Jan 15, 2013

Orang Tua, Anak dan Masa Depan

Manusia sejak lahir dibekali potensi akal dan kemampuan berpikir serta berbuat yang luar biasa besar oleh Allah. Manusia lahir dalam keadaan yang lemah tanpa pengetahuan tapi dengan kemampuan belajar yang canggih! Anak kecil bisa merekam jutaan hal yang ia lihat, dengar dan rasakan setiap harinya. Anak kecil memliki potensi berpikir yang besar dan tugas orang tua yang memberikan umpan agar mereka terlatih untuk berpikir maupun merasakan (empati). Peka terhadap lingkungan dan berpikir untuk bertindak. Hingga hal demikian (berpikir dan merasakan) terbiasa ia lakukan hingga dewasa dan insyaallah akan menjadi manusia yang bijak saat tuanya.

Lingkungan menjadi salah satu faktor ekstrim yang bisa mengubah kembali pola kebiasaan anak yang sudah tertanam dalam keluarga karena itu orang tua harus, mutlak dan mau tidak mau menjaga lingkungan anak. Lingkungan yang baik adalah lingkungan dimana anak bisa berkembang pikiran positifnya dan perasaan positifnya (positive feeling). Kebiasaan-kebiasaan dari keluarga adalah pegangan yang akan menjadi bekal anak bergaul dengan lingkungan. Jika dari keluarga sudah menanamkan hal-hal baik dan ketegasan pada hal baik dan buruk maka pergaulan anak tidak perlu terlalu dikhawatirkan, lalu bagaimana dengan orang tua yang berlebihan dalam memanjakan anak?

Banyak fakta yang terjadi di sekitarku, tentang anak-anak manja yang menjadi kesulitan dalam pergaulannya ketika jauh dari orang tua. Banyak fakta yang terjadi tentang akibat orang tua yang over dalam menuruti kemauan anak, yang pada akhirnya menjadi bumerang. Misalnya ada orang tua yang saking begitu sayangnya pada anak sampai apapun yang si anak inginkan harus ia penuhi bagaimanapun caranya, begitu cintanya pada anak hingga kata-kata kasar si anak saat menyampaikan keinganannya bukan lagi masalah. Bisa ditebak bagaimana jika anak seperti ini besar lalu berada jauh dari orang tuanya. Mereka akan tumbuh menjadi anak yang penuntut, konsumtif, pembohong yah, berbohong demi apa yang ia inginkan. Mereka menjadi anak yang tidak mau peduli bagaimanapun keadaan orang tuanya, seperti apa orang tuanya berusaha memenuhi kebutuhannya yang tidak penting itu, yang mereka tahu orang tuanya harus memenuhi semuanya dan ini Fakta. Bagaimana menanggulangi anak manja semacam ini? Mungkin ahli di bidang ini lebih tahu tapi jika boleh memberikan saran, aku ingin menyarankan : berikan dia tanggung jawab misalnya mengelola modal (atas namakan modalna dari orang lain bukan orang tua), buat perjanjian yang tegas dan berikan ia motivasi bahwa ia bisa untuk menadiri. Biarkan ia merasakan bagaimana berusaha agar ia bisa berpikir bagaimana susahnya orang tua harus memenuhi kebutuhannya. Pada awalnya mungkin ia akan kesulitan atau malah akan melakukan kecerobohan atau semacam penghianatan, disitulah nanti perjanjian yang sudah dibuat yang akan menjadi Punishment buatnya.

Lalu bagaimana jika orang tuanya yang tidak mengerti bagaimana seharusnya membiasakan dan mendidik anak? Tidak mengerti bagaimana mempersiapkan anak menuju zamannya. Orang tua seperti ini biasanya lupa bahwa akan ada suatu masa yang berbeda dengan masanya dan itu adalah masa anak-anaknya harus dilepaskan ke dunia luas. Mereka lupa bahwa anaknya harus dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan sesungguhnya diluar sana, tidak lagi dengan mereka. Ada saatnya si anak akan merasakan berjuang untuk bergaul dan diterima pergaulan, ada saatnya si anak akan berusaha melakukan segala sesuatu sendiri, bekerja, masak, makan dan sebagainya. Semua manusia mengalami itu. Sejatinya cinta orang tua itu adalah menyiapkan bekal pengetahuan buat anak, bekal yang akan terus ia bawa hingga kelak ia menjadi orang tua untuk anak-anaknya kelak. Bekal berupa pelajaran-pelajaran tentang kehidupan yang diajarkan orang tua di dalam keluarga, tentang bagaimana menjadi bijak menjalani hidup, bertemu orang-orang asing atau menjadi kawan bagi siapa saja di kehidupanya. Anak lahir kedunia untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah selanjutnya setelah orang tua mereka, khalifah bagia dirinya sendiri, lingkungan dan sekitarnya. Jika orang tua berpikir tentang ini maka dengan sepenuh hati mereka akan menyiapkan buah hatinya agar menjadi pemenang kelak di zamannya, bukan menjadi anak yang kemana-kemana harus bersama orang tuanya dan dilayani orang tuanya. Tambah parah jika orang tuanya dengan senang hati memenuhi kemauan sang anak. Saya menyebut ini sebagai cinta orang tua yang bebablasan atau cinta buta!

Akan ada masa dimana anak perempuan akan menjadi istri untuk suaminya dan menjadi ibu untu anaknya dan jika bukan pada Ibunya pada siapa lagi dia harus belajar mengurus suami dan anak? Jika bukan orang tua yang berinisiatif mengajar lalu siapa lagi?

Akan ada masanya dimana anak laki-laki akan menjadi kepala keluarga untuk anak dan istrinya, akan menjadi bagian dari masyarakat dilingkungannya, tugas sang ayahlah mempersiapkannya untuk menjadi laki-laki tangguh yang akan memimpin dan membela keluarganya. Tugas ayah ibunya lah untuk mempersiapkan ia menjadi lelaki mandiri yang akan mencetak generasi cemerlang selanjutnya. Apa jadinya jika anak tidak bisa jauh dari orang tua? Fatal akibatnya.

Aku adalah anak pertama dari empat bersudara. Keluargaku sederhana, bahkan sangat sederhana. Orang tuakupun hanya lulusan SMA dan SMP, seperti orang tua lainnya mereka menyayangi anaknya dengan cinta yang luar biasa. Tapi mereka juga mendidik kami dengan tegas. Sebagai cucu pertama sudah pasti aku menjadi prioritas bagi kakekku. Segalanya akan dipersiapkan untukku. Tapi lagi-lagi kakekku menjadi orang yang tegas jika sudah menyangkut hal yang bernama belajar, baik itu belajar akademik maupun tentang hidup. Kadang kala kakek mengajakku ke kebun, mengajariku menanam segala macam tanaman, memperkenalkan nama-nama pohon, mengajariku menebang bambu dan memilah mana pohon yang bagus mana yang bukan. Kakekku juga memotivasi lewat kisah-kisahnya tentang para pencari ilmu yang sukses, bercerita tentang perjuangan abangku (sepupuku) yang berjuang sendiri menyelesaikan masternya di UI, tentang suatu zaman yang akan berbeda dengan zaman saat itu. Kakekku mempersiapkanku dengan caranya sendiri. Lain lagi dengan bapak, bapak lebih keras caranya. Aku di paksa belajar turun ke sawah, mengerjakan segala sesuatu yang ada di sawah, kata bapak kamu bisa melakukan apa saja asal kamu mau, manusia sering membatasi diri makanya tidak bisa padahal Allah memberikan mereka kemampuan dan potensi untuk BISA yang luar biasa besar. Mereka sendiri yang membatasi diri hanya bisa begini, tidak bisa melakukan itu atau tidak kuat melakukan ini. Orang tuaku telah meraba zaman yang akan datang.

Hasilnya aku menjadi antusias pada hal-hal baru, tempat-tempat asing dan lainnya. Aku menjadi jijik pada orang manja yang selalu mengandalkan orang tua, terlebih jika itu laki-laki. Jelas sekali alasannya mengapa aku risih pada orang-orang yang sedikit-sedikit mengandalkan orang tua, orang tua dan orang tuanya. Tidakkah mereka berpikir bahwa mereka harus belajar menyelesaikan segala sesuatu sendiri? tidakkah mereka sadar bahwa pada saatnya orang tuanya akan pergi untuk selamanya? Maka sebelum terlambat, sebagai orang tua baru, semoga kita bisa menjadi orang tua yang sempurna untuk anak-anak kita. Semoga kita bisa menjadi fasilitator yang akan mendiklat anak-anak kita untuk menghadapi masa depannya nanti. Percuma seorang anak ber-IPK tinggi jika masih berada di bawah ketiak orang tua. Semoga kita bukan termasuk anak yang percuma. 

Note :
Tulisan ini untuk mengingatkan saya dan siapa saja yang membaca, bahwa mencintai anak itu tidak harus dengan selalu menuruti keinginannya, tidak semua keinginan itu harus di turuti. Sebaliknya memanjakan anak berlebihan sama halnya dengan mencelakakan masa depan anak. 

Salam!

Comments
1 Comments

1 comment:

Berkicau

Community