Aug 3, 2012

Apa Sebenarnya Manfaat Uji Kompetensi Guru ?

Sosialisasi pelaksanaan Uji Kompetensi Guru hampir serentak dilaksanakan di ibukota kabupaten dan kota seluruh Indonesia. Semua guru yang telah memperoleh predikat guru bersertifikasi hadir dan penuh seksama menyimak penjelasan tata cara pengisian formulir dan menjawab soal-soal yang ditayangkan melalui sistem online. Mengapa harus mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) dan apa manfaat yang diperoleh guru dari pelaksanaan UKG sekarang maupun akan datang.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada awal tahun ajaran baru 2012/2013 ini atau tepatnya tanggal 30 Juli 2012 serentak di seluruh Indonesia menerapkan uji kompetensi bagi guru yang berhak ikut sertifikasi. Mendikbud Muhammad Nuh mengatakan, sertifikasi merupakan sebuah proses melalui pendidikan dan latihan profesi guru, yang ingin memastikan bahwa seseorang itu profesional sebagai guru. Oleh karena itu guru sebagai profesi itu harus profesional dan memenuhi seluruh persyaratan dan harus di-certified. Mendikbud menjelaskan, ada empat ranah yang akan diujikan, yaitu kompetensi pedagogi, kompetensi akademik, kompetensi institusional, dan kompetensi profesi. Karena itulah, uji kompetensi dilakukan untuk melihat kompetensi seseorang apakah sudah memenuhi empat ranah tersebut.

Lantas mengapa ada guru yang ketakutan untuk mengikuti UKG. Ternyata, berkembang isue bahwa hasil akhir dari UKG dengan skor minimal 70 akan terkait dengan terhentinya tunjangan sertifikasi yang selama ini sudah dinikmati. Malah, ada guru dengan sengaja mencari bocoran soal, baik melalui internet maupun individu yang memberi iming-iming soal dengan jasa uang. Akibatnya, terjadi kepanikan, keresahan dan tidak konsentrasi dalam mengajar, menjadi perbincangan yang umum di berbagai sekolah.

Jika, kembali pada tujuan pelaksanaan UKG untuk menciptakan penyegaran ranah kemampuan guru tentu bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan apalagi didramatisir dengan re-sertifikasi. Sehingga pantas untuk dilakukan UKG sebagai upaya pemetaan sehubungan kebijakan peningkatan mutu setelah para guru diberikan tunjangan profesi. Untuk itu, diperlukan kerja keras Kemendikbud agar diperoleh hasil yang akurat dan faktual tentang kompetensi guru, bukan sebuah data rekayasa untuk kepentingan 'mafia anggaran' yang selama ini menjadi momok pengambil keputusan.

Lantas, adakah manfaat UKG sekarang maupun masa akan datang. Kembali pada pribadi guru itu sendiri dalam memahami arti penting pelaksanaan UKG. Menyimak pandangan Prof. Mary Gallaghar (University of Canbera Australia) yang menyatakan jangan tanggung-tanggung jika menjadi guru. Jadilah guru yang hebat dan teladan. Guru hebat ditandai dengan 5 indikator: (1) kualitas diri, (2) integritas moral, (3) kedalaman ilmu, (4) keterampilan (terutama mendayagunakan metode dan media), dan (5) komitmen (adanya panggilan jiwa dan penuh tanggung jawab). Profesi guru itu sangat mulia dan menentukan masa depan bangsa, bahkan turut mempengaruhi seseorang kelak masuk surga atau neraka!

Menjadi guru hebat menuntut keahlian dan keterampilan tersendiri, karena guru hebat harus menjadi komunikator, motivator, inspirator, dan pembangun kepribadian dan karakter peserta didik. Guru hebat harus mau dan mampu melakukan, minimal 6 hal:
  1. Memiliki keinginan untuk mengenal, menyentuh hati peserta didik serta melibatkannya dalam proses pembelajaran. Ketika berkomunikasi dengan peserta didik, guru harus bisa melakukan kontak mata sekaligus kontak hati. Semakin mengenal jati diri anak didiknya, guru seharusnya semakin arif dan bisa mendekati serta membangun kerjasama yang saling menguntungkan.
  2. Mengomunikasikan tujuan dan harapan secara eksplisit. Ketika mengawali proses pembelajaran di kelas, idealnya guru dapat meyakinkan anak didiknya bahwa tujuan dan harapan yang hendak dicapai pada jam pelajaran ini penting dan baik.
  3. Menyiapkan dan menjadikan bahan ajar menarik, menantang, dan merangsang (menstimulir).
  4. Mendorong peserta didik berpikir kritis dan kreatif, dan menjadi berani menerapkan pengetahuan yang sudah dipahaminya secara praktis.
  5. Melakukan kontekstualisasi dengan dunia nyata. Materi yang diajarkan seoptimalkan mungkin dikaitkan dengan perkembangan sosial, budaya, ilmu, pendidikan dan sebagainya, sehingga menjadi lebih menarik dan dinamis.
  6. Masuki “dunia anak didik, dan jangan paksakan dunia guru dimasukkan dalam dunia anak didik”
Enam indikator guru hebat tersebut akan tercermin dari butir-butir soal UKG yang merangkum ranah kompetensi pedagogi, kompetensi akademik, kompetensi institusional, dan kompetensi profesi yang selama ini sudah dijalani dengan kebesaran hati, segala kekurangan, dan kelebihannya. 

Pada akhirnya guru hebat harus menyontoh Rasulullah Saw dalam mendidik para sahabatnya. Beliau menyatukan antara kata dan tindakan nyata. Beliau memahami dan berbicara sesuai dengan tingkat kemampuan para sahabatnya: memotivasi bukan mengintimidasi, mempermudah bukan mempersulit, menyederhanakan bukan merumitkan. Terkadang beliau mendidik dengan dialog, kisah, sejarah, dan aneka pendekatan nurani lainnya. Guru kemanusiaan terhebat seperti tauladan Nabi Muhammad saw selalu berkomitmen untuk membiasakan peserta didiknya berkhlak, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun dan terhormat.

Artikel ini adalah tulisan dari Pak Samsunisarman, Thanks sir! Semoga kita bisa menjadi pendidik yang baik.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community