Jul 24, 2012

Motivasi Luar Biasa Dari Negeri 5 Menara

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman, Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan, Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa, Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang, Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan (Imam Syafi'i - 767-820M)

 --------------------------------------------------------------------------------------------
“Kami ikhlas mendidik kalian, dan kalian ikhlas kan pula niat untuk mau dididik.”

Itulah kalimat penting pertama yang disampaikan Kiai Rais di hari pertama aku resmi menjadi murid PM tiga tahun silam. Keikhlasan?Waktu itu aku tidak terlalu mahfum makna dibalik itu. Bahkan aku curiga, kalau ini hanya bagian dari lip service saja.

Tapi kini, setelah tiga tahun mendengar kata keikhlasan berulang-ulang aku mulai mengerti. Wawancaraku dengan Ustadz Khalid dulu tentang konsep mewakafkan diri membuka pembatas fikiranku. Aku kini melihat keikhlasan adalah perjanjian tidak tertulis antara guru dan murid. Keikhlasan bagai kabel listrik yang menghubungkan guru dan murid. Dengan kabel ini, aliran ilmu lancar mengucur. Sementara aliran pahala yang deras terus melingkupi para guru yang budiman dan murid yang khidmat. Niatnya hanya demi memberi kebaikan kepada alam raya, seperti yang diamanatkan Tuhan. Hubungan tanpa motivasi imbal jasa, karena yakin Tuhan Sang Maha Pembalas terhadap pengkhidmatan ini. Keikhlasan adalah sebuah pakta suci.

Inilah energi yang terus memutar mesin sekolah kami, aura tebal yang menyelimuti segala penjuru, dan ruh yang menguasai kami semua. Apa pun kegiatan, baik senang maupun tidak, selalu dilipur dan dihibur dengan potongan kalimat: “ikhlaskan saudaraku…” Dan begitu potongan itu disebut, rasanya hati menjadi plong dan badan menjadi segar. Sebuah prinsip yang sakti dan manjur.

Aku pernah terkulai kecapekan sampai dini hari menulis majalah dinding waktu di tahun pertama dulu. Majalah ini harus dipampangkan didepan aula begitu matahari naik. Padahal masih satu halaman lagi yang harus ditulis tangan indah menjelang adzan subuh berkumandang. Aku tidak kuasa lagi menahan cengkraman kantuk.

Lalu Kak Iskandar datang dan menepuk-nepuk punggungku. “Ya saudaraku, ikhlaskan niatmu”. Seketika itu juga capek hilang dan semangat memuncak.

….

Yang paling lucu tentulah Said. Disaat bertarung seru melawan kantuk ketika kami jadi buils lail (tukang ronda), dia bilang dengan setengah sadar.” Aku ikhlas ngantuk dan tertidur”. Lalu dia tidur dengan pulas tana takut dilabrak Tyson. Sebuah praktek keikhlasan yang unik dan aneh.

Dalam ikhlas, sama sekali tidak ada transaksi yang metugi. Nothing to lose. Semuanya dikerjakan all-out dengan mutu terbaik. Karena mereka tau, cukup Tuhan sendiri yang membalas semuanya.
 …

Itu sepenggal kutipan Novel luar biasa yang tak pernah bosan untuk dibaca dan diresapi makna dan motivasi serta pelajaran-pelajaran luar biasa yang ada di dalamnya. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang sabar, giat dan sukses! 

Aaamiiin...
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community