa hikmahnya? 

Jadi manusia itu memiliki potensi yang sangat besar, sesuai kemauan dan keyakinannya. Bahkan dalam hal negatif. Kenapa negatif? Lihatlah Anak Elang yang sejatinya bisa terbang menjadi tak bisa terbang karena hidup dilingkungan unggas yang tak bisa terbang sejak kecil, mentalna telah membentuk dirinya sebagai seekor ayam bukan elang, meski fisiknya elang dia merasa dirinya ayam maka dia tak bisa terbang. 

Jadi siapapapun kita kesempatan untuk berubah itu selalu ada. Jika ingin menjadi ayam, maka hiduplah dengan ayam dan cara-cara ayam. Tapi jika ingin jadi Elang maka hiduplah bersama elang dan cara-cara elang. Jika ingin luas dalam pengetahuan sering-seringlah beraul dengan orang-orang pintar yang begitu banyak di berbagai organisasi dan perkumpulan lainnya. 

Semua ada dirimu tinggal bagaimana kita membuatnya muncul saja. Setelah itu kami diam sejenak merenungi cerita itu, dan Bis yang tunggu-tunggu muncul. Naya naik ke bis, aku menyerahkan paketan itu dan kami saling mengucapkan salam perpisahan sementara dan "Take care.." 

Aku melaju pulang ke kost, lalu menyapa Echo yang sedang membersihkan motor, membuka pintu kamar, mengganti jeans dan kemeja dengan celana pendek dan singlet dan mengklik "New Entri" di dasboard blogku.
Comments
2 Comments

2 comments:

Berkicau

Community