Dec 1, 2012

Dua Kisah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Kisah pertama 
Pada saat rangkaian ibadah Haji telah diselesaikan, Muhammad diakhir hayatnya menerima wahyu terakhir dari Alloh Subhanahuwata’ala. Beliau mengumumkan : 

“Pada hari ini, telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kurelakan Islam menjadi agama bagimu”.

Alhamdulillah, Agama Islam telah sempurna, menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya, telah lengkap seluruh ajaran dan tatanan kehidupan dalam Al-Quran yang diajarkan langsung oleh Muhammad nabi terakhir umat Islam yang juga berwujud manusia. Karena yang diajar adalah manusia, maka Alloh mengirimkan manusia juga sebagai utusan (untuk menyampaikan Firman-Nya supaya sesama manusia bisa merasakan hal yang sama,dalam keadaan yang sama). Jadi, tidak mungkin Tuhan sendiri yang turun kebumi mendatangi manusia ataupun menyerupai manusia, Tuhan tetaplah Tuhan tidak ada yg bisa menyamai Dzat-Nya, tapi melalui manusia jugalah Alloh menyampaikan perintah-Nya. Karena seluruh firman telah disampaikan, Tugas Muhammad sebagai penyempurna ajaran nabi-nabi sebelumnya telah usai….

Di akhir hayatnya, Muhammad mengucapkan pada khutbah terakhir menjadi imam sholat 

“Wahai sahabatku, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, siapakah diantara kalian yang merasa pernah teraniaya oleh si lemah ini?  bangkitlah sekarang untuk mengambil qisos”
perkataan diatas diulang sampai 3X karena tidak ada satupun sahabat yang berdiri, tapi terakhir kalinya ada seorang lelaki bernama Ukasyah berdiri dan berkata :

“Wahai Rosululloh, dulu aku pernah bersamamu di perang Badar, untaku dan untamu berdampingan dan akupun menghampirimu, namun saat kau melecutkan  cambuk pada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, sesungguhnya cambukmu memukul lambungku”.
Kemudian Muhammad mengutus Bilal untuk mengambil cambuk dirumah Fatimah,putri kesayangannya. Semua sahabat protes dan marah keras terhadap Ukasyah, kenapa sampai hati melakukan hal itu pada Nabi.

Ketika waktunya tiba, Umar bin Khatab, Abu Bakar yang lembut, Ali bin Abi Thalib menawarkan dirinya untuk dicambuk oleh Ukasyah, karena tak tega melihat Nabi yang dicintainya disakiti.

Tapi sang Nabi berkata :

Duduklah kalian wahai sahabatku tercinta, sesungguhnya Alloh mengetahui kedudukan kalian di sisiku.” 
Kemudian Nabi mempersilakan Ukasyah untuk mencambuk “Inilah ragaku, ambilah qisasmu” (Muhammad melangkah maju).

Ukasyah berkata : “Wahai Rosulullloh, ketika itu tak ada sehelai kain pun yang menghalangi lecutan cambuk di tubuhku”

Tanpa bicara Muhammad melepaskan bajunya, seketika pekik takbir menggema “Allohu Akbar…Allohu Akbar…”

Melihat tubuh suci Muhammad, Ukasyah langsung menghambur dan memeluk beliau, ia dekap erat-erat. Gumpalan kerinduan kepada Muhammad yang sudah mengkristal ia tumpahkan saat itu.
Ukasyah Berkata :  “Tebusanmu, jiwaku wahai Rosul, siapakah yang sampai hati meng-qisas manusia dengan perangai paling indah sepertimu? Sesungguhnya aku hanya berharap tubuhku bisa melekat dengan  tubuhmu, hingga Alloh menjagaku dari siksa api neraka “. 

Kisah kedua :
Disudut pasar kota Madinah, ada seorang pengemis buta beragama Yahudi yang setiap hari selalu berkata kepada semua orang : “Wahai Saudaraku! Jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, pembohong, tukang sihir”. Setiap pagi Muhammad datang kepadanya membawakan makanan dan menyuapi pengemis tersebut, menghaluskan makanan dengan mulutnya, lalu disuapinya dengan lembut. Pengemis itu tidak tau siapa pemuda baik hati tersebut, dia selalu mewanti-wanti kepada pemuda itu untuk berhati-hati dengan Muhammad,  Nabi hanya diam saja dan mengelus-elus pundak pengemis.

Suatu saat tibalah waktunya, Muhammad wafat. Pengemis itu girang bukan kepalang mendengar berita tersebut. Beberapa hari kemudian, pengemis mulai resah kenapa tidak ada lagi pemuda yang baik hati itu, yang menyuapinya setiap pagi.

Abu Bakar, sahabat Rosul yang setia ini bertanya kepada Aisyah , “Adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan? “.

Aisyah menjawab : “Ayah,engkau adalah sahabat terdekat Rosululloh, namun ada suatu kebiasaanya yang belum engkau lakukan, ayah selalu pergi kepasar membawa makanan untuk pengemis buta Yahudi disana.  “.

Abu Bakar kemudian ke pasar, membawa makanan.
Pengemis                         :  “Siapa Kau?”
Abu Bakar menjawab     :  “Aku orang yang biasa mendatangimu.”
Pengemis                        :  “Bukan, pemuda baik hati itu selalu menyuapiku.”
Abu Bakar                      :  -menyuapi-
Pengemis                        :  “Siapa Kau? “,  sekali lagi.
Abu Bakar                      :  “Aku orang yang biasa mendatangimu.”
Pengemis                        : “Bukan,  orang yang datang setiap hari akan duduk bersimpuh disampingku dan menyuapiku setelah dia haluskan makanan itu untukku”.

Hingga akhirnya Abu Bakar menjelaskan, kalau pemuda itu adalah Muhammad Alaihisholatuwassalam. Si pengemis tak sanggup membendung Air Matanya.
____________________________________________________________________
“Jadi, mengapa kebaikan lebih utama? Sebab iman hanya berdampak bagi diri sendiri, sementara kebaikan berdampak bagi seluruh semesta”.

Memang tauhid adalah nomor satu, tapi terkadang fanatik terhadap tauhid membuat kita tidak bisa menerima kebaikan dari ajaran yang berbeda.Wallohu’alam.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community