Oct 20, 2011

Dilema Motor Baru

Ini malam kedua aku nginap di rumah, aku mudik untuk memenuhi janjiku pada Nanda untuk menemani dia pulang ke Sumbawa, dia minta tolong aku menemani karena SIM nya sudah mati sejak setahun lalu dan tidak pernah sempat untuk diperpanjang. Pulang kali ini dia berniat mengurus perpanjangan SIM dan STNK-nya di Sumbawa. Lalu kenapa harus aku? karena aku yang SIM-nya gak mati, ya kau bisa tahu sendiri kawan aku akan menjadi driver untuk temanku ini. Its okay! Aku juga butuh refreshing ke kampung halaman, pikirku. Lagian aku juga mau buka rekening di Sumbawa, mengingat KTPku alamatnya di Sumbawa, repot urursannya kalau buka rekening di Mataram. Singkat cerita aku tiba di Rumah dua hari lalu. Anda mengantarku sampai rumah, makan siang sebentar, duduk sambil makan mangga dan dia lanjtkan perjalanan ke kampungnya yang lebih kurang 1,5 jam perjalanan lagi dari rumahku.

Rumah sepi siang itu, Ibu ke pantai dan bapak ke Dealer. Hah dealer? aku sedikit kaget saat adikku Alice memberitahukan bahwa bapak ke dealer. Ada urusan apa? pikirku. Tapi aku tau tanpa ku tanya adikku akan memberitahukan ada apa bapak sampai ke dealer. benar saja, sesuai dugaannku, bapak ke dealer untuk mengurus persyaratan mengambil motor baru, eh tepatnya membeli motor baru dan kredit! Aku terlonjak kaget! Kredit? bokap mau kredit motor? Ini serius? Selain karena aku merasa bapak tak punya banyak dana buat kredit motor, atau selain karena ibuku melarang keras yg namanya kredit-kredit, bapak juga gak bisa bawa motor! Lalu? Bukankah masih ada motor yg bisa kami pakai? 

Siang hari semua pertanyaannku terjawab meski belum sempurna, karena yg menjawab adalah kakek saat makan siang berdua. Kakek bilang bapak ngotot mau kredit motor kayak orang kerasukan setan. Tak ada satupun keluarga yang mengamini niatnya itu karena alasanlasan yang ku bilang tadi. Tapi dasar si bapak egonya terlalu inggi untuk ukuran seorang bapak. Kakek bilang beliau sudah menasehati dan memperingatkan kalau kredit motor itu gak cepat dan akan menyulitkan bapak sendiri, mengingat bapakku cuma seorang petani yang penghasilannya gak ketebak. Tapi kata kakek, bapakmu pede abiss, optimis. Lhaa...aku cuma mengerutkan kening sambil menyuapi nasi ke mulutku. 

Jam 2 siang bapak balik dari dealer. Langsung saja beliau bercerita tentang kredit motornya. Alasannya luguh bener.. biar aku, dan adik-adikku gampang kemana-kemana. Cuma itu. Aku, dan ketiga adikku sanatsangat mengerti kondisi keuangan keluarga dan sama sekali tak pernah menuntut untuk dibelikan ini dan itu. Sama sekali kami berbeda dengan anak-anak lain yang sampai mengancam aneh-aneh agar orang tuanya membelikannya motor dll. Lha ini kebalikannya, justru ini bapak kami yg ngotot. Padahal kalau mau kemana-mana motor kakek ada meski tua, kakek gak akan kemana-kemana juga. Taoi itulah bapakku, jika sudah niat, tak akan berhenti sebelum tercapai. Bahkan ibu yang ngotot gak mau tanda tangan surat perjanjian kreditpun dibuat mau memberikan tanda tangannya. Jadilah resmi bapak akan mengkredit sepeda motor dan itu mulai hari ini.

Sipa yang tak mau motor baru? semu mau termsuk aku dan adik-adikku tapi kami jauh lebih mengerti akan beban orang tua kami, Aku masih harus seleseikan kuliah meski untuk keperluanku aku bisa biayai sendiri, Alice berencana kuliah tahun depan, Dani, sedang kuliah semester 3, Yudhi baru masuk SMA dan sekarang bapak adopsi saudara baru warna Hitam ijo. Ckckck... Usaha kakek dan ibu untuk menggagalkan bapak malah gagal, Aice juga gagal bahkan kena omel, Yudhi apalagi. Aku dan Dhani ketinggalan info karena kami di Matarm dan begitu infonya ada surat sudah di tanda tangan dan motor akan segera datang. Ya.. bapak senang kamipun bengong!

Sebagai anak tertua, Akujleas dilema. Satu sisi aku tak mau orang tuaku terlibat hutang disini lain karena bokap sudah nekat aku mau tidak mau harus membantunya melunasi tu motor. Bagaimana rencanaku kawin cepat-cepat? bagaimana rencanaku pengen kuliah S2? Ahh gara-gara ego si bokap. Tai gak mau bapak jadi bahan gunjingan keluarga dan tetangga, aku harus membelanya meski tindakannya nekat. Tapi dia bapakku dan semua sudah terlanjur. Aku kan membantunya. Siap!

ahhh padahal aku ingin sekali punya Vesva antik, tabunganku harus keluar deh tiap bulan. hmmm All Izz Well..

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community