Mar 8, 2013

Another Lala Jinis Story (Cerita Pendek)

Pernahkah kau membayangkan hari ini di masa lalu? Pernahkah kau menduga perjalanan hidup kita akhirnya sampai pada hari ini dan seperti ini? Entah hari ini kita sedang berbahagia merayakan perjalanan kita atau sedang bersusah payah terus bangkit, berenang, melawan atau berjuang untuk keluar dari kesulitan. Semuanya, semua yang terjadi hari ini adalah hasil dari apa yang kita pernah cita-citakan dan kita usahakan di masa lalu. Hari ini adalah buah dari pohon yang kita semai di masa lalu. Maka nikmatilah setiap keberhasilan yang ada karena itu adalah buah dari cita-citamu. Jika saat ini kau terjatuh maka ingatlah bahwa ujung perjalanan selalu manis, jika tidak maka itu bukan ujung. Teruslah berjuang.

Lalu bagaimana jika cinta yang kau tinggalkan dimasa lalu tetap mengikutimu bahkan hingga saat ini? Apa rasanya menyesali cinta yang kau tinggalkan untuk ambisi semumu?

***
Masih ingatkah, Lian?! kalimat-kalimat harapan yang pernah sama-sama kita ucapkan ketika langit malam dipenuhi gemintang dan angin dingin yang lembut perlahan-lahan membasuh wajah muda kita saat itu. Ketika binar-binar semangat di wajah kita terpancar begitu rupa menyiratkan harapan akan hari ini dan hari esok kita. Malam itu, sekeliling kita dilingkupi semangat dan harapan pada masa depan yang akan kita tuju. Masa yang kita harapkan akan lebih indah bahkan dari hari-hari kita yang paling indah saat itu. Masa depan kita begitu berharga untuk di datangi dengan membawa berupa-rupa semangat, ilmu, dan keyakinan diri. Di bawah langit yang bertabur bintang, kita bercerita tentang hari esok, kita bertutur betapa masa-masa kita bersama adalah masa-masa terindah sekaligus tersulit untuk kita tinggalkan. Namun kita harus beranjak, gerbang perjalanan berikutnya sudah terbuka. Siap atau tidak kita harus memasukinya. Kita berpencar, berpendar menuju arah mata angin masing-masing.

Hingga kita tiba pada hari ini...
Apa kabar, Lian? Tahukah bahwa semangatmu, semangat kita dulu adalah bekalku menuju hari ini. Sesekali memang aku melupakanmu, terkadang aku memang terlalu larut dalam hari-hariku tetapi ketika aku sesekali terjatuh, aku membayangkan binar matamu saat kau berkata bahwa hidup ini unik, kadang kita terjatuh bahkan ketika kita merasa sudah begitu pandai berjalan. Sesungguhnya jatuhnya dirimu adalah isyarat bahwa makna hidup ini terlalu luas untuk kita ukur dengan keberhasilan yang kita raih. Kau tegaskan padaku kala itu bahwa ketika hati terbebas dari segala gelisah dan dendam saat itulah kau disebut pribadi yang menang. Sesederhana itu sukses dan bahagia menurutmu. 

Tapi aku mengabaikan kata-katamu, bagiku kesuksesan adalah saat aku mendapatkan segala yang kuinginkan untuk menebus kegagalan hidupku dimasa lalu, untuk "kebahagiaanku". Sukses itu adalah saat aku menjadi yang paling dipandang, ketika aku menjadi pusat perhatian semua orang. Yah, sukses buatku adalah ketika semua orang menganggapku sempurna dan memiliki segala pesona dunia. Aku mengejar semua itu, Lian. Aku berlari dari satu tempat ke tempat yang lain, aku  terbang dari benua satu ke benua yang lain. Kujadikan diriku seperti yang mereka inginkan, agar mereka semakin memandangku sempurna. Semua yang kumiliki, yang melekat pada tubuhku akan menjadi sorotan dan menjadi patokan untuk mereka. Akulah sang bintang yang mempercayai bahwa keberhasilan dan kesuksesan itu adalah buah dari usaha dan pikiranku. Aku bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan. Jika mereka menyukainya maka aku semakin bergelimang kemewahan. Tarifku semakin melangit dan kekayaanku akan bertambah berkali-kali lipat.

Tapi tahukah kamu, Lian? Ketika aku sendiri, ketika waktu terkadang membawaku pada sudut-sudut malam yang sepi. Aku selalu mengenang malam itu. Ketika kedamaian hati meliputiku yang berada di sampingmu. Aku rindu, rindu sekali suana hati seperti itu, kedamaian hati tanpa syarat. Dimana cuma ada aku, kamu, langit malam yang penuh bintang, lampu-lampu kota yang seakan sengaja dinyalakan untuk kita nikmati dari bukit kecil tempat kita saling mengutarakan semua yang kita rasakan dan kita inginkan untuk masa depan kita. Kamu Lian, kamu adalah bagian masa lalu yang tak pernah bisa kulupakan hingga detik ini. Kau tahu bagaimana berantakannya hidupku dulu, kau yang lebih tahu dari siapapun berapa banyak air mata yang ku keluarkan karena hidupku yang penuh cobaan saat itu. Pengertian dan perhatianmu seperti energi buatku untuk tetap berdiri, berjalan tertatih dalam cobaan hidupku. Bagaimana aku bisa melupakannya? Terlebih ketika aku sedang sepi dan sendiri. Karena itu, aku selalu menghindari kesendirian. Karena saat aku sendirian, rasa bersalah, rasa kotor dan segala rasa lainnya datang menyerangku ketika aku terjebak sepi di sudut malam. Aku geram pada nasibku di masa lalu, Lian! Aku benci seluruh kehidupanku dulu. Kecuali satu : kamu. 

Aku ingin pulang, Lian. Aku ingin menemuimu. Aku ingin menceritakan betapa usahaku untuk meraih mimpiku sudah terwujud dengan sempurna. Semua orang kini mengenalku, mengagumiku dan ingin sepertiku, Jinis Ananda Sang Supermodel. Tapi aku tidak menemukan kedamaian hati seperti saat aku bersamamu malam itu, semakin aku berjalan menaiki tangga kepopuleranku semakin aku merasa tak mendapatkan apa-apa. Hatiku kosong, segala yang ada semuanya palsu. Mereka yang mendekatiku tidak lebih dari para penjahat kelamin atau pria yang mengincar ketenaran. Jangan kira karena kepopuleranku ini aku punya teman yang benar-benar tulus, Lian. Tidak ada, semuanya, semua yang mendekatiku selalu punya tujuan lain. Tidak ada yang setulus laki-laki sederhana dengan wajah yang selalu tenang bernama Berlian. Kamu! Bagaimana aku bisa menhindar dari memikirkan saat itu, Lian?! Kamu satu-satunya manusia di muka bumi ini yang tak pernah mengharapkan apa-apa dariku kecuali kebahagiaanku. Kamu manusia satu-satunya dalam hidupku yang membuatku menatap hidup ini dengan semangat setelah aku kehilangan harapan untuk melanjutkan hidup. Bahkan ketika aku menolakmu untuk menjadi kekasihku ketika itu. 

Kau yang paling tahu bagaimana terpuruknya aku ketika Ayahku menelantarkan aku dan ibuku demi wanita lain yang tidak lain adalah tetanggaku yang selama ini kupikir orang yang paling baik pada kami. Kamu yang paling tahu dari sekian banyak orang betapa terluntah-luntahnya aku ketika ibukupun meninggalkanku dengan suami barunya. Aku terlalu muda untuk hidup sekeras saat itu kan, Lian?. Satu-satunya pundak yang selalu setia menopangku hanya pundakmu. Kau selalu ada bahkan ketika aku tegas menolakmu berkali-kali.

Andai kau tahu, Lian..

Hal paling menyakitkan yang pernah aku lakukan adalah membuatmu kecewa. Cintamu begitu dalam untukku, kau tak perlu katakanpun aku sudah bisa merasakan betapa kaulah laki-laki sempurna yang didambakan semua wanita, Lian. Kesederhanaanmu, teduh tatapanmu dan kepolosanmu itu, siapa wanita yang sanggup menolak? Sesungguhnya aku tidak pernah menolakmu, Lian. Tidak sama sekali. Aku dendam pada hidupku yang kelam, aku harus membalaskan semua penderitaan hidupku dan aku harus meninggalkanmu untuk semua itu. Hingga hari ini aku menyadarinya, aku telah keliru. Aku telah salah memilih jalan hidupku. Aku terperangkap dalam dendam yang semakin ingin ku balaskan semakin membuat sakit hatiku. Semakin aku mendapatkan segala gemerlap dunia semakin aku tidak punya waktu untuk menjadi diriku sendiri,bahkan  untuk melihat kedalam batinku sendiri. Aku menjalani hidupku dengan topeng yang berbeda-beda. Aku khawatir, aku sudah tak mengenal diriku lagi. Dendam yang membawaku sampai disini tidak pernah tuntas apalagi terbalaskan, yang ada aku nyaris mati karena semakin kuingat semakin sakit rasanya. Meski orang-orang yang membuatku hidupku suram telah berada dibawah kakiku. Tapi aku tidak bisa bahagia. Tak jarang aku menangisi hidupku, meneriaki ketololoan diriku yang dipuja-puja orang. Aku lelah.

Disana, saat ini mungkin kamu telah hidup bahagia. Siapapun wanita yang mendampingimu saat ini, dia adalah wanita paling bahagia. Dia adalah wanita paling beruntung memiliki seorang laki-laki sepertimu, Lian. Aku ingin menemuimu, aku ingin melihatmu. Jika berkenan, aku ingin mendengarkan lagi kalimat-kalimat dari bibirmu yang membuat harapan hidupku kembali. Masih adakah kesempatan itu untukku.
***
Aku terbangun oleh sinar matahari yang masuk dengan leluasa dari jendela apartemenku  yang semalam tak pernah tertutup tirai. Aku bahkan tidak sadar tergeletak begitu saja dilantai. Tidak ada mimpi, aku tertidur demikian nyenyaknya. Namun pagi ini, ketika Matahari memaksaku untuk membuka mata, pikiranku tertuju padamu. Seketika aku pusing. Seingatku semalam aku terlalu sedih membayangkan perjalanan hidupku yang demikian berat. Meski aku berada di apartemen mewah di kota ini, aku merasa tak memiliki apa-apa ketika menyadari bahwa satu-satunya yang bisa membuatku tenang dan bahagia adalah kamu. Cinta adalah hal yang sangat besar, bahkan melebihi popularitas apapun yang kau miliki. Tanpa cinta, aku tidak lebih dari sebuah boneka pertunjukkan di atas gemerlap panggung dunia. Aku berubah wujud dari panggung ke panggung, aku bahkan tak lagi mengenal diriku. Aku kosong tanpa tanpa orang yang benar-benar ku cintai, orang yang kutinggalkan untuk segala mimpi semuku.

Aku sudah memutuskan untuk menemuimu hari ini. Aku juga telah memutuskan untuk pergi dari duniaku sekarang ini. Sekalipun nanti aku mendapatkanmu telah bahagia dengan orang lain, aku akan berbahagia untuk itu, paling tidak aku telah mengetahui bahwa kamu memang telah mendapatkan yang lebih baik, yang sesuai sebagai imbalan atas kebaikan hatimu. Kamu pantas mendapatkan segala yang terbaik. Aku janji, aku akan tersenyum untuk merayakan kebahagiaanmu. Mungkin aku bisa berkenalan dengan wanita beruntung itu, atau menggendong buah hatimu sebelum aku pergi entah kemana lagi. Aku sudah menutuskan.

Sudah sepantasnya aku menyadari bahwa ini juga setimpal untukku yang telah meninggalkanmu. Jadi jangan pedulikan ketika aku melangkah pergi. Meski jujur hati ini pasti akan menangis oleh sesal yang tak tertanggungkan. 
***
Kota kita tidak begitu banyak berubah. Kota kecil ini sekarang mulai terlihat lebih rapi dan tertata. Tetapi aroma kenangan begitu kuat menyeruak ketika aku memasuki gerbang kota ini. Jalan-jalan yang pernah kita lewati tidak banyak berubah kecuali jumlah kendaraan yang lalu lalang. Pohon-pohon Kenanga dipinggir jalan depan sekolah juga tidak berubah, hanya saja ia terlihat semakin menua. Lihatlah sekolah kita telah berubah, lebih megah dan terlihat moderen. Aku tidak menemukan lagi taman kecil tempat kita sering duduk berdua dulu. Aah.. kau selalu setia mendengarkan keluh kesahku, Lian. Aku semakin tak sabar ingin melihatmu, menatap wajahmu yang entah seperti apa sekarang. Aku hanya sekidit berharap agar hatimu masih seperti dulu, tidak berani aku berharap banyak. Semakin besar harapan, semakin besar peluang untuk kecewa, jadi aku sudah kuatkan diriku sejak sekarang agar ketika nanti kau telah berubah aku tidak terlalu kecewa.Aku bisa pergi lagi dengan tenang.

Aku tiba di penginapan tepat ketika hari hampir magrib. Aku keluar dari mobil dengan berkerudung, tidak akan ada yang mengenalku. Sopir taxi  sedikitpun tidak terlihat curiga abahwa ku adalah seorang artis terkenal di negeri ini. Hidup sebenarnya bagiku adalah ketika aku tidak tampil palsu dengan make up tepal dan kalimat-kalimat yang kuhafal dari skenario-skenario. Hidup sebenarnya adalah seperti hidupmu, Lian. Hidupmu sempurna, kesederhanaanmu adalah hidup yang sebenarnya yang membuatku iri dan jatuh cinta.

Sengaja aku memilih penginapan murah dan kecil untuk menyembunyikan identitasku. Pelan-pelan aku akan kembali menjadi manusia, bukan boneka lagi. Impianku saat ini adalah hidup dengan damai di kota kecilku ini, bersamanya. Namun jika itu tidak terwujud toh itu hanya mimpi, mungkin aku akan kecewa tetapi aku harus segera bangun dan melanjutkan hidupku. Entah kemana lagi aku akan melangkah, yang jelas aku tidak akan kembali pada gemerlap dunia hiburan.

Pukul sembilan malam, aku naik taxi ke bukit dipinggiran kota yang ternyata sekarang sudah diberi nama. Taman Langit namanya, ya mungkin karena dari sana kita bisa melihat langit dengan leluasa dan melihat seisi kota dengan lampu-lampunya yang berwarna warni. Hatiku tak karuan, memasuki tempat ini. Tidak begitu ramai, mungkin karena ini bukan malam minggu. Aku berjalan ke ujung bukit, beberapa pasang muda mudi yang dudk di bangku-bangku taman memperhatikanku sesekali. 

Aku terus berjalan dengan hati yang semakin berdebar, ini tempat terakhir aku melihatnya. Ini tempat terakhir aku mendengarnya mengutarakan isi hatinya padaku. Seketika aku tak bisa membendung air mataku. Ku usap sebelum air mataku sempat jatuh, namun tetap saja merembes. Aku menangis, aku menikmati tangis ini. Tangis rindu pada kenangan-kenanganku disini. Semua kenangan bermunculan dalam benakku, kisah sedih hidupku, keluargaku, ayahku, ibuku, semuanya. Aku menangis sejadi-jadinya. Kurasa tempat inilah tempat yang pantas untuk melepaskan segala duka masa laluku lewat air mata. Terkadang kita harus menangis, menangis sepuasnya agar semua beban turut mengalir keluar bersama air mata dan mengendap didasar bumi lalu hilang dan kaupun lega. Aku masih terus sesenggukan di ujung bukit yang hanya di batasi pagar besi setinggi pinggang orang dewasa yang membatasi tebing bukit. Ku biarkan angin malam menyapu wajahku, biarkan ia membawa segala sedih dan beban perasaanku selama ini. Cukup lama aku berdiri disana hingga aku merasa cukup lega untuk kembali pulang, esok aku ingin bertemu dengannya. Ku dengar ia sekarang menjadi punya rumah makan dan toko buku, semoga saja nama yang disebutkan sopir taxi tadi adalah dia. Kota ini tidak terlalu besar untuk mengetahui keberadaanya.

Aku memutuskan untuk kembali ke penginapan, malam semakin larut, hatiku lumayan lega, ku seka sisa air mataku. Aku berbalik dan melangkah kembali ke gerbang taman. Sungguh demi apapun, aku terperangah, terdiam dan tak tahu harus berucap apa ketika aku baru menyadari bahwa sedari tadi laki-laki yang selama ini terus mengisi hatiku berdiri di belakangku. Ia berdiri mematung seolah ia hanya halusinasiku saja. Tubuhku mendadak kaku tak bergeming, kepalaku terasa hampa dan entahlah aku tak bisa berpikir untuk apapun. Aku terpapku menatapnya, sorot matanya yang teduh dan menyiratkan kerinduan yang teramat dalam. Antara sadar atau tidak tetapi ia benar-benar nyata. Dia berdiri di depanku saat ini. Mungkin sejak tadi ia disana, menyaksikanku yang di dera duka masa lalu dan terisak dalam tangis penyesalan. Dia tersenyum menatapku. Tatapan yang tak pernah berubah. Tidak banyak yang berubah darinya, tubuh yang agak berisi dan wajah yang terlihat lebih dewasa dengan kumis dan cambang habis dicukur. Aku benar-benar mengenalinya bahkan ketika pertama kali aku membalikkan badan dan pertama kali tatapan kami beradu kembali. Dia masih Lian yang dulu selalu setia mendengarkanku bercerita tentang apa saja. Dia masih laki-laki yang dulu menjadi orang pertama yang merasakan sakitku. Dia lelaki yang mencintaiku dan ku tinggalkan untuk mimpi dan ambisiku.

"Aku tahu, kamu pasti kembali" Katanya lembut. "Setiap malam aku ke tempat ini, menunggumu"

Oh Tuhan, Tujuh tahun lebih aku tak pernah lagi mendengar suaranya dan malam ini aku seperti terlempar jauh ke alam mimpi. Aku seperti melayang, limbung dan hampir saja rubuh karena kehilangan keseimbangan. 

Aku masih terdiam, tak bergerak sama sekali.

"Karena itu, aku selalu menunggumu, Nis!" lanjutnya, masih dengan tatapan yang sama seperti tujuh tahun silam.

Aku masih tak bisa mengucapkan apa-apa.

"Bertahun-tahun kamu pergi, aku tak pernah sekalipun merasa kehilanganmu. Aku tidak pernah melewati satu haripun tanpa memikirkanmu. Hatiku, Nis. Hatiku tak pernah bisa melupakanku. Sekalipun aku melihatmu disana dengan duniamu, aku selalu percaya, pada saatnya kamu akan kembali kesini, ke tempat ini."

"Apa yang kulakukan, apa yang ku kerjakan semuanya semata-mata untukmu, untuk kita. Aku percaya aku pasti ada dalam hati kecilmu, bahkan ketika kau tak mengingatku. Aku percaya, kita adalah jodoh, maka itu setiap hari aku berdoa kepada Tuhan agar DIA memberiku umur yang panjang, paling tidak sampai aku bertemu denganmu."

"Kau tahu, tak terbilang cemburuku melihatmu dengan laki-laki lain diluar sana, tapi aku katakan pada diriku, siapapun laki-laki itu dihatmu pasti ada aku. Mungkin aku terlalu percaya diri, tetapi itulah yang menguatkanku dalam penantian ini nis"
Ia masih berdiri disana, hanya kedipan mata dan bibirnya yang bergerak. Kami masih berdiri berhadapan. 

"Sejak kamu memilih untuk pergi, aku meyakinkan diriku bahwa kepergianmu adalah untuk memberiku kesempatan menyiapkan segalanya untuk kita disini. Kamu hanya pergi untuk sementara waktu sampai aku selesai mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganmu kembali"

Aku terperangah, wajahku memerah. Air mataku pelan-pelan meleleh. Aku menangis. Hatiku berdesir tak karuan. Oh betapa ini adalah malam yang tak pernah ku bayangkan dalam hidupku. Dia yang telah kutinggalkan, yang telah kusakiti dengan kepergianku mengejar ambisiku masih menungguku hingga malam ini. Tujuh tahun setelah aku pergi. Aku melangkah ke arahnya, pelan-pelan ku sentuh wajahnya dengan tanganku. Aku bermimpi.. aku bermimpi.. teriakku dalam hati. Tidak akan pernah ada orang yang rela menghabiskan tujuh tahun umurnya untuk menunggu. Ini mimpi. 

Tanganku pelan-pelan menyentuh utuh pipinya, hangat dan seketika darahku berdesir. Perasaanku tak karuan. Aku tak bisa menggambarkan betapa ini seharusnya hanya ada dalam mimpi atau di dalam dongeng. Tetapi ini nyata. Berlian, lelaki yang selama ini mengisi hatiku, lelaki yang telah ku tinggalkan, lelaki yang menungguku kembali selama tujuh tahun sekarang berdiri di depanku dan aku menyentuhnya.

Ia lalu memelukku. Rinduku yang membuncah, rasa yang tak terbendung, aku memeluknya, erat. Rindu-rindu kami berhamburan, serupa kunang-kunang yang berterbangan mengelilingi kami. Rindu kami melebur menjadi satu, menerbangkan segala kekhawatiran dan luka. Tak ada lagi yang harus ku khawatirkan tentang hari esok. Dia adalah masa depanku. 

"Aku telah menyiapkan semuanya untukmu. Rumah kita, bahkan taman ini aku yang membuatnya seperti ini dan kau tahu ini semua untukmu dan disana, lihatlah di sebelah timur taman ini, aku membuat taman bermain untuk anak-anak kita nanti. Aku tahu nis.. kamu pasti kembali... kamu pasti kembali... aku merindukanmu Jinis, sangat merindukanmu..." Ia pun luruh dalam tangis, pelukannya semakin erat. 

Aku merasakan kerinduan ini semakin nikmat. Aku semakin terisak dalam pelukannya. Sudah tak ada lagi yang bisa ku katakan. Aku hanya menangis, menangis dan menangis dalam pelukannya... Bahkan ketika kau bahagia, air mata setia mewakili.

Aku tidak sedang bermimpi. Matahariku telah terbit kembali... 


Luna kelam (feat.Eross) by nyaAjie
Comments
16 Comments

16 comments:

  1. Luarbiasa,.... danda

    Saya kepingin ngajak duanda buat alur cerita tanjung menangis yang sebenarnya, sebagai bahan pembuatan film legenda tana, samawa,.... gimana....?

    ReplyDelete
  2. tujuh tahun penantian, bukan waktu yang singkat untuk menantikan matahari jiwa bersinar kembali mencerahkan jiwa ...nice story :-)

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Menarik dari sisi mana menurut nte bro?

      Delete
  4. hehe, cintanya dalem bnget ea?
    inget2 dlu, wktu sy msih pcaran. Tp, juga putus dan tragis bnget...
    T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo masih tragis berarti belum ujung kan? masih ada perjalanan untuk pencarian berikutnya :D

      Delete
  5. selamat malam mas..
    jika masalah cinta, sepertinya pengalamannya dalam banget.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. malam mas, terimakasih sudah mampir.

      hahaha ini cuma cerita mas :)

      Delete
  6. penantian yang sempurna,indah pada masanya...meski tak semua bisa melewatinya tanpa kuasa.tapi lian lah sosok yang pantas mendapatkan apa yang selama ini dinantikan.

    best mas bro cerpennya,sip dah.

    ReplyDelete
  7. Anak korban broken home, pastinya sangat berat.

    ReplyDelete
  8. Anak korban broken home pastinya sangat berat ujian hidupnya. Perlu teman untuk menumpahkan rasa beban dihatinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan hanya orang-orang yang penuh cinta seperti Lian yg sanggup menjadi "teman"

      makasih sudah mampir mas.

      Delete
  9. Replies
    1. Aduuh maluuu aku.. ada penulis beken baca cerpen pemula :D

      Delete

Berkicau

Community