Jun 6, 2012

“Tutur Tinular” Indosiar Meledek Kewarasan Kita, Tapi Disuka

Sekoplak-koplaknya Sinetron Tutur Tinular. Sampai orang yang berpikiran waras dan tahu sejarah membuat group-groupan di FB ; BOIKOT TUTUR TINULAR, toh pada kenyataan di lapangan Sinetron Tutur Tinular laku dan orang pada nonton.
Bukan merendahkan selera orang ndeso, selera orang kampung, selera orang pemukiman padat, gang sempit umpel-umpelan, kenyataannya jam-jam Tutur Tinular tayang, mereka pada duduk manis di depan tivi nonton Indosiar.
Lho, iya, beneran yang begini ini, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, bukan minjem mata kepala tetangga, yang ditonton mereka yaaa, Tutur Tinular itu. Bukan pula melecehkan selera pembantu, pada nyatanya segitu yaaa, pembantu di rumah saya sudah tak beredar dan memilih ngumpul sama tukang masak di dapur, nonbar Tutur Tinular.
Ini baru pembuktian di lapangan. AC Nielsen ituuu, si diktaktor peratingan di TV Indonesia dengan santainya memberikan tempat terhormat pada Sinetron Tutur Tinular ke peringkat 3 Besar! Beradu dengan stripingnya Sinemart….

Bukannya saya Bapak Pembela Sinetron Indonesia, tapi selera penonton Indonesia memang susah-susah gampang. Mau omong susah ditebak juga boleh. Yang seleranya bisa ditebak barangkali mereka, penonton tivi yang punya TV Kabel, TV Berbayar…. Yang punya hak buat menonton hil-hil yang mustahal, meminjam istilah Asmuni, di layar kaca yang nggak bisa dipelototi wong ndeso.
Jadi 'wong kuto', yang 'terpelejar' yaaa, monggo mencak-mencak Tutur Tinular ada Bajang bisa joget, ada Khrisna, ada anak-anak bisa nge-rap, sampai ke detil latar belakang sejarahnya, tapi nyatanya rating tinggi, yang nonton bisa mengganggu OVJ di Trans 7, gimana lagi kan?
Orang yang mengerti sejarah bisa mendiskusikan setting Tutur Tinular itu jaman Majapahit atau Jaman Mataram, penonton-penonton lugu itu nggak peduli. Orang yang mengerti logika cerita dan cinta Tutur Tinular masa lalu mencak-mencak, selama S Tijab, pengarangnya duduk dengan tenang-tenang saja, ya, gimana lagi.
Pembuat cerita TT bukan YB Mangunwijjaya, yang BETE begitu tahu yang main Roro Mendut itu Meriam Belina… Pepih Nugraha pasti tahu itu, kan ini film produksinya Gramedia Group juga kala itu… tapi kan nyatanya, Mas Tijab tak peduli bahkan seandainya yang jadi Mak Lampir itu Angelina Sondak sekali pun…
Jadi sebenarnya Tutur Tinular versi 2011 itu sedang meledek kita…. Wong tontonan sidang-sidang di Gedung MPR DPR saja bisa amburadul, acara Indonesia Lawyer Club isinya Pengacara pada adu cangkem, pidato Presiden kalau nggak isinya curhat dan bikin mengantuk… jangan salah kalau mereka lebih suka memilih Tutur Tinular….
by : Mad Mizan. (Copy dari FB Hardian Syah)
Sent from my BlackBerry® smartphone from twitter.com/dchuex
Comments
1 Comments

1 comment:

  1. ha- ha - ha..
    sayang di sini tidak terjangkau siaran indosiar.. T.T

    ReplyDelete

Berkicau

Community