Dec 14, 2012

Mie Instan dan Kenangan Lainnya

Bagaimana sebuah mie instan bisa membuat berjuta kenangan bertebaran seperti busa-busa balon yang beterbangan di depan mata. sadar atau tidak,sebuah mie instan telah begitu lama menemani ku begitu lama dan pada saat-saat sendiri dan di moment yang selalu syahdu. Saat dunia terasa menjauh atau aku yang sedang menjauhkan diri dari riuh gaduh dunia, di tengah hutan yang sunyi, di atas gunung yang menyadarkanku betapa kecilnya aku, di tepi pantai yang landai dan di tengah malam yang tenang.

Di tengah malam yang tenang pada suatu hari ketika aku masih seorang anak SD. Mata yang terlalu bersahabat dengan buku, gunting, dan kertas membuatku sering tidur lebih lama dari penghuni rumah yang lain. Aku membaca seolah ada deadline yang harus dikejar, aku membuat prakarya seolah akan dikumpulkan esok pagi di sekolah. Padahal itu semata-mata karena penasaranku saja. Penasaran pada cerita buku yang sedang ku lahap, penasaran pada prakarya yang tadi siang ku baca di majalah anak-anakku. Lalu kakekku yang baik hati juga akan terbangun untuk sesekali mengingatkanku agar segera tidur atau kadang-kadang beliau bangun lalu duduk di depanku, melihat apa yang ku kerjakan atau bertanya tentang buku yang membuatku tak bisa tidur. Tak jarang aku jadi kebanyakan bercerita tentang kawan-kawanku di sekolah atau tentang guruku yang selalu menyuruku mengerjakan soal di depan kelas. Kakeku tidak akan banyak komentar, hanya sesekali pujian dan senyum yang ia perlihatkan dan itu membuatku melayang. Membuatku menjadi anak paling hebat di muka bumi.


Lalu biasanya kakek akan berjalan ke kamar mandi lalu menuju dapur kemudian kembali ke tempatku dan mengajakku ke dapur untuk masak mie instan. Aku sampai paham betul mie goreng instan kesukaan kakekku, beliau akan memintaku untuk menambahkan sedikit kuah kental pada mienya, irisan cabe merah yang banyak, lalu daun bayam yang direbus bersamaan dengan mie. Aku bukan penyuka pedas, maka cukup sayur dan bawang goreng saja. Lalu sepersekian dari malam itu kami lewat dengan bercengkrama berdua sambil menikmati mie instan ala kakek dan cucu ini. Momen yang selalu terulang dari malam-malam ke malam sampai akhirnya aku berada jauh dari rumah. Aku sangat merindukan kakekku. Sangat!

***

Aku akan sangat girang bukan kepalang saat kepala sekolahku yang sudah seperti orang tua kami itu mengumumkan bahwa besok kami akan berkemah. Begitu lonceng pulang sekolah berbunyi aku dan kawan-kawanku menghambur secepat mungkin berdesak-desakan di pintu kelas lalu berlomba-lomba menjadi yang pertama melewati pintu gerbang sekolah. Aku tidak berhenti berlari, aku ingin secepat mungkin sampai rumah. Aku harus segera bercerita pada ibu tentang hari ini di sekolah, aku juga akan memaksa ibu menandatangi surat ijin kemah sabtu minggu di lapangan sepak bola di pinggir desa. Seperti biasa, setiap hari sambil makan siang, aku akan bercerita panjang lebar tentang apa saja yang kulihat dan ku alami di sekolah. Tentang Amrul yang ingusnya seperti balon permen karet, Rahmat yang mengutak atik motor kepala sekolah, Yadi yang selalu ribut di kelas, Ruslan yang mengalahkanku dalam pelajaran matematika dan semua hal-hal lainnya. Ibuku kadang sampai terkantuk-kantuk mendengarkanku, sesekali ia menyela, memberi tanggapan sekenanya mungkin agar aku tak kecewa. Lalu buru-buru ku rogoh tas sekolahku, kusodorkan surat ijin ikut perkemahan sabtu minggu (Persami) di lapangan sepak bola di pinggir desa. 

Seperti yang kutahu, ibu selalu mengijinkanku. Aku bahagia bukan main, jika tak diingatkan untuk tidur siang, aku akan menyelesaikan mengepak barang-barangku saat itu juga. Tak sabar sekali rasanya untuk segera memakai atribut pramukaku, kata kepala sekolahku "Orang-orang mungkin mengira anak-anak pramuka seperti orang gila, bajunya penuh tempelan-tempelan, selempang, dan tidur di luar rumah pada malam minggu yang seharusnya dilewatkan dengan menonton tv sepuasnya atau berlibur. Tapi mereka tidak tahu, anak-anak bapak ini hebat semua, setiap tempelan atribut itu punya makna yang luar biasa bagus. Lihat, lihat lampang Pramuka kita. Ini tunas kelapa nak! Melambangkan kalian adalah tunas bangsa yang berkualitas, terus tumbuh dengan manfaat-manfaat bagi tempat dimanapun kalian berada kelak, seperti halnya kelapa! Kalian anak-anak yang luar biasa, kalian adalah generasi muda yang kelak akan menjadi orang hebat!" Lalu dadaku akan kembang kempis menahan rasa bangga dan semangat yang luar biasa pula! Ah!

Lapangan sepak bola itu tidaklah jauh dari rumah-rumah kami, hanya berjalan beberapa menit saja untuk sampai kesana. Di rumah aku tak bosan-bosannya bercermin, melihat-lihat baret, setangan leher, selempang, tali pramuka, dan belatiku sudah terpasang dengan benar di seragam kebanggaanku itu. Tak satupun terlewat, tidak juga mie instan, roti dan botol minuman yang menyesaki ranselku. Aku merasa gagah sekali. Kami berjalan bersama-sama menuju lapangan dengan langkah yang gagah. Seakan semua mata tertuju pada langkah kami. Anak-anak yang tak ikut berkemah menatap iri dan sinis pada kami. Ah siapa peduli. Malam ini kami akan memasak mie instan kami bersama, siapa peduli enak atau tidak inilah hasil masakan kami dan kami menikmatinya. Malam ini akan kami lewati dengan bertepuk tangan bersama, bernyanyi di depan api unggun, mendengarkan dongeng-dongeng lucu dari kepala sekolah kami, lalu kami akan tidur bersama di dalam tenda. Terlelap dengan nikmat di bawah bintang-bintang. Esok paginya kami akan apel pagi, aku mengucapkan dasa dharma pramuka seperti biasanya dengan dada bergemuruh diliputi kebanggaan dan semangat seorang anak SD, pramuka siaga!

***

Beberapa tahun kemudian, saat menjadi mahasiswa.

Berkemah!? Lets Go! Sudah tak terhitung banyaknya momen indah bersama sahabat-sahabatku. Susah, sedih, damai, berkelahi, tertawa, menangis, semua sudah menjadi semacam imun yang memperkuat rasa memiliki kami satu sama lain dalam perjalanan persahabatan kami. Sudah berkali-kali pula kami melewati malam bersama di belantara pulau ini, mendaki ke puncak tertinggi, bermalam di bawah air terjun, atau tidur di bawah hujanpun sudah pernah kami rasakan. Kau tahu kawan, alam tidak pernah benar-benar galak seperti yang kau kira. Bahkan saat kau kehabisan mie bekal di perjalananmu. Jika tak percaya teruslah membaca tulisan ini.

Hari itu kami bersepuluh akan membuka jalur baru untuk rute perjalanan pelantikan anggota baru pramuka kampusku. Kami mulai masuk ke hutan selepas ashar, dua orang temanku yang mengaku pernah melewati jalur ini. Kami terus berjalan mengikutinya hingga sampai di sebuah tempat mereka berbeda pendapat, yang satu mengajak ke kanan, yang satu lagi yakin kalau jalan yang pernah dia lewati adalah yang ke kiri. Kami melihat kompas untuk menentukan yang benar, dan kami sepakat berjalan ke arah kanan. Hari semakin gelap, magrib tiba tapi kami tak menemukan tanda-tanda akan tiba di tujuan kami. Semakin kami berjalan semakin kami tak mengenal daerah itu hingga akhirnya kami sepakat bahwa kami sedang tersesat. Entah mengapa, dalam hati aku bersorak girang. Ini akan jadi moment yang tak terlupakan, pikirku!. Aku menikmatinya. Kami berjalan mengikuti kompas, menuju timur yang jika benar kami akan menemukan aliran sungai disana. Rencananya kami akan sholat magrib disana, tapi hingga magrib hampir habis kami tak menjumpai sungai atau mendengar suara air. Setelah berembuk, kami memutuskan untuk sholat dan beristirahat di tempat asing itu. Langit cerah, bintang-bintang berserakan seperti di lemparkan tangan raksasa begitu saja memenuhi cakrawala. Indah sekali. Beberapa temanku sempat beradu emosi namun itu tak lama. Begitulah kawan, siapapun kalian di tengah-tengah alam liarlah kalian akan tahu siapa kalian atau siapa teman kalian sebenarnya. Disanalah akan terlihat bagaimana tabiat asli kawanmu. Dia yang penolong, penyabar, penenang, akan terlihat. Dia yang pemalas, pemarah, pembual, dan lain-lain pun tak bisa di tutupi. Terlihat jelas dengan sendirinya, kau tak akan bisa menyembunyikan sifat aslimu. Alam akan menunjukkan sekaligus mengajarkanmu tentang bagaimana seharusnya kita bersikap. 

"Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya..." --Eros Chandra

Malam kian larut, kami menikmati berkemah ditempat asing itu. Bercerita banyak hal sambil menikmati mie instan dan kopi di gelas-gelas plastik kami. Kami begitu menyatu, hati kami mendekap satu sama lain dengan hangatnya. Kami merasa menjadi begitu erat dan kuat. Ide-ide tentang esok bermunculan malam itu, kami tersenyum bersama, lalu tertawa kecil-kecil hingga akhirnya kami semua terlelap dan dibangunkan oleh hangat mentari...

***

malam ini...

Anakku telah lelap, istriku yang lelah sudah tertidur sambil memeluk buah hati kami yang lucu. Aku lega si kecil tidak rewel terlalu lama seperti malam-malam kemarin. Malam ini suasana di dalam rumah tenang sekali, kecuali diluar sana. Suara daun cemara di depan rumah yang tertiup angin dingin musim hujan terdengar sampai ke dalam kamar. Sesekali aku memeriksa tidur si kecil dan bundanya, dia sering sekali kaget lalu terbangun oleh suara-suara apapun. Kata dokter itu hal biasa untuk bayi berumur 0-3 bulan. Setelah memastikan semua aman terkendali, aku beralih ke dapur. Membuka lemari makanan, aku melirik tumpukan mie instan dan aku memilih mie instan rasa soto banjar. Aku suka sekali rasa ini.

Seporsi mie ayam rasa soto banjar dan segelas air putih hangat telah siap di depan meja komputer. Aku terdiam beberapa saat. Tiba-tiba saja angan membawaku ke masa-masa silam yang penuh momen-momen bersejarah dalam hidup. Tentang tingkah masa kecilku, masa-masa alayku, dan saat-saat penuh perjuanganku. Semua bermunculan satu-satu, melayang-layang di depan kepalaku. Aku mulai menuliskannya beberapa, beberapa lagi untuk ku tulis dilain waktu. Bukankah mengingat-ingat masa kecil itu menyenangkan, kawan? apalagi jika kelak anakku yang akan membaca postingan ini? Lebih menyenangkan lagi.
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community