Nov 12, 2012

Aku, Jambu Biji dan Rindu Pada Dusun Samongkat

Malam mulai memasuki larut. Tapi mata masih belum bisa diajak untuk berkelana ke alam mimpi. Selain tidak bisa tidur karena aku tadi sempat tidur siang, juga karena aku masih harus menjaga si kecil siapa tahu nangis karena popoknya basah atau karena yang lain. Bundanya sengaja ku suruh istirahat duluan agar nanti setelah "keadaan cukup aman" aku bisa tidur dan si bunda bisa bangun untuk mengganti popok atau menyapi si kecil. Yah, secara tidak terencana shift-shift-an ini sudah berlangsung sejak beberapa hari lalu. Alhamdulillah tidak ada yang berat, justru sebaliknya, menyenangkan sekali.
Menemani begadang aku menuangkan segelas jus jambu biji dari kemasan besar Buavita. Jus ini kemarin ku beli karena saran perawat waktu istriku melahirkan, katanya bisa membantu menyegarkan badan dan mempercepat penyembuhan luka jahitan bekas melahirkan. Tidak tahu juga sih benar apa tidak tapi tidak ada salahnya mencoba, selain jusnya, jus "beneran" juga tidak ada efek samping mengkonsumsinya. Saya tidak ingin membahas kelebihan dan kekurangan jus ini karena itu berarti saya sedang mereview produk yang larinya ke iklan. (kalo ada royalti, boleh lah hahaha).

Ada keterikatan kenangan antara saya dan jambu biji ini. Rasanya yang segar membawa angan-anganku jauh ke perbukitan Samongkat, desa kelahiran bapakku. Desa tempat lahir dan kecilnya bapak dan kakek nenek serta leluhurnya. Samongkat Sampar nama dusunnya. Dulu, untuk bisa kesana, dari rumahku memakan waktu satu jam setengah dengan menggunakan bus antar kecamatan. Bus hanya mengantarkan penumpang sampai terminal Sumbawa, setelah itu harus naik bemo (angkot) ke terminal Brang Bara namanya untuk kembali naik Engkel (Bus kecil) ke Samongkat. Perjalanan belum usai karena Bus akan menurunkan penumpang yang ke Semongkat sampar di simpangan sebelum kawasan Wisata Samongkat. dari sinilah perjalanan yang menyenangkan menurutku itu di mulai. Setelah satu jam lebih di atas bus dan berganti kendaraan disini aku bisa menikmati udara bebas pegunungan yang segar sepuasnya. Dari simpangan itu aku harus berjalan kaki menuju ke Semongkat Sampar, desa Bapakku yang jaraknya 2,5km lebih dengan medan yang menanjak dan jalanan penuh kerikil dan debu, jika musim hujan jalanan berlumpur dan licin. Di kiri kanan jalan kita di suguhkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Gugusan bukit-bukit hijau yang di tumbuhi pohon-pohon kemiri yang subur dan masih belum berbuah, lembah-lembah di bawah sana dengan hamparan sawah-sawah yang tidak pernah kemarau, selalu hijau atau menguning emas. Jalan ini memang belum sepenuhnya mendapat perhatian pemerintah untuk di perbaiki. Tahun lalu sempat ada proyek pengerasan dan aspal tapi entah kenapa belum satu bulan aspalnya sudah amburadul dan menyisakan kerikil-kerikil tajam.

Dari jalanan yang tinggi ini, aku bisa melihat sawah kakekku di bawah sana dengan lumbung padinya yang khas. Pemandangan yang indah dan orang-orang disini tidak menyadari keindahan ini, mereka tidak menyadari hamparan padi mereka, balai-balai mereka, lumbung mereka dan kegiatan mereka disawah adalah sebuah keindahan dan harmoni alam yang luar biasa indah. Mereka terus saja bekerja dan menghijaukan lahan mereka.
Lembah Samongkat Sampar
Simpangan Samongkat Sampar, perjalan di mulai disini.
Sawah kakek, waktu kecil aku dan nenek sering memetik Pakis di sepanjang pinggir sungai untuk membuat sayur
Dulu, saat aku kecil jika aku lelah berjalan bapak akan menaikanku di pundaknya dengan sebelah sangannya menenteng tas berisi pakaian dan ole-ole buat kakek nenek. sesekali tas itu di kaitkan ke pundaknya. Sepanjang perjalanan kami jarang sekali bertemu orang lewat, jalanan benar-benar sepi tapi sangat aman. Hanya sesekali ada ibu-ibu yang turun ke sawah dan menyapa bapak, lalu dengan terkaget-kaget melihatku sudah tumbuh besar. Setiap aku kesana selalu begitu pertanyaannya. Hingga sekarang aku sudah menikahpun masih terheran-heran aku cepat sekali besar. Itu kan karena mereka melihatku sekali dalam berapa tahun.

Jambu biji seperti ini berlimpa di Samongkat, dan itu dulu.
Lalu kenapa aku ingat Samongkat saat menenggak segarnya jus jambu biji?. 
Sewaktu aku masih kecil dulu, bukit-bukit samongkat di berkahi pohon-pohon jambu biji. Semua bukit, ladang dan kebun pasti dan selalu terdapat banyak pohon jambu biji dengan berbagai jenis, dari yang merah ranum, kecil, keras sampai jambu biji yang putih segar yang mereka sebut "Nyamung Jadi" atau jambu susu. Setiap aku ke Samongkat aku boleh memetik jambu biji dimana saja, dikebun siapa saja, karena jambu biji tumbuh dimana-mana. Di halaman rumah, lapangan bola, di SD, di pemandian umum, di sekitar sumur, di areal pemakaman dan lain-lain, Jambu Biji tumbuh dengan subur dan ranum. Masyarakat Samongkat di kenal dengan jambu bijinya. Setiap pagi buta sebuah Engkel atau Angkutan pedesaan ngetem di simpangan Samongkat Sampar menanti orang-orang dari Samongkat Sampar membawa buah-buah jambu biji mereka yang ranum di dalam "bosang" (wadah dari anyaman bambu" untuk di jual. Sehari angkutan pedesaan itu bisa mengangkut jambu biji dua kali bolak balik. Sebuah berkah dari sang Pencipta.

Masyarakat samongkat pada waktu itu masih belum mengenal dengan dekat budaya modern, listrik saja belum masuk saat itu. Aku sangat menikmati hari-hari setiap liburan kesana, hal-hal yang murni pedesaan masih bisa kita jumpai dan menyenangkannya aku bisa terlibat langsung. Misalnya aku ikut bersama anak-anak SD disana menumbuk padi untuk guru mereka dengan lesung, mengambil air di mata air di pinggir kampung yang jauhnya hampir 2km, sepanjang jalan hanya ada hutan jambu biji. Jadi sambil berjalan aku bisa sambil melirik-lirik buah jambu yang masak. Menyenangkan bukan?
Jika air di mata air itu sedang kering kami berjalan lebih jauh lagi ke sebelah barat Desa, melewati kebun-kebun jambu biji yang tumbuh dengan sendirinya, menyusuri padang sabana, naik turun bukit ladang membawa jerigen dengan pikulan. Mata air ini di sebut Ai Bulu (Ai = Air, Bulu = Bambu), diberi nama begitu karena air ini di keluarkan dari mata airnya dengan bambu sebagai pipanya. Air yang sangat dingin dan segar juga berlimpah. Disekitar mata air tumbuh pohon-pohon jambu biji dan pohon-pohon salak dengan liarnya. Siapa saja boleh memetiknya. Tapi di sini kita dilarang berpikiran jelek, berbicara kotor dan berbuat merusak karena Ai Bulu adalah mata air yang dikeramatkan masyarakat Semongkat. Yah ku pikir kearifan lokal seperti inilah yang bisa menyelamatkan mata air seperti ini dari tangan jahil manusia. Semacam karma atau hukuman dari leluhur akan menimpa siapa saja yang menebang atau berbuat sembarangan disini. Thats cool!!

Akan tetapi semua itu sekarang sudah banyak yang tinggal kenangan. Tak ada lagi anak-anak sekolah yang menumbuk padi atau mengambil air untuk guru mereka satu-satunya di sekolah. Tak ada lagi anak-anak yang setiap hari mengambil air ke mata air di pinggir desa atau ke Ai Bulu', dan yang lebih buruk, pohon-pohon jambu sekarang sulit sekali di temui. Modernisasi yang kebablasan mengikis semuanya tanpa ampun, tanpa pikir panjang. Masyarakat membabat pohon-pohon jambu mereka entah dengan alasan apa, rumah-rumah panggung berganti rumah-rumah bertembok bata, berkeramik dan berwarna segala macam rupa. Anak-anak kecil sudah kehilangan kepolosan mereka, tak ada lagi kulihat yang memainkan permainan tradisional seperti dulu. Tak ada lagi anak-anak yang menunggang kuda ke ladang-ladang menjemput hasil panen mereka. Semuanya sibuk dengan teknologi serupa handphone, televisi, dan social media. Mesjid sepi saat magrib, kosong saat isya dan hanya ada merbot saat subuh. Para tetua mulai rentah dan tak mampu lagi melawan zaman, mereka banyak yang tumbang dan berpulang mungkin dengan kebingungan pada perubahan zaman yang aneh.
Dulu, di sini kakekku pernah membuatkanku Berang (Parang) kecil.
Ada rasa rindu pada masa dulu jika aku kesana. Sekarang kakekku telah berpulang ke hadapan Allah. Nenekku semakin renta dan sering kali dibuat kewalahan oleh cucu-cucu dari adik ayahku yang lelaki semua. Kasian nenekku, tapi beliau tetap bersikeras ingin menghabiskan sisa umurny di Samongkat Sampar, apapun perubahan yang terjadi. Nenek tidak mau di larang berjalan ke ladang, aku masih kuat katanya, nenek juga tidak mau berdiam diri di rumah, beliau sering berjalan-jalan ke kebun yang tidak terlalu jauh dari rumah, entah apa yang beliau kerjakan di kebun yang isinya sudah bukan jambu biji lagi melainkan pohon besar sejenis nangka dan lain-lain. Mungkin nenek hanya ingin mengenang masa-masa lampau saat semuanya masih ada, hidup, bergerak selaras dan bahagia. Nenekku yang penuh kasih sayang itu, di usianya yang senja selalu bercerita tentang masa kecilku disana, tidak pernah ia lupakan, beliau bercerita sepanjang malam sambil memelukku, terkadang meneteskan air mata kesedihan dan kerinduan pada kakek. Akupun berusaha membendung air mataku, menguatkannya dengan pelukan erat yang mengisyaratkan bahwa aku akan selalu ada. 

Zaman terus berlalu, semakin jauh semakin hilang jejak-jejak kehidupan tradisional yang indah. Aku merindukan semuanya, bau khas kebun jambu biji, suara burung kakak tua dan burung Koak Kao yang kabarnya sekarang sudah punah di hutan-hutan sumbawa, tersisa Ayam hutan dan itupun terancam punah. Betapa kejam perjalanan waktu. Menggilas semuanya, bodohnya orang-orang tidak berpikir panjang sebelum bertidak, sebelum memustuskan untuk meninggalkan kearifan lokal dan budayanya. Tradisional mereka anggap kuno dan harus di ganti dengan hal-hal modern. Jika dulu di depan rumah penduduk masing-masing ada obor sekarang hampir semuanya terdapat pemancar TV parabola yang mekar seperti jamur terbalik menengada ke langit mengunpulkan sinyal-sinyal yang siap mengubah pola pikir masyarakat.

Betapa singkat terasa waktu itu. Tahu-tahu semuanya telah berubah dan hampir berubah total. Semoga saja ada tindakan dari pemerintah untuk membendung modernisasi di desa-desa dengan cieri khas tradisional seperti Samongkat Sampar, hanya kearifan lokal masnyarakat yang mampu menjaga keseimbangan alam. Pola pikir sekuler itu hanya akan membawa dampak buruk dan individualisme dalam masyarakat. 

Semoga saja..semoga... terselamatkan tradisi, budaya dan kearifan lokal negeri ini.

*Tulisan ini di posting juga di Jelajah Sumbawa
Comments
2 Comments

2 comments:

Berkicau

Community