Jul 15, 2011

Suatu Sore di Sebuah Pesantren

Ini pertama kalinya aku berada lebih dekat dengan lingkungan bernama pesantren. Tidak banyak hal yang kulihat karena tak terlalu lama aku disana. Akan tetapi yang kulihat cukup mennyentil perasaanku dan meberikan pengalaman berada di pesantren. Lucu dan mengharukan.

Selepas Jum'atan di Mesjid Mulawarman Perumnas Tanjung Karang - Ampenan, Aku memacu Jupiter merah sepupuku menuju Narmada, kota yang di sebut-sebut kota air karena banyak pemandian bagus dan Taman Narmada itu. Tujuanku ke Pondok Pesantren Nurul Haramain Putri. Menemuai Paman Din yang datang dari Sumbawa untuk menjenguk Putri semata wayangnya Icha yang menjadi santri baru di pondok pesantren Favorit itu. 17 menit kemudian aku tiba disana. Ramai sekali halaman pesantren itu oleh orang tua santri baru yang datang menjenguk anak-anaknya dan santri-santri lama yang sedang melayani para orang tua santri baru. Membertahukan mereka kamar anaknya, menunjukkan tempat kamar kecil, tempat sholat pria, tempat istirahat, dan lain-lain. Mereka semua yang kulihat nampaknya sibuk dengan aktivitas masing-masing. Kubuka helm dan kaca mata hitamku, lalu mengedarkan pandangan mencari dimana kira-kira posisi pamanku sekarang. Tak ketemua juga, ku keluarkan handphone dan mencoba menghubunginya. Saat mulai tersambung terdengarlah nada dering serupa sirine pemadam kebakaran yang nyaring sekali membelah keramaian. Aku curiga itu suara handphone pamanku. Ku matikan panggilan hilang juga suara itu dan benar saja itu suara hape pamanku. Hahaha. 

Di sana, di Berugaq tempat pamanku duduk ada Icha dan 4 temannya. Mereka sedang ngobrol dengan paman. Mendengar nasehat paman dan aku menangkap sepertinya mereka tak hanya medengar nasehat atau duduk ngobrol biasa, tapi ada rona gelisah di wajah keempat temannya Icha. Seperti ingin bicara tapi tak berani bicara atau seperti takut ketahuan bahwa mereka menyembunyikan sesuatu. Aku memberikan ole-ole yang kubeli di jalan buat Icha sebuah kantong kresek Hitam besar berisi Stik Kentang Balado porsi Besar, Cokelat Gery Saluut satu kotak dan sebuah buku harian. Sengaja aku membelikannya buku harian, maksudku agar Icha mau menulis sejak dini. Paling tidak menulis apa saja yang ia pikirkan setiap hari, kapan saja ia mau. Ku jelaskan padanya maksudku membelikannya buku itu dan nampaknya dia mahfum. Icha memang gadis kecil yang pintar. Ku alihkan perhatian pada keempat temannya. Mereka semakin kelihatan gelisah. Lalu ku tawarkan mereka kentang stik balado itu. Mereka geleng-geleng malu. sampai akhirnya icha menjelaskan tentang sikap teman-temannya.

"Pak, teman-temannya Icha pengen pinjam hape buat nelpon orang tuanya.." Kata Icha pada bapaknya yang sedari tadi senyum-senyum saja memperhatikan tingkah laku anaknya dan keempat temannya.

"Oo..silahkan nak..ayo..silahkan dipakai saja.. jangan malu-malu donk.." Tawar Paman Din dengan penuh antusias.

"Pake Hape kakak juga nih." Aku ikut menawarkan dan menyodorkan hapeku pada Aulia, temannya Icha yang berpostur paling kecil diantara mereka.

Awalnya mereka malu-malu lalu akhirnya mereka telah sibuk berbicara dengan orang tua mereka. Aku tersenyum dan terharu melihat betapa rindunya mereka. 

***

Aku jadi teringat tiga tahun yang lalu. Saat itu aku dan teman-teman pramuka universitas mataram mengadakan Lomba Ketangkasan Penggalang di Lembah Madani - Sedau. Pesertanya dari seluruh pramuka penggalan sepulau Lombok. Tak terkeuali anak-anak Pondok Nurul Haramain Putra dan Putri. Acaranya sangat-sangat meriah dan seru. Tak perlulah kujelaskan seseru apa acara itu. Aku cuma ingin mencertakan tentang anak-anak pondok yang lugu ini.

Hari terakhir kegiatan, seperti biasa para peserta dan juga panitia bertukar alamat email,, Friendster, Alamat Rumah dan Nomor Handphone. Lalu yang unik, anak-anak dari pondok seperti kita ketahui tak dibolehkan untuk memegang handphone selama berada di lingkungan pondok jadi tidak heran jika mereka selalu menjawab dengan senyum saat di tanya berapa nomor hape? Tapi itu bukan berarti mereka tak memberi kesempatan kepada kawannya untuk melanjutkan komunikasi. Mereka meminta si teman menyebutkan nomor hape dan percaya gak percaya sebagian dari mereka menghafal nomor-nomor itu. Gilaa.. ada juga yang mencatat di agenda mereka masing-masing. Lalu bagaimana mereka berkomunikasi? 

Kejadian ketemu Icha dan keempat temannya inilah yang membuatku terharu. Betapa dulu aku tak menghargai pengorbanan mereka menelponku. Ya.. menelpon bagi kita mungkin hal yang sangat lumrah dan biasa. Hanya butuh pulsa dan kita bebas menelpon siapa saja. Tapi tidak bagi mereka.

Waktu itu aku dan kawan-kawan sedang di sekretariat Pramuka dan sedang kecapaian pasca kegiatan. Tiba-tiba handphon berdering, panggilan dari nomor baru. Dengan sedikit malas ku angkat telepon itu dan dari seberang sana terdengar suara cewek yang seperti sengaja di pelan-pelankan.

"Halo..assalamualaikum kak.. ini kak aJie kan?" sapanya masih seperti berbisik.

"Iya..ini siapa?"

"Ini Novi kak, ingat?"

"Novi yang mana ya?"

"Novi...anak NuHa (singkatan dari Nurul Haramain), masa lupa kak?"

"Oo..Novi.. ada apa?" Tanyaku agak kesal karena saat itu badan dan otak benar-benar capek, ku anggap telepon dari ABG ini tak penting sama sekali, jadi ku jawab saja sekenanya setiap dia bertanya dengan maksud agar dia segera mengakhiri berbincangan ini.

"Kak.. udah dulu ya, hapenya mau diambil sama empunya" Katanya dengan setengah berbisik dan hati-hati sekali.

" Okkeeh..." jawabku.

"Assalamualaikumm.." lalu tut..tut..tut.. sambungan putus dan aku lega waktu itu. 

Tapi melihat keempat temannya Icha sore itu. Hatiku terenyuh. Aku merasa bersalah telah mengabaikan mereka yang untuk menelpon saja butuh pengorbanan. Pertama mereka harus melawan rasa malu mereka untuk meminjam hape orang tua atau tamu salah satu santri yang datang berkunjung ke pondok. Kedua, Jika sampai mereka ketahuan menelpon orang yang bukan keluarga maka hukuman dari Uztadzah mereka siap menanti. Karena memang itu menyalahi aturan pesantren. Tapi paling tidak waktu itu (seandainya aku tahu) menghargai usaha mereka. Usaha lugu mereka, gejolak jiwa ABG mereka. Tidak hanya sekali itu mereka menelpon, banyak kali, dengan nomor yang berbeda-beda dan nama yang beda pula haha. Setiap kali itulah aku tak merespon baik, aku sinis dan berpikir bahwa anak-anak kecil ini kurang kerjaan.
***

Menjelang pulang, aku kembali melihat pemandanga yang cukup mengharukan dan sedikit lucu. Seorang santriwati baru menangis histeris saat kedua orang tuanya akan pamit pulang. Dia ingin ikut pulang. Di tarik-taring tangan bapaknya agar tak pergi atau agar membawanya pergi. Kasian sekali anak itu. Ini pastilah pertama kalinya dia berada jauh dari orang tuanya. Icha juga begitu saat pertama kali diantar. Tapi bedanya Icha nangisnya gak histeris, justru bapaknya yang nangis bombay. Ahh Paman Din. Icha adalah anak semata wayangnya. Tidak heran jika berat sekali rasanya meninggalkan putrinya jauh di seberang pulau. Tapi untuk pendidikan agama anaknya paman ikhlas. Paman tak hanya siap bekerja extra untuk anaknya tapi juga siap didera rindu pada putri mungilnya itu. Pastilah terbayang-bayang bagaimana dia dan anaknya sering bercanda dirumah, main kuda-kudaan, makan bersama dan sebagainya. dan Aku. Antara ingin menangis dan tertawa melihat moment sore itu. Saat senja mulai berlalu. Semakin banyak ku dengar kata-kata nasehat dan kalimat-kalimat perpisahan serta penguatan dari para orang tua pada anaknya masing-masing.

Ahh.. begini rupanya. Akupun mungkin akan menangis histeris jika tamat SD dulu kakek mengijinkanku Mondok di Lombok. Untung saja tidak.

____________________________________
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community