Nov 24, 2011

Dari Keramaian Walimah sampai Keramaian UGD

Dalam beberapa jam saja, bahkan beberapa menit saja keadaan bisa berubah 180 derajat. Tadinya tawa ceria, bernyanyi bersama seketika menjadi kepanikan dan tangis. Itulah yang terjadi. Seolah sedang digojlok oleh Tuhan, tapi aku yakin dan tahu ada sesuatu yang baik dari setiap kejadian.

Pagi itu, 22 November 2011 ada;ah hari yang tak akan terlupakan olehku, terlebih oleh Shanti dan Iwan sepupuku yang menikah pada hari itu. Pagi yang cerah, langit yang cerah namun tak begitu panas seperti biasanya rombongan pengantin memasuki mesjid Nurul Yaqin desa Pukat, desa kelahiranku juga sepupuku. Rona bahagia terpancar dari setiap wajah yang memasuki ruangan. Aku telah lebih dulu ada di ruangan mesjid dengan kamera ditangan yang siap mengabadikan setiap moment sakral itu. Tak terkecuali Dani adikku yang tengah terbaring sakit di rumah, dia juga merasa turut senang dan bahagia hari itu. Pagi-pagi sekali dia minta mandi dan minum obat. Acara pun di mulai. Ikrar setia dua sejoli pun terucap, ijab kabulpun berjalan dengan khidmad dan penuh haru. Santi adalah sepupuku dari ibu, bapaknya meninggal saat kami masih berseragam putih biru. Iwan adalah teman bermainku, dia lebih besar dariku tapi untuk pendidikan dia seangkatan dengan Santi, agak telat sekolah. Ibunya meninggal bulan Mei kemarin. Kakek menjadi wali nikah saat itu. Saat Ijab kabul selesai dan hadirin berseruh "Sah! Sah!" beberapa ibu-ibu yang hadir seperti dikomando mengusap air matanya masing-masing karena tak mungkin mereka saling mengelap air mata kan. Tak terkecuali aku, aku terharu sekali, seketika kangen pamanku, ayahnya santi. Tapi aku tak menangis, cuma berair mata saja karena kelilipan
Resmi menjadi Suami Istri

Lagi nyanyi *emang keliatan lagi apa coba*
Foto Pengantin dan keluarga
 Akad nikah selesai, foto-foto juga selasai. Saatnya pengantin menuju pelaminan di depan masjid yang sudah disiapkan penuh warna dan megah untuk Raja dan Ratu sehari itu. Musik dari elektone juga mulai memperdengarkan aksinya. Tergoda, aku menyambangi pemain keyboard dan meminta mengiriku menyanyikan beberapa lagu, sampai suaraku serak dan tamu-tamu mulai berdatangan dan mengisi kursi-kursi. Lalu akupun menghentikan konser sebentar itu yang ternyata aku telah menyanyikan 7 buah lagu. Wajar jika aku ngos-ngosan dan serak. Acara resepsi mulai berjalan, sambutan ini itu, Kata hati ini itu, salam-salaman, ngasi kado, dan lain-lain hingga terakhir acara istirahat. Kembali musik bergema, saat itu aku yang tadinya meluncur menuju rumah pacarku sudah kembali dan bersiap berfoto bersama keluarga dan pengantin. Namun sayangm sebelum puas berpose, aku dipanggil dengan mendadak oleh Bi Lis, aku disuruh kerumah untuk melihat Dani adikku. Aku berlari dan mendapati Dani tengah kejang-kejang sementara Ibuku dan beberapa bibiku berada di sampingnya menenangkan dan menyelimutinya. Mereka menangis! Aku berusaha tidak panik, ku panggil-pangggil nama adikku, Dani tetap kejang-kejang sambil mengeluh panass banget dan sesekali dingin banget. melihat keadaannya yang sedang payah itu akupun tak kuasa menahan air mata, meleleh dan ku hapus secepatnya. Aku tenangkan dia dengan menuntunnya dengan Zikir dan Istigfar dia mengikutiku. Lalu aku meminta bapak memanggilkan dokter yang kebetulan hadir di acara resepsi. Sementara musik tetap bergema, Dani masih berjuang melawan rasa sakitnya, pipinya yang bengkak karena infeksi rahang semakin membesar dan membiru. Dokter menyarakan segera bawa  Rumah sakit terdekat, kamipun bergegas membawanya ke dalam mobil dan berangkat ke rumah sakit kecamatan. Setiba di sana dokter mengatakan tak bisa berbuat banyak karena keterbatasan alat. Mereka memintaku mengurus surat rujukan dan sebagainya. Tanpa banyak tanya aku ikuti saja. Ke kantor desa, ke kantor camat, foto copy, tanda tangan dokter dan lain-lain. Aku berlalari kesana-kemari ditengah terik siang di atas jalanan beraspal. Tak peduli lagi kulitku terbakar, atau sepatuku yang entah dimana, aku hanya berkaus kaki putih dan bersendal jepit. Sambil berlari aku menangis, takut kehilangan adikku dan menangis kenapa tanpa surat-surat ini adikku tak bisa ditangangi secepatnya?? bagaimana kalau sebelum surat rujukan ini lengkap terjadi sesuatu yang fatal? aku menyesalkan aturan seperti ini. Administrasi yang berbelit-belit. Aku masuk ke salah satu rungan puskesmas untuk menyerahkan semua surat itu, lama sekali direspon karena si petugas tengah serius melihat ke flat screen monitor diruangan itu. Aku mendekatinya dan kurang ajar sekali diatengah bermain game! Bangsat! Aku marah dan memintanya segera menangani surat ini dan segera menyediakan ambulan untuk menuju RS Umum di kota kabupaten. Barulah mereka bergegas. beberapa menit kemudian ambulan siap dan aku, paman Saf, Ibuku, Bibi onteng dan Bibi Anun meluncur menuju RSU kota. Di perjalanan Dani mulai terlihat tenang, kamipun sedikit tenang, namun tiba-tiba bengkak yang dibawah rahangnya tiba-tiba saja bocor dan mengeluarkan cairan kental berwarna coklat kehijau-hijauan yang baunya sangat busuk. Aku mual berkali-kali begitu juga paman Saf dan bi Anun. Tapi sekuat mungkin kami bertahan. Perjalanan masih jauh. 1 jam perjalanan menuju RSU. Sementara cairan itu terus keluar dan menyengat hidung. Busuk! Pipinya Dani terlihat mulai kempes karena cairan itu keluar terus dan dia mengeluh pusing oleh baunya. Jelas saja pusing, aku yang tak sedekat itu saja hampir pingsan.

Dani di Larikan ke UGD
Rame. Dari Acara resepsi ke Rumah Sakit
 Jam 3 siang, kami memasuki ruang UGD, dani mulai ditangani oleh dokter dan perawat disana. Aku lega karena penjelasan dokter cukup menenangkan. Meski sebenarnya kami hampir telat membawanya dan  akibatnya bisa fatal. Dari UGD Dani dibawa ke ruang perawatan bedah. menunggu sampai kondisinya memungkinkan untuk di operasi. Perawat baru yang praktek magang itu yang menangani Dani, mengecek dan mengontrol sambil sesekali cekikikan. Sangat disayangkan. Lalu keesokan harinya Danipun dioperasi bagian bawah rahangnya. Setelah itu keadaannya mulai menunjukan perkembangan. Bengkaknya hampir hilang, dan bibirnya tak lagi kaku. Abses Mandibula nama penyakitnya, atau infeksi rahang bawah diakibatkan oleh sakit gigi yang terlalu lama dibiarkan. 


Hari ini, 25/11. Syarafku mulai kendor lagi. Tak setegang dua hari sebelumnya. Aku mulai bisa tertawa dan mencandai Dani saat dia ingin pipis, saat dia minta makan makanan yang masih belum boleh dimakannya. Aku juga mulai bisa keluar meninggalkan rumah sakit untuk membeli makanan, membeli baju dan ke warnet dan menulis postingan ini. Kau tahu kawan, batik dan celana hitam panjang yang merupakan kostum resepsi perkawinan Santi baru ku ganti tadi pagi. Sejak dua hari lalu. Keluarga juga banyak yang datang menjenguk dan membawakan beraneka makanan yang ujung-ujungnya aku yang habiskan karena Dani belum boleh makan sembarang makanan. Alhamdulillah... :D 

Begitulah kawan. Tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi bahkan beberapa detik kedepan. Hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa merencanakan dan berusaha melakukan usaha sebaik-baiknya dengan sabar dan telaten. Sebisa mungkin aku tidak mengeluh dan bersabar karena ku tahu ada hikmah yang sedang ingin dikatakan Tuhan lewat kejadian-kejadian ini. Semoga kita selalu dalam keadaan siap, dan sabar saat mengalami masa-masa sulit yang tak prediksi seperti ini.

Salam.
Comments
3 Comments

3 comments:

  1. Inilah birokrasi di Indonesia, mesti kesana kemari dulu ambil tanda tangan orang" penting nyawa jadi taruhannya, semoga cepet sembuh adek.a sob,

    Note :
    jangan menyepelekan penyakit sekecil apapun harus di "tanda tangani segera oleh petugas2 penting" tangani sesegera mungkin.

    ReplyDelete
  2. Benar sekali kawan...
    Terimakasi banyak kawan.. malam ini masih harus nginap di RSU :(

    ReplyDelete
  3. yang sakit sabr, yang berbahagia juga mesti sabar. sabar dg kadar yang sama, dg cara yang berbeda. yang sakit semoga cepet sehat, yang berbahagia semoga tetap dg kebahgiaannya. salam

    ReplyDelete

Berkicau

Community