Sep 5, 2012

Setelah NIkah, Harus Jeli Mencuri Waktu Jalan-jalan

Traveling memang selalu menyenangkan bagi seorang yang tidak begitu tertarik dengan rutinitas sepertiku. Jika ada sedikit kesempatan untuk bisa berjalan-jalan maka tak akan ku sia-siakan, bagaimanapun caranya, kemanapun itu jika kesempatan itu ada langsung saja meluncur. Faktanya setelah menikah waktu untuk sekedar berjalan-jalan ke sebuah tempat yang bukan bagian dari pekerjaan itu bukan perkara muda. Bukan karena kekangan atau posesifnya sang istri melainkan karena beberapa hal. Pertama, karena seperti pengantin baru kebanyakan mana ada yang betah berlama-lama di luar rumah? apalagi pergi jauh. Rindu setengah mati pada yang di rumah. Kedua, Karena baru beberapa bulan menikah dan tinggal berdua, adalah sangat tega jika meninggalkan istri di rumah sendirian hanya untuk traveling. Ketiga, Pekerjaan memang selalu menjadi kendala untuk bisa berjalan-jalan ke tempat-tempat baru dengan santai. Maka itulah akhir-akhir ini hoby traveling diistirahatkan sejenak sampai nanti anakku lahir. Tapi aku sendiri sanksi, kuatkah aku meninggalkan buah hatiku? hahahaha sepertinya tanpa di larang keluar rumahpun aku lebih memilih menghabiskan waktu di rumah.

Itulah sebab kenapa liburan lebaran kemarin aku begitu senang. Seperti kebanyakan orang yang tinggal dirantauan kami berduapun mudik ke Sumbawa saat menjelang lebaran. Semua peralatan untuk jalan-jalan sudah kusiapkan dari beberapa hari sebelumnya. Kamera, lensa, tripod, dan perlengkapan photography lainnya. Semua siap. Untuk yang lain istriku yang siapkan aku tinggal packing saja. Karena dalam pikiranku, ini akan menjadi moment yang tepat dan langka untuk traveling walaupun hanya mendatangi tempat-tempat yang tak pernah ku datangi di Sumbawa. Paling tidak hoby traveling dan photography tersalurkan, pkirku. Pertimbangannya, jika di Sumbawa kami bisa menginap di rumah orang tuaku atau rumah mertuaku, dua-duanya sama enaknya dan yang paling enak adalah, istriku tidak akan kesepian jika aku pergi-pergi. Ada ibu, ada bapak ada adik-adik dan ada si lucu Aisya yang akan menemaninya. Karena itu begitu sampai di rumah otakku langsung mengatur rencana, kemana aku akan memulai penjelajahan? 

Sebetulnya ada beberapa event yang menarik untuk dilihat dan dijepret diliburan lebaran kemarin tapi aku tahu aku tidak akan bisa mendatangi semuanya jadi aku memilih mana yang lebih cocok, menarik dan menguntungkan untuk di datangi. Liburan lebaran kemarin ada beberapa acara seperti Festival Pabiring 2012 di Desa Labuan Mapin, Festival Ponan 2012 di Kecamatan Moyo, Karapan Ayam di Taliwang, dan beberapa event di timur Sumbawa sana. Tentu saja aku harus memilih yang terdekat, menarik dan tidak sampai harus meningap karena meski istriku mengijinkan, orang tuaku belum tentu mengijinkan. Alasannya karena istriku lagi hamil dan berkembang beberapa mitos dalam kehidupan orang Sumbawa, misalnya Suami tidak boleh menyakiti dan memotong tanaman sembarangan, tidak boleh menyakiti, membunuh atau menyembelih hewan , tidak boleh bicara sembarangan, tidak boleh mencukur rambut dan sembarangan-sembarangan lainnya yang membuatku kadang-kadang percaya dan tidak percaya. Percaya sih gak ya, tetapi aku lebih memilih aman saja demi anakku. Apalagi yang lebih penting buat seorang ayah dari anaknya? begini ternuyata rasanya menjadi calon ayah. 

Setelah menimbang-nimbang aku memutuskan untuk hanya mendatangi Festival Pabiring 2012 di Labuan Mapin, festival tahunan masyarakat pesisir Sumbawa yang berasal dari Makasar. Festival ini sendiri aku tidak terlalu faham karena aku hanya mengetahui nama eventnya saja dan kebetulan pengisi acara dan panitianya adalah teman-temanku di organisasi mahasiswa dan pelajar Sumbawa di mataram dan forum kesenian sumbawa yang kukenal. Ada juga mas Paox Iben sang seniman sekaligus pengamat seni dan penulis. Selain Festival Pabiring aku juga memutuskan untuk mendaki ke desa tertinggi di Sumbawa Barat, Desa Mantar. Alasannya, karena ini desa pariwisata dan salah satu desa unik di Sumbawa. Unik karena rumah-rumah panggungnya, cerita asal muasal mereka, kearifan lokalnya, dan tentang orang-orang albinonya yang hanya boleh ada tujuh orang saja. Insyaallah cerita dan foto-fotonya akan saya upload di website JelajahSumbawa.com. Selain Mantar saya juga berencana melihat-lihat pulau kenawa waktu itu namun rupanya Allah belum mengijinkan karena mertuaku meminta kami untuk segera mengurus eKTP dan Kartu Keluarga baru kami yang ternyata ribet pengurusannya. Biasalah birokrasi di negeri ini. Kalo gak ribet kayaknya gak indonesia banget gitu. Tapi aku tetap semangat, ini adalah pengalaman pertama sekaligus sejarah baru buatku. Mengurus Kartu Keluarga! yah.. ini seperti semakin menyadarkan bahwa aku sekarang seorang kepala keluarga bukan seorang anak muda yang bebas kesana kemari lagi seperti dulu. Secara alamiah juga aku menjadi membatasi diri untuk pergi-pergi, lebih asik di rumah rasanya. Ngobrol dengan buah cinta kami yang sering gerak-gerak dan nendang-nendang dalam rahim istriku sebuah hal yang luar biasa menyenangkan dan seru. Ajaib! Kelak dia akan jadi anak yang hebat, cerdas dan sholeh/sholehah, dan tentu saja dia akan ku biasakan untuk menulis dan traveling. hehehe. semoga sehat selalu ya, nak!

Tadinya postingan ini akan ku khususkan untuk menulis perjalanan ke Desa Mantar tapi ternyata isi pikiran mengalir begitu saja melalui jemariku dan setelah begini aku kebingungan memberi judul apa pada postingan yang berbicara kesana kemari ini. Jadi untuk cerita perjalanan ke desa mantar akan saya posting setelah ini saja. Salam Blogger, Good Bless Us!
Comments
3 Comments

3 comments:

  1. di taliwang mana ada karapan ayam.. ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada donk, Karapan Ayam itu permainan rakyat di Sumbawa Barat dan Sumbawa Besar bagian timur bro

      Delete

Berkicau

Community