Nov 26, 2012

Perempuan Yang Berdoa

Ini kisah seorang perempuan yang berdoa.
I don’t care
Who does her hair or
What clothes she wears
I don’t care if it’s YSL. I don’t care if it’s Chanel
What matters to me is a strong belief
All this beauty is skin deep
Don’t care about hair, don’t care about eyesIt’s about what’s inside
Ia memulai doanya dengan menyanyikan sebuah lagu berjudul This Pretty Face dari Amy Macdonald (2010). Tuan Setan menari-nari di kepalanya. “Teruskan, teruskan, Sayang…,” bisik Tuan Setan pada perempuan itu, ia menari gembira.

“Tuhan, aku tahu kecantikan bukanlah tentang apa yang orang-orang lihat dari diriku, tetapi tentang kebaikan yang mereka rasakan dari sikap-hidupku, maka buatlah mereka selalu merasa bahagia atas kehadiranku dan merindukan saat-saat kepergianku. Getar rasa dalam dada, getar cinta dalam kata, maka biarlah hanya cinta yang terucap dari bibirku… lalu bila mereka bahagia mendengar kisah-kisahku, dan bila kisah itu melapangkan hidup mereka dan meringankan bebannya, sesungguhnya aku hanya perempuan biasa yang ingin berbagi kebaikan.
“Tuhan, aku tak ingin meminta agar Kau menambahkan rejeki kepadaku karena aku ingin membeli sejumlah barang-barang mewah untuk mempercantik diriku. Sungguh. Tetapi jika Kau tak keberatan, percikanlah cahaya-Mu agar kebaikan selalu terpancar dari diriku untuk membahagiakan orang-orang di sekelilingku. Sisanya, bila mereka merasa bahagia atas kehadiranku dalam hidup mereka, lalu mereka ingin memberiku sejumlah hadiah, aku pikir Kau tak akan begitu keberatan untuk mengabulkannya, kan?”

Perempuan itu tersenyum dalam doanya. Tak ada yang lebih ia inginkan selain momen kedekatan bersama Tuhan yang penuh dengan senyum kebahagiaan seperti saat-saat sekarang ini. Tak perlu lagi tangis dan ratap kesediahan, katanya dalam hati, betapa aku mencintai-Mu dan itu membahagiakanku! Lalu ia mulai berdiri, merayakan doanya dalam tarian gembira yang penuh kebebasan. Ia mulai merasakan kebahagiaan mengaliri darahnya—membimbing gerak dan hentakan kakinnya.

You’ll never know who you’ll meet on your way to the top
You’ll probabily see them again when your fame starts to drop
Down down, I’ll meet you on the ground
It’s no good with your hair and your shiny blue eyes
It’s no good when you finally start to realize
I need something more
This pretty face don’t work no more

“Ya, kau benar, kau benar, Sayangku…,” kata Tuan Setan tersenyum bangga, “Hidup bukan soal apa yang bisa orang lain lihat dari wajahmu, bukan soal apa yang kamu kenakan dan miliki. Hidup adalah soal merayakan rasa kasih dan sayang yang dianugerahkan Tuhan menjadi sebentuk kebahagiaan bagi dirimu sendiri—juga bagi orang-orang yang melingkupi hidupmu. Kita tak diberi kemampuan untuk mengetahui apa yang akan terjadi besok, kita hanya tahu kelak kita akan menjadi semakin tua dan pengantuk… maka tak usah risau dengan daging-daging yang memang akan membuat kita merasa kehilangan, kekayaan yang akan kita tinggalkan di dunia, atau kecantikan yang hanya akan membohongimu tentang kebahagiaan semu. Lupakanlah semua itu. Kini, saatnya untuk mencintai dan menyayangi. Cintailah hidupmu yang penuh anugerah, sayangilah orang-orang yang menyayangi maupun membencimu. Lalu lihat apa yang akan terjadi!”

Senyum perempuan itu semakin lebar, ia merasakan kelapang yang membebaskan seluruh kepenatan yang selama ini menyesaki ruang-ruang di dadanya. Ia merasakan geraknya yang semakin ringan dan lincah, kini kebahagiaan mengisi ruang-ruang kosong di hatinya—lalu ia melayang terbang dalam doanya…

“Kaulah kecintaanku, Tuhanku, sumber kebahagiaan hidupku, lalu mengapa aku harus mendatangi-Mu dengan perasaan yang sedih? Sungguh, kini aku mengherani diriku sendiri mengapa selama ini aku justru mendatangi-Mu di saat-saat sedih dalam hidupku? Maka, terimalah doaku, Tuhan, betapa aku mencintai-Mu dalam kebahagiaan yang tak sanggup ditampung gerakan apapun dalam tarianku! Terimalah keseluruhan diriku, inilah aku yang bahagia menjadi bagian mahakecil dari keseluruhan diri-Mu!

“Tuhan, aku bukanlah perempuan yang baik, tetapi bila ada satu-dua kebaikan yang pernah aku kerjakan, dan jika itu memang pantas diberi pahala, ambillah pahalaku! Jika boleh, aku ingin menukarnya dengan kebahagiaan lain untuk kedua orang tuaku, keluargaku, dan orang-orang yang selama ini menyayangi maupun membenciku. Sayangilah mereka, bahagiakanlah mereka. Tak perlu lagi Kau memberiku apapun dan aku memang tak ingin meminta apapun untuk hidupku sendiri, cukuplah bagiku mencintai-Mu tanpa keinginan-keinginan yang merantai ketulusanku dalam mencintai-Mu. Sisanya, bila Kau memang memaksaku dalam ruang-ruang permohonan yang ingin Kau kabulkan; bahagiakanlah orang tua dan keluargaku, orang-orang yang menyayangi dan membenciku.”

“Begitulah caranya berdoa, Sayangku…,” kata Tuan Setan, “Doa yang baik tak pernah berpusat pada kepentingan dirimu sendiri. Doa yang baik selalu tersebar bagi kepentingan orang-orang di sekeliling dirimu, orang lain, seluruh semesta. Berdoalah untuk kebahagiaan dan kebaikan orang lain, maka semesta akan bekerja dengan sendirinya untuk kebaikan dan kebahagiaanmu. Taruhan denganku, siapa yang tak bosan melulu mendengarkan permintaan-permintaan yang semua selalu tentang dirimu, kepentinganmu, dan kebahagiaanmu? Maka lupakanlah kepentinganmu, leburkan ia dengan kepentingan banyak orang di sekeliling dirimu, begitulah cara merayu Tuhanmu.” Tuan Setan tertawa. Ia tak bisa menahan dirinya sendiri.

What happened to achieving
What happened to believing in yourself
Why listen to the musings of someone, somebody else
I’m sorry I don’t see and I can’t quite believe it anymore
What happened to believing that beauty’s in the eye of the beholder

All this beauty is skin deep,” kata Tuan Setan, “It’s about what’s inside. What matters to you is a strong belief!” bisik Tuan Setan di kepala perempuan itu. Sementara perempuan itu terus menari dalam doa-doa yang panjang—

"Tuhan, aku mencintai ibuku, maka bila aku memang boleh menyayangi dan membahagiakannya, berilah aku kemampuan untuk menyayangi dan membahagiakannya. Bila kecukupan harta bisa membantuku membahagiakannya, sesungguhnya bukan harta yang kuminta. Tetapi bila cara itu memang bekerja, apa boleh buat, kenapa tidak jika aku memang harus menjadi orang yang kaya? Sungguh sebenarnya bukan kekayaan yang kuinginkan, tetapi bila itu bisa menjadi sebab bagi terwujudnya sesuatu yang kuharapkan, dan Kau mengizinkanya, aku sesungguhnya hanyalah perempuan biasa yang tak akan sanggup menolaknya."

“Tuhan, aku menyayangi ayahku, maka bila aku memang boleh membalas kebaikan hatinya yang telah menumbuhkan hidupku sampai ke titik ini, izinkanlah aku melakukannya. Bila prestasi-prestasi, ketinggian pangkat dan derajat, posisi tawarku di hapadan masyarakat, dan apapun saja yang membanggakannya bisa menjadi perantara bagiku untuk membahagiakannya, sesungguhnya aku tak pernah meminta gemerlap dunia. Tetapi bila Kau memang memperbolehkanku membalas kebaikan ayahku, dan bila cara itu memang cukup bekerja untuk mereaksikan senyawa kebahagiaan di hatinya, maka apa boleh buat, Tuhan, aku tak akan macam-macam kepada-Mu dengan lancang menolaknya.
“Tuhan, aku menyayangi adik-adikku, kakak-kakakku, keluargaku. Aku juga tahu betapa mereka mencintai dan menyayangiku. Sia-sia hidupku jika tak pernah sanggup membahagiakan mereka, Tuhanku. Maka tumbuhkanlah dari diriku sayap-sayak kebaikan yang bisa membantu mereka menerbangkan doa-doa dan harapannya kepada-Mu. Kabulkanlah doa-doa mereka. Ini bukan tentang menjadi seseorang, ini soal menjadi bagian dari rencana indah-Mu tentang hidup yang menghidupi dan hidup yang menghidupkan!

“Tuhan, aku tak ingin menjadi seseorang yang sia-sia menjalani hidup di dunia. Maka bila keluasan akal dan kemanfaatan tindakanku bisa menjadi sumbangan kecil bagi kebaikan semesta, sesungguhnya aku hanya meminta bantuan-Mu agar aku mampu menjadi wakilmu di dunia. Ini bukan tentang diriku, ini tentang tugas berat dari-Mu untuk menjadi kasih-bagi-semesta. “Tuhan, itulah doaku bagi semesta. Tentang diriku, cukuplah aku mencintai-Mu dan Kau mencintaiku. Bila berkenan dan Kau punya waktu, biarlah kelak kita bertemu. Aku sangat ingin menuntaskan rasa cinta dan rinduku pada-Mu dalam pertemuan itu. Bila ternyata Kau juga ingin, maka akulah perempuan yang paling bahagia itu!”

“Amin.” Kata Tuan setan sambil tersenyum. Perempuan itu menyelesaikan sisa tariannya—
You’ll never know who you’ll meet on you way to the top
You’ll probabily see them again when your fame starts to drop
Down down, I’ll meet you on the ground
It’s no good with your hair and your shiny blue eyes
It’s no good when you finally start to realize
I need something more
This pretty face don’t work no more

Lalu tak lama kemudian, ia berhenti. Kini perempuan itu selesai berdoa. “Betapa panjang waktu hidupku, tetapi betapa pendek kebersamaan kita, Tuhanku,” bisik perempuan itu lirih, dan ia mulai menangis sedih. Melihat perempuan itu menangis sedih, Tuan Setan juga ikut sedih. “Tuhan, apakah aku masih boleh berdoa?” kataTuan Setan dengan nada yang sedih, “Jika masih boleh, doaku satu saja, kabulkanlah permohonan perempuan itu. Boleh, ya, Tuhan? Ya? Boleh, ya?” katanya sambil menengadahkan wajahnya.

Setelah beberapa saat, Tuan Setan melengkungkan senyumya yang manis dan mistis, mengedipkan sebelah matanya; ting!

_________________________________________________________________________

Dari buku Fahd Djibran yang berjudul Yang Galau Yang Meracau, Part Perempuan yang Berdoa halaman 49. 
Saya merekomendasikan buku ini untuk kawan-kawan penyuka buku-buku ringan tapi penuh makna dan pelajaran. Buku Setebal 226 halaman ini memang tipis tapi pesan dan pelajaran yang disampaikan penulisnya lewat dialog-dialog slengean Rayya dan (tuan) Setan sangat luar biasa. Segera koleksi.
Comments
2 Comments

2 comments:

  1. iya tuh mas,perempuan memang lebih sering berdo'a ya..

    ReplyDelete
  2. selamat malam sob,,,
    kunjungan perdana dan salam kenal yaa

    ReplyDelete

Berkicau

Community