Aug 28, 2012

Menjejak Jalan Kenangan

Waktu telah melibas semua masa-masa terlewati. Entah karena bahagia, sibuk, sedih atau apalah hingga kemarin aku tersadar bahwa begitu banyak  hal yang berubah disekitarku. Banyak sekali. Bahkan kadang-kadang aku tersenyum sendiri karena aku juga telah banyak berubah. Fisik, mental, dan lainnya. Semuanya berlalu dengan begitu cepat. Aku baru tersadar akan perubahan orang-orang yang dulu ku kenal dan familiar mengisi masa-masa sekolahku. Di rumah, dijalan-jalan menuju sekolah, dan sekolahku sendiri.

Sore yang cerah dengan kemilau jingga di ufuk barat. Aku menjejaki lagi jalan-jalan berkerikil menuju SMP ku, entah angin apa yang membawaku melakukan ini. Rasanya aku telah terlalu rindu untuk menapaki lagi kenangan-kenanganku disekitar tempat tinggalku. Hari itu aku berjalan sendiri sekitar dua kilometer, jarak yang dulunya kulalu setiap pagi dan setiap siang. Terkadang berjalan kaki bersama sahabat-sahabat kecilku atau bersepeda bersama mereka juga. Pagar-pagar pembatas jalan dan sawah masih pagar yang sama hanya saja pokok-pokok kayu Jawa itu kini mulai menua, mengeras dan memperlihatkan guratan-guratan bekas ikatan-ikatan yang sekian tahun melekat dan mengikatnya. Aku melihat diriku disana, dengan batu kecil ditanganku, melempar burung-burung yang bertengger ramai dan riang di atas dedahan kayu jawa. Lalu aku bersorak gembira bukan kepalang karena salah satu batuku mengenai burung yang malang itu. Kawan-kawanku berlari berkerumunan ke arah si burung malang jatuh. Aku tersenyum, senyuman yang penuh rindu pada masa-masa itu.

Aku juga melihat diriku yang kecil, dengan topi putih biru terbalik, berjalan bersama Neonk, Rani dan Ainun. Sepanjang perjalanan tak ada yang berhenti berkicau meski matahari siang menyengat dengan ganasnya. Keringat tak pernah kami hiraukan. Cerita-cerita tentang film favorit masing-masing menjadi bahan pembicaraan yang seru saat perjalanan pulang sekolah. Jari-jari kecilku tak henti bermain sambil menjelaskan beberapa bagian film yang kusukai. Kupandangi jari-jariku sekarang, ah.. dulu sekecil itu. Hingga kami berpisah di simpang jalan desa cerita-cerita seru itu barulah usai untuk sementara, disimpang untuk siang-siang berikutnya.

Berupa-rupa kenangan hadir saat melewati jalanan menuju sekolah, memasuki desa Labuan Padi, yang penduduknya adalah para pendatang dari Makasar. Pelaut-pelaut ulung yang dulu terdampar di desa ini dan beranak pinak hingga saat ini. Mereka yang penuh semangat dan pekerja keras setiap pagi saat aku lewat selalu terlihat sibuk. Tongang, bapak yang mirip penyanyi dangdut Yus Yunus itu dipagi hari pasti sedang mengisi jerigen-jerigen putih diatas gerobaknya dengan air dari kran di depan rumahnya. Ari-air itu akan ia jual ke perkampungan Bajo. Perkampungan Bajo adalah sebuah pulau kecil yang dihuni orang-orang suku Bajo dari florest yang asal muasal dan ceritanya tak jauh beda dengan orang-orang suku Bugis makasar di Labuan Padi. Nenek moyang mereka juga terdampar disana lalu beranak pinak dan hidup dengan adat tradisi nenek moyang mereka. Tongang selalu bersemangat, bergerobak-gerobak ia mengangkut air bolak balik ke sana. entah berapa air itu dihargai perjerigennya yang jelas aku selalu salut dan senang memperhatikannya setiap pagi saat menuju kesekolah. Suara istrinya, yang dipanggil Ipah akan menjadi suara khas pagi itu yang ternyata melekat dalam memoriku hingga saat ini. Setiap pagi, saat aku lewat Ipah pasti berteriak-teriak memanggil anaknya atau memanggil siapa saja lalu berbicara dengan bahasa Bugisnya yang hingga saat ini tak bisa ku pahami. Dan hari itu perasaanku bergemuruh ketika melewati depan rumahnya. Rumahnya masih seperti dulu bedanya sekarang sudah di plester dengan semen, rumah tetangganya masih tetap lebih bagus. Rumah panggung khas makasar yang megah. Rambut Ipah juga memutih, anak-anaknya kini telah besar bahkan yang perempuan sudah menggendong anak. Oh, entah mengapa ada rasa haru dalam hati, haru yang maknai "oh ternyata aku merindukan keluarga ini" keluarga yang tak mengenalku sama sekali. Semangat mereka tetap sama seperti dulu. Hari itu aku tak melihat Tongang, mungkin rambutnya yang hanya ada di bagian tengah kebelakang itu juga sudah memutih.

Tiba di sekolah, rasanya semua sudah berubah. Pagar, cat, parkiran, taman, kantin, semuanya berubah. Letak kelas tetap sama tetapi aku tak lagi mengenali bangkuku, mungkin ia sudah berada di gudang atau mungkin saja sudah dijadikan kayu bakar oleh penjaga sekolah. Nde' Majid! dimana dia? aku berjalan ke rumah penjaga sekolah yang terlihat sepi. Ah Mak Saripah muncul dan dia mengenalku. Oh aku terharu sekali, dia bahkan setengah berteriak memanggilku, lalu menepuk-nepuk pundakku saat aku sudah ada di dekatnya. Berhamburanlah cerita-cerita tentang aku dimasa lalu dari mulut Mak Saripah. Dulu aku memang sering ke kantin, bahkan sering kerumahnya di luar sekolah untuk menitipkan sepedaku agar aman dari anak-anak jail di sekolah. Anak Mak Saripah juga sahabatku, jadi wajar jika aku dikenal baik. Ah.. rasanya mataku sembab, aku tak bisa berucap hanya tersenyum dan menahan agar aku tak ketahuan terharu. Sekolah ini dulu begitui sederhana, pagarnya saja dari bambu. Jauh berbeda dengan yang ada sekarang. Semua menjadi lebih modern. 

Mak Saripah memintaku untuk masuk kerumahnya. Dia ingin membuatkanku mie kuah dan sayur bayam seperti yang sering kupesan dulu. Aih.. lengkap sudah nostalgia sore itu. Andai saja disini ada sahabat-sahabat kecilku pastilah lebih lengkap. Seperti apa mereka, sudahkah mereka menikah, sudahkah mereka melakukan napak tilas sepertiku ini. Andai saja mereka ada bersamaku saat itu, akan banyak kisah yang bisa kami bagi tentang masa-masa putih biru yang membalut badan kami yang lugu. Semoga saja ada waktu yang tepat untuk bersama mereka disini. Di jalan-jalan dan tempat-tempat penuh kenangan yang mulai banyak berubah. semoga.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community