Feb 23, 2013

Menyeberang, Untuk Temanku

Kapan Tuhan mengirimkan jodoh buatku? Itu pertanyaan pribadimu. Keluh rahasiamu. Kadang-kadang kamu gumamkan di saat-saat sepi yang sendiri. 

Kapan kamu menikah? Itu pertanyaan mereka—entah mengapa selalu terasa seperti sebuah serangan terbuka. 

Apa-apaan ini!? Katamu, sambil mendirikan benteng pertahanan. Aku juga ingin menikah! Aku sudah berusaha sekuat tenaga! Aku masih menunggu—aku hanya percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik untukku! 

Kapan kamu menikah? Untukmu, di sini, sepandai apapun kamu menjawabnya atau tidak menjawabnya, pertanyaan itu akan selalu ada sebelum kamu menuntaskannya. 

Doakan saja. Jawabmu. Diplomatis. Mereka mengangguk. Juga diplomatis. Semoga mereka benar-benar mendoakanmu.

Tapi dua minggu, atau dua bulan, atau dua tahun berikutnya, mereka akan mempertanyakannya lagi: Kapan kamu menikah? 

Kamu tersenyum. Menggelengkan kepala. Tenang saja, katamu. Sementara rasa waswas menyerangmu dari dalam. Dan dalam kedip matamu yang ketiga, kamu menghitung jumlah usia. Tenang saja?  

Mereka tersenyum. Tetapi tentang semua ini, senyum mereka seringkali tak membuatmu bahagia. Tenang, tenang, tenang, semua masih baik-baik saja—meski tak sesuai rencana. Kamu mencoba mengobati dirimu sendiri. 

... dan para penanya mungkin berlalu, tetapi pertanyaan-pertanyaan itu selalu ada untukmu. Lagi dan lagi. Dari siapa saja: Kapan kamu menikah?  

Bah, konspirasi macam apa ini!? Umpatmu dalam hati. 


***

Mari kita bayangkan sepasang jodoh sebagai dua manusia yang berdiri di dua tepi pantai yang dipisahkan lautan—saling mengandaikan. Dengan demikian, perjodohan, atau pernikahan, barangkali semacam kehendak untuk saling mempertemukan diri satu sama lain. Keduanya boleh jadi diantarkan takdir untuk bertemu atau dipertemukan, tetapi nasib dan hidup baru bermakna setelah kita memberinya kata kerja, kan? Maka menyeberanglah. Sebagaimana nasib, juga hidup, jodoh selalu butuh kata kerja untuk membuat dirinya jadi bermakna. 

Bagaimana kalau jodohku bukan dia yang sedang menunggu di tepian pulau yang sedang kutuju? Katamu. 

Bagaimana kamu tahu? Kataku.

Kamu menggelengkan kepala. Aku tidak yakin, sebenarnya. Selalu tidak yakin. Jawabmu.

Keyakinan adalah modal pertama agar kau bisa menyeberangi lautan. Itu saja.  

Tapi aku melihat banyak orang yang menemui seseorang yang keliru di seberang lautan! Keluhmu.

Sudahlah. Apa yang salah tentang kegagalan? Kegagalan hanyalah sebuah alternatif. Jalan memutar menuju keberhasilan. Entoh tak tersedia pilihan lainnya setelah itu selain keberhasilan, kan? Lagipula bukankah cerita hidup manusia dimulai dengan sebuah peristiwa kegagalan? 

Kamu tetap menggelengkan kepala. Aku tak bisa berenang dan aku tak mau berlayar! Katamu. 

Aku tak bisa memaksamu, bagaimanapun. Tetapi apapun pilihanmu, jodoh tetaplah sepasang manusia di dua tepian pulau yang terpisahkan lutan. Tinggal kamu yang memutuskan, sementara kita bisa melihat lautan dengan dua cara pandang yang berbeda: Bentangan kekejaman yang memisahkan dirimu dari jodoh yang tengah kau andaikan, atau instrumen yang membuatmu selalu punya kemungkinan untuk bisa mencapai pulau lainnya dari pulau tempatmu berdiri...  

Seberapa dalamkah sebenarnya lautan? Itu pertanyaanmu berikutnya.Terdengar ragu-ragu.

Kali ini aku yang menggelengkan kepala. Tak ada satupun manusia yang benar-benar tahu, tak ada yang pernah benar-benar bisa mengukurnya. Tuhan maha tahu segalanya, sementara manusia hanya bisa menduga-duga, kan?

Kamu menghela napas panjang. Menganggukkan kepala.

***

Jadi, kapan kamu menyeberang? 
Bah, konspirasi macam apa ini!

:)

________________________________________________________________
Tulisan ini adalah tulisan dari blog Fahd Djibran, penulis favoritku! 
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community