May 13, 2012

Filosofi Nyamuk

Ajahn Brahm, dalam bukunya yang berjudul "Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya" bercerita bagaimana mereka harus luar biasa bersabar dan pasrah di serbu nyamuk hutan Thailand, mereka sebagai biksu tidak diperbolehkan membunuh nyamuk dan binatang apa saja. Bisa dibayangkan gak gimana rasanya di gigit ratusan nyamuk dan kamu tidak boleh menepuknya?. Lain lagi halnya dengan aku dan nyamuk disini, mungkin karena setiap malam aku dan mereka "perang" kadang-kadang kurang lengkap rasanya malam tanpa gangguan mereka. hahahaha. Tapi jika mereka menyerbu seperti pasukan Salib, bergelombang-gelombanglah mereka. Gelombang pertama bisa ku hadapi dengan senjata pemusnahku (baca; semprot anti nyamuk) atau Kertas (yg katanya) Ajaib dan tak lupa dengan Raket Strum Nyamuk-ku yg selalu stanby di samping. Gelombang pertama selalu kalah, maka datanglah kloter berikutnya, begitu seterusnya sampai akhirnya aku merasa menang. Padahal nyatanya aku yang kalah. Aku tertidur atau memilih masuk ke Sleeping Bag yang entah bagaimana caranya saat aku bangun keesokan hari, sleeping bag itu sudah tidak membungkus badanku lagi dan bentol-bentol terlihat jelas di lengan dan bagian lainnya.

Meski sering kesal dan jengkel, terkadang aku berterima kasih pada nyamuk-nyamuk kesetanan ini. Semakin malam semakin rajin aku mencari cara untuk memusnahkan mereka. Aku sudah menabur bubuk abate ke selokan-selokan di depan dan samping rumah, Aku juga pernah mencoba Bakar sampah sore-sore di halaman rumah, lalu menanam pepaya yang entah kapan akan besar dan berfungsi mengusir nyamuk, membakar tray telur yang asapnya seperti kebakaran hutan, hasilnya mata perih dan aku batuk-batuk namun hasilnya mantab, nyamuk hilang walau hanya sementara hingga asap itu habis. Usaha berikutnya yang belum aku lakukan karena ini memerlukan waktu yang lama dan kerja keras adalah menguras selokan di samping rumah. Yah disanalah sumber nyamuk ini. Selokan yang entah airnya dari mana itu dipenuhi daun-daun ketapang yang mengendap dan membusuk.  Petugas kebersihan tidak pernah punya cukup waktu untuk membersihkannya. Pak RT juga belum sempat mengadakan gotong royong. Maka itu aku harus punya waktu untuk memberihkannya dan mengakhiri rezim nyamuk tak tahu diri ini.
Aku tak percaya fogging lagi. Nyamuk-nyamuk ini sudah kebal dan sepertinya punya trik untuk menghindari fogging atau jangan-jangan mereka punya semacam masker anti fogging kali ya. Mereka selalu selamat dan akan terus ada setelah asap fogging lenyap. Tidak ada hasil apa-apa kecuali suara batuk-batuk tetanggaku.
Terjaga sepanjang malam karena pekerjaan tidak apa-apalah daripada terjaga sepanjang hanya karena makhluk kecil penghisap darah ini. Ups.. kata "hanya" itu terlalu meremehkan ya. Meski kecil mereka tidak poatut di remehkan. Aku belajar satu hal dari mereka, meski mereka kecil tapi ambisi dan semangatnya untuk mendapatkan tujuan mereka begitu besar, bahkan matipun mereka tak keberatan asal pernah menusukkan monconngnya ke kulit manusia. Benar-benar perjuangan yang perlu di contoh.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community