Aug 16, 2012

Kebebasan yang Kebablasan! [Sebuah Catatan 67th Indonesia]

Akhir-akhir ini saya merasa muak dan bosan dengan berita-berita di tv tentang politik dan segala permasalahannya. Hampir setiap bulan ada saja topik kekacuan dan kebohongan baru yang menjadi berita segar yang bulan berikutnya akan sayup-sayup terdengar kemudian hilang berganti kekacauan yang baru. Semua ini membuat saya merindukan masa-masa tahun 90an, saat saya masih dengan polosnya bermain dan belajar tanpa terganggu oleh hal-hal seperti ini. Waktu itu saya hanya tahu acara Arena 123-nya kak Devi dan si Kumba serta menggambar bersama pak Raden, lalu meningkat menjadi tahu dan gemar menonton wiro sableng atau power rangers. Hanya itu. Damainya waktu itu. Kekacauan juga tak banyak seperti saat ini, semua terasa teratur dan terjaga dengan baik. Tak ada sumpah serapah pada pemimpin di komentar-komentar forum, tak ada kata-kata makian seperti di berita Yahoo dan lain sebagainya. Tidak ada juga anak-anak alay yang dengan sukses dan seenaknya memperkosa bahasa Indonesia yang mungkin mereka tidak tahu betapa beratnya dulu menggunakan bahasa Indonesia, ada pengorbanan untuk sekedar menggunakan bahasa dengan bebas, tiba-tiba saja mereka muncul dan mengacaukannya. Tidak ada juga rakyat yang ketika ditertibkan malah memerangi pol pp dan polisi, semua teratur dan terjaga.

Lepas dari semua berita tentang korupsi orde baru dan embel-embelnya, saya sangat menyukai masa-masa itu, saya rindu. Saya rindu menonton dunia dalam berita bersama keluarga lalu bersama-sama tidur menjemput mimpi menuju pagi untuk memulai aktivitas dengan damai dan teratur. Apa yang terjadi dengan bangsaku? semua menjadi tidak terkendali dan seperti sedang menuju kehancuran. Mana janji reformasi itu? parlemen itu seperti gudang yang berisi tikus-tikus pengerat.

Jika aku boleh berpendapat dengan cara pandangku, semua ini adalah efek buruk dari kebebasan berpendapat yang diperjuangkan pada era reformasi. Memang kebebasan berpendapat dan berkreasi itu perlu, perlu sekali tetapi tidak kebablasan seperti ini. Justru ini menjadi bumerang untuk keutuhan negara kita. 


Mari kita analogikan negara ini seperti sebuah keluarga.Dalam sebuah keluarga, suami adalah pemimpin tertinggi, istri adalah bendahara merangkap rakyat, merangkap menteri-menteri dan anak-anak adalah rakyat seutuhnya. Jika semua mengerti dan benar-benar faham peran masing-masing maka damailah keluarga itu tapi jika sebaliknya maka hancurlah keluarga tersebut. Tetapi yang perlu kita sadari, sejatinya hidup itu adalah tempat bertarung, tempat bertarung mempertahankan kebenaran diri dan melawan ego negatif. Jadi wajar jika dalam keluarga akan ada saja salah satu unsur atau anggota keluarga yang melenceng dari tujuan ataupun fungsinya, ini wajar karena manusia tempat salah, tetapi apa dan bagaimana penyelesaian dan penanganannya itulah yang menentukan apakah keutuhan keluarga akan terus terjaga atau sebaliknya. Kita ambil contoh, sang pemimpin (suami) melakukan sebuah kekeliruan yang menyebabkan anggota keluarga lainnya terusik dan tidak nyaman. Karena ada yang namanya kebebasan berpendapat dan berekpresi, mereka bisa membicarakan langsung dengan kepala keluarga mereka, mencari solusi dari masalah itu dan masalah dijamin akan selesai. Tapi akan beda lagi jika, ketika salah satu anggota keluarga melakukan hal tidak baik lalu kemudian anggota yang lain menghadapi itu dengan ego yang besar atau berkoar-koar hingga terdengar ke keluarga lain maka tunggulah kehancurannya.

Mungkin analoginya terlalu ribet, hehe saya tidak pandai dalam hal itu. Tapi terus saja membaca.

Begitu juga dalam sebuah negara, ketika pemimpin atau pemerintah ketahuan busuknya bukan berarti kita sebagai rakyat harus berkoar-koar di media atau di internet. Menghujat-hujat, memakin-makin, mengatakan hal-hal kotor pada mereka (pemerintah) dan lain-lain yang sangat mungkin di ketahui oleh bangsa lain. Ingatlah, manusia dimana-dimana lebih tertarik dengan berita buruk orang lain daripada berita baiknya. JIka ada itu hanya segelintir. Walaupun ketika mendnegar berita buruk mereka akan mengatakan bersabar atau ikut prihatin. Jika sudah demikian, maka terbacalah kelemahan kita sebagai sebuah nehara, terbukalah cara negara lain memecah belah persatuan kita. Jadi jangan heran jika saat ini banyak sekali konflik yang terjadi yang berbau SARA, aku sangat yakin, isu SARA adalah senjata ampuh yang digunakan musuh bangsa untuk memecahbelah persatuan kita. Sayang banyak yang tidak sadar. Malah semakin menjadi-jadi konfliknya.

Itulah akibat kebablasannya kebebasan berpendapat dan berkekspresi. Demokrasi itu produk orang liberal. Mari kita analisa secara bodoh saja. Dalam demokrasi suara terbanyaklah yang menang, lalu bagaimana jika suara terbanyak itu berpihak pada orang yang salah? orang yang korup? orang yang tidak pantas menjadi pemimpin? 

Mungkin juga kita pernah mendengar sabda Rasul: “Jika suatu urusan dipegang oleh orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya” (HR Bukhari)

Alangkah malang sebuah negeri jika seperti ini. Harapanku semoga semua ini segera kembali lebih baik. Semoga kita-kita sebagai rakyat pengguna internet dan pembaca berita online lebih bijak dalam memberikan komentar. Tidak menuruti hawa nafsu mencaci maki dan memperlihatkan kelemahan kita di ranah internet yang siapa saja bisa mengaksesnya. Sadarlah, musuh-musuh negara ini pasti tertawa melihat kalian saling caci maki di sebuah forum, di sebuah website seperti yahoo, youtube, dan lain sebagainya.  Mereka semakin menemukan cara cepat dan tepat untuk memecahbelah kita. 

Jika sudah begini, aku rindu pada sosok pak Harto yang tak segan-segan menindak siapa saja yang mengancam kestabilan negara, yang kata orang-orang sekarang diculik karena melawan. Bung Karno yang penuh semangat dan menularkan semangat hingga ubun-ubun rakyatnya. Mereka pemimpin yang dicintai karena berhasil menenangkan hati rakyatnya, berhasil menggelorakan semangat nasionalisme rakyatnya. Hingga Indonesia benar-benar disegani oleh negara lain saat itu. Indonesia ini belum cocok jadi rebuplik, cocoknya jadi kerajaan kali ya. Seperti Brunei, Malaysia atau Inggris. Indonesia sama sekali tidak butuh pemimpin yang hanya bisa Prihatin dan kemampuan diplomasi cetek!


Menjelang 67 tahun negeriku, inilah kegelisahanku sebagai seorang anak bangsa yang merindukan kedamaian di tanah airnya. Jika boleh, aku ingin berdoa semoga jika para koruptor, para perampok negara, para penjilat, para politisi busuk itu tidak berubah maka matikanlah mereka dengan segera agar tak berlama-lama mereka melakukan dosa dan menyengsarakan rakyat. Amiin...

Dirgahayu Tanah Tumpah Darahku.. Selalu ada waktu untuk menjadikan semuanya lebih baik. Ini bagian dari perjalanan panjangmu, negeriku. Ini adalah proses penyaringan siapa yang tulus membela siapa yang tak lebih dari pengeruk dan penjilat. Allah dan semesta bersama orang-orang berniat baik.

POLITIK INDONESIA ADALAH SINETRON 
Sebuah puisi dari OdhiSalahudin.

politik indonesia laksana sinetron yang marak di televisi
lihat sajalah, para politisi juga kerap menghiasi infotainment sebagai selebriti
maka tak mengherankan bila politisi tiba-tiba menjadi artis
atau artis menjadi politisi,
bukankah sama saja bermain peran menjadi ujiannya?
maka, ingin tahu politik indonesia lihatlah sinetron-sinetronnya
persekutuan anak-ibu, menghancurkan anak tiri dan sang bapak
perselingkuhan, saling jegal, tipu-muslihat,
walau di selanya, selain iklan,
ada keagungan orang-orang kecil yang justru lebih peduli dengan sesama
atau kelas menengah yang belajar menghayati kehidupan kaum papa
ya, begitulah
politik indonesia, benar laksana sinetron
bila banyak penonton, maka akan berpanjang-panjanglah kisahnya
sampai bukan hanya penonton menjadi pusing,
mungkin pemain dan sutradara bernasib sama
sampai sinetron berakhir tanpa akhir cerita
bila ada desakan, bisa kembali dipertontonkan
bila penonton lupa, buat kisah-kisah baru lagi
sama
ya sama persis
sinetron dan politik
sama saja
kita sendiri terjebak sebagai sosok reaktif namun pelupa
bagaimana kabar orang-orang hilang?
bagaimana kabar pelaku pembunuh munir?
bagaimana kabar kasus bank century?
bagaimana kabar rekening gendut?
bagaimana kabar … ah, terlalu banyak kabar yang patut dipertanyakan
tapi memang ada tontonan baru yang mengasyikkan
walau kelak mungkin bernasib sama
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community