Jan 1, 2013

Ada Apa di Tahun 2012...?

The Piano Guys - A Thousand Years (COVER) by saraestevao

Ini semacam review atau melihat kembali atau mengingat kembali apa saja yang pernah terjadi, apa saja yang sudah saya lakukan, apa saja yang sudah saya alami dan apa saja yang sudah saya lewati selama tahun 2012 .

Saya akan menuliskan semuanya berdasarkan yang saya ingat jadi saya beritahukan bahwa ini bisa jadi tidak sesuai dengan urutan waktunya. 

Saya rasa ini perlu saya tuliskan, bukan untuk kawan baca tapi agar saya bisa mengambil kesimpulan dan pelajaran dari perjalanan saya selama tahun 2012 kemarin. Sehingga saya akan lebih berpikir lagi untuk menjalani hari-hari di tahun 2013 ini. Untuk menjadi lebih baik.


Jatuh Cinta
Awal 2012 adalah masa dimana saya sedang mabuk kepayang oleh sesuatu yang dinamakan cinta. Walau tidak sampai semaput karena mabuk tapi cinta saya untuknya begitu menggebu. Segala hal sulit menjadi begitu mudah, ada beberapa hal yang berubah dari diri saya. Saya yang dulu pemalu memperkenalkan pacar pada orang tua kali ini dengan mantap saya perkenalkan, mempertemukan mereka. Saya bertekad akan menikahinya. Tentu saja ada alasannya. Hati demikian mantap dan masa depanku bersamanya terlihat begitu indah dan terencana. Aku bisa menjadi diriku sendiri saat bersamanya itulah yang membuatku nyaman dan memutuskan untuk serius. Hubungan kami sebetulnya sudah dimulai sejak Juli 2011, hanya saja kami jarang bertemu karena jarak. Kami semakin menyatu manakala orang tuanya juga memberikan lampu hijau untuk hubungan kami. Ada banyak perubahan baik padanya sejak bersamaku, paling tidak itu kata ibunya yang membuat hatiku semakin menggebu dan sejuk.

Gagal Wisuda
Target wisuda yang saya gadang-gadang pada bulan Februari 2012 gagal. Saya tidak fokus pada studi yang saya mulai tahun 2009 lalu. Terlalu banyak kegiatan lain yang saya lakukan dan ini salah satu efek negatif dari virus bernama cinta yang menyerangku. Tak mau berlarut-larut dalam galau karena gagal, aku kembali mencoba bergulat dengan skripsiku yang sebetulnya snagat mudah itu. Hanya saja, (mungkin kau sudah pernah baca ceritaku yang dulu-dulu tentang minatku yang dibawah rata-rata pada kuliah ini) aku sulit berfokus padanya. Aku lebih giat menulis di website travelingku daripada membaca refrensi-refrensi untuk skripsi, Aku lebih senang mengurusi toko onlineku daripada browsing mencari hal-hal terkait skripsiku. Maka satu dari beberapa penyebab aku gagal wisuda tahun 2012 lalu. Orang tuaku sudah menyerahkan kepercayaan penuh padaku sejak aku mulai bisa memiliki penghasilan sendiri, meski sejujurnya aku sangat merasa bersalah pada mereka. Merekalah orang yang akan sangat bahagia saat aku wisuda untuk kedua kalinya. Karena itu sampai hari ini mereka tak pernah bosan menyemangatiku untuk tetap mengerjakan skripsiku. Bagaimanapun sibuknya aku, bagaimanapun susahnya aku dibuat oleh sang dosen aku harus tetap mengerjakannya, menyambanginya walaupun sekedar membaca sebentar. Ini adalah tanggung jawabku untuk orang tuaku yang tak dapat ku tuntaskan tahun 2012 kemarin. Semoga tahun ini aku bisa lebih fokus, skripsi adalah prioritasku sekarang, untuk orang tuaku.

Menikah
Hubunganku dengannya semakin serius. Setelah menimbang-nimbang hingga beberapa malam aku gelisah dan grogi akhirnya aku beranikan diri untuk mengutarakan niatku pada kakekku dan kedua orang tuaku. Aku ingin menikah. Sebuah keinginan yang luar biasa besar bagi seorang anak yang mereka kenal masih terlalu muda dan tidak pernah menunjukkan keseriusan dalam hubungan. Yah, orang tuaku sama sekali tidak menyangka aku sudah tumbuh sedewasa ini, maklumlah sejak lulus sekolah menengah pertama aku sudah merantau menuntut ilmu jauh dari orang tuaku.

Tepat di hadapan mereka, aku hanya bisa menangis, tanpa kata-kata. Ibu segera memelukku dengan erat. Ayah merangkul kami berdua: Kami menangis bersama dalam sedih yang membuat kami bahagia. “Semoga pernikahanmu selalu dilingkupi keberkahan dan kebahagiaan,” bisik Ayah bagai doa dalam telinga. Ibu tak mengatakan apa-apa, ia hanya mengeratkan pelukkannya, seolah tak rela melepaskanku... Punggung kami berguncang. 

Aku mulai belajar mandiri dan mengenal banyak orang serta tempat. Wajar jika mereka shock saat pertama kali mendengarku mengutarakan niat ingin menikah. Tapi dengan bijak mereka menasehatiku, mengajakku untuk berbicara serta berpikir-pikir lagi dan akhirnya merekapun ikhlas memberikan ijin dan restunya. Aku dan dia melangkah memasuki fase baru kehidupan manusia. Kami sepasang suami istri muda yang memutuskan untuk tinggal jauh dari orang tua kami karena beberapa alasan yang baik. 

Pekerjaan

Karena kami berdua tinggal jauh dari orang tua dan hanya berdua, kami sepakat agar aku tidak bekerja di luar rumah dulu. Kami bersama-sama melanjutkan bisnis kami berdua. Alhamdulillah, kami selalu punya waktu-waktu berkualitas untuk tetap bersama melewati hari hingga akhirnya dia mengandung anak pertama kami aku bisa tetap terus bersamanya. Kami memulai segalanya dari awal dengan penuh cinta. Kami bekerja, berjalan-jalan, memasak, mencuci dan semuanya, kami lakukan bersama.

Menjadi Seorang Ayah!

Inilah puncak dari kebahagiaanku, saat malaikat kecilku lahir ke dunia dengan tangis yang nyaring melengking. Dia lahir tanpa di duga. Malaikat kecilku lahir prematur tapi dengan berat dan kondisi yang normal. Waktu berjalan begitu singkat rasanya. Siang itu istriku mengeluh nyeri, lalu kami sepakat selepas magrib kami akan ke dokter kandungannya untuk memeriksa keadaan kandungan yang hari itu memasuki awal bulan kedelapan. Firasatku berkata lain, sebaiknya aku membawanya ke klinik saja, aku takut dia kenapa-kenapa. Diklinik bersalin semua lengkap dan jika ada kemungkinan lain dari nyeri itu bisa dengan segera di tanangi, lain halnya jika ke tempat dokter kandungan praktek, di sana hanya sebatas tempat konsultasi dan USG saja. Jadilah malam itu kami ke klinik bersalin berdua tanpa membawa barang apapun. Setiba disana dia di periksa dan mengagetkan, dokter memintanya masuk ke ruang bersalin. Aku terperangah kaget, masuk ruang bersalin itu artinya akan bersalin bukan? Sekedar memastikan aku bertanya pada dokter sekali lagi, dan beliau meyakinkan bahwa bayi kami hampir lahir. Astaga, ini benar-benar mendadak, kami datang tanpa persiapan dan hanya berdua. Lihat saja aku dengan celana pendek yang biasa ku pakai untuk traveling ini. Dokter sempat melontarkan pertanyaan yang membuatku tergelitik dan agak-agak sedih juga. Dokter biilang "Keluarga kalian mana?, kok sama-sama "kecil" begini". Aku tersenyum dan menjelaskan semuanya dan dokter malah agak terdengar sedikit tegas, katanya ini kontraksinya sudah dari siang, kenapa baru sekarang di bawa? katanya. Aku dan istriku hanya bisa saling pandang dan senyum-senyum di dalam ruangan bersalin. Tak sampai 45 menit, puteri kami lahir dengan selamat dan normal. Sebuah tanggung jawab sekaligus anugerah baru sudah lahir. Aku resmi menjadi seorang ayah!


Dilema dan Galau seorang suami
Sejak kelahiran anak kami, orang tua kamipun datang menemani untuk mengurus bayi dan membantu kami mengerjakan beberapa hal yang kami belum kuasai. Orang tua kami tampak begitu bahagia atas kelahiran cucu pertama dari anak pertama mereka ini. Suasana rumah menjadi ramai dan penuh senyuman. Tapi semakin jauh hari berjalan semakin terlihat beberapa hal yang membuatku sebagai kepala rumah tangga baru galau dan dilema. Saya rasa semua suami dan ayah baru mengalami hal ini. Tentang bagaimana menyatukan dua keluarga dengan pola kebiasaan, budaya, dan tata cara yang berbeda. Aku harus bisa menempatkan diri ditengah-tengah, aku harus bisa menjadi penyeimbang dan penetral untuk keadaan yang membingungkan ini. Akhirnya keputusan dibuat, kami membagi shift untuk dua keluarga kami, satu shift untuk satu bulan. Alhamdulillah semua lancar dan kembali penuh senyuman. Bercampurlah disana semua yang bernama senyum, tawa, rindu, dan bahagia, semua karena bayi mungil kami yang ku namai Quineeta Khaira Rumi. 


Dan tahun 2012 telah berakhir. Semua sudah terlewati. Hidup telah menyajikan pelajaran-pelajarannya untukku. Setidaknya aku bisa mempelajarinya untuk membuat strategi baru untuk survive di tahun 2013 ini. Sudah seharusnya aku harus menjadi lebih bijak, lebih sabar dan lebih mendekatkan diri pada Sang Pemilik Hidup yang Maha Penolong, Allah SWT. Harapanku, semoga segala yang tertunda segera terselesaikan awal 2013 ini agar planing berikutnya bisa ku kerjakan dengan leluasa dan fokus penuh. Semua tidak lain tidak bukan untuk keluarga kecilku dan orang tuaku yang begitu kucintai dan mencintaiku. Insyaallah, untuk semua niat baik, Semesta pasti mendukung!

Mari melangkah dengan Bismillah.... Sesungguhnya tidak ada tanjakan yang lebih tinggi dari lutut kita yang kita perlukan hanya semangat dan tetap pada niat baik serta optimis!
Comments
4 Comments

4 comments:

  1. salam kenal bro,
    selamat tahun baru 2013 ya bro..
    kunjungi balik blog saya juga ya di evaanindhita.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. haaii,, akak,,, hek,,, omank lagi iseng2 juga pgen buka2 blog..
    heemm boleh dong nyak2 ke kak ajie neh ea,, :) hek,,,
    lagi seneng2 na nulis soalnaa,, ^_^

    ReplyDelete
  3. biar tampilanya kereen gtuu gimaa carana kak,, ???

    ReplyDelete

Berkicau

Community