Mar 12, 2013

Getar │ Tentang Cinta Seorang Ayah

Jika kita tak sanggup mengingat azan pertama yang dibisikkan ayah di telinga kita, atau mengetahui doa apa saja yang dibacakannya -dalam lelah atau bekerja- sambil memejamkan mata dan membayangkan wajah kita, barangkali akan luluh hati kita. Dan tak ada lagi yang menganggapnya terlalu dingin atau hanya mementingkan dirinya sendiri. Dan tak lagi keras kepala dan merasa sombong bahwa kita lebih baik darinya.

Memang ada hal-hal yang tak bisa diceritakan seorang ayah, ada hal-hal yang tak sanggup ia ungkapkan. tetapi jika kita mengajaknya bicara, paling tidak mengangkat telepon untuk menanyakan kabarnya, kita akan mendengar getar suaranya: yang selalu sama seperti azan pertama atau doa apa saja tentang kita. Tak percaya? cobalah temukan "getar" itu. Sebelum semuanya terlambat, tentu saja, seperti saat kau hanya bisa membacakan eulogi untuknya; di hari pemakamannya.

Jika kau sudah menemukan "getar" itu. Disanalah kau juga akan menemukan kekuatan untuk dengan lapang dan bahagia mengatakan perasaanmu yang sebenarnya, "Aku sayang padamu, Ayah"

***

Ayah, selalu seperti malaikat pelindung yang tak ingin menampakan diri. Selalu menjadi paling kuat bahkan saat beliau punya peluang yang besar untuk menangisi keadaan dan berkeluh kesah. Beliau akan selalu terlihat paling tegar dan menegarkan. Dibalik ketegasannya ada kelembutan yang tak terperih yang tak ingin selalu ia tunjukan demi agar kami tak menjadi lema dan manja. Dibalik marahnya ada harapan besar agar kami lebih kuat darinya ketika kelak waktu membawa kami pada keadaan tersulit dalam hidup kami masing-masing. Ayah tak pernah banyak omong, cintanya hampir tak terucap, tindakannyalah bentuk cinta nyata seorang ayah. 

Ayahku mungkin bukan orang hebat bagi orang-orang, namun bagi kami ia adalah manusia paling hebat yang pernah Allah berikan. Tidak pernah sekalipun ia ucapkan cintanya, namun kasih sayangnya terlihat setiap hari. Setiap hari saat aku masih kecil Ayah berangkat untuk mencarikan kami rezeki yang halal, aku selalu menantinya pulang hingga malam. Aku tidak akan mau tidur jika Ayah belum pulang. Sembari berbaring bersama ibu, aku menantikan ayah pulang membawakanku apa saja. Aku memperhatikan suara setiap kendaraan yang lewat di jalananan lengang desaku berharap itu suara truk ayah dan temannya. Ku pasang pendengaranku, sesekali ibu mendongengkanku kisah anak durhaka atau tentang monyet yang serakah. Hingga akhirnya Ayah mengetuk pintu, memanggil namaku dan aku berhamburan dari bawah selimut memeluk kakinya dan menanyakan apa yang ayah bawa untukku. Dari tasnya ayah akan mengeluarkan kantong plastik berisi bakso, atau makanan lainnya. Sesekali Ayah membawakanku buku. Lalu kami makan bersama dengan gembira, menikmati rezeki yang ayah bawa hari itu untuk keluarganya. Betapa nikmat hasil keringat ayahku setiap malam. Betapa kami bangga menikmati hasil tangannya yang tak lagi halus. Apapun yang ia bawa kami menikmatinya dengan hati penuh syukur. 

Lalu aku akan duduk dipangkuan Ayah, menunggunya menggendongku hingga lelap. Esok pagi ayah pergi lagi untuk kami. Untuk membawakan berkah untuk kami. 

Menginjak remaja, semua tentang ayah menjadi menyebalkan. Seperti anak laki-laki kebanyakan aku dan ayah banyak berselisi paham. Bagiku ayah selalu terlihat kuno dan kolot untuk hidup di zaman modern. Ayah tak pernah membelikanku sesuatu yang sesuai keinginanku. Selalu saja yang ia beli ketinggalan zaman, norak dan tak layak untuk ku banggakan di depan teman-temanku. 

Hingga semakin beranjak dewasa aku semakin mengerti, betapa berat perjuangannya. Betapa ia ingin agar aku selalu bahagia. Aku tak pernah lagi menolak apapun yang Ayah berikan, bahkan ketika jaket yang ayah belikan untukku lebih cocok dipakai oleh kakek. Aku tersenyum menerimanya dan mengecup punggung tangannya sembari mengucapkan terimakasihku. Ayahku dengan niat setiap hari untuk membahagiakan kami tak pernah putus. Aku faham sekali, hanya ada kami anak-anaknya dalam kepalanya, meski kadang-kadang kami selalu membantahnya. Semakin jauh dari ayah semakin aku mengerti betapa cintanya begitu besar dan tulus. Ia adalah petarung tangguh untuk kami. Dialah malaikat tanpa sayap yang Allah kirimkan untuk kami, untuk memimpin kami.

Sekarang, Aku telah menjadi seorang Ayah. Semakin aku mengerti betapa ayahku mencintaiku semakin aku merasa bersalah ketika mengingat saat-saat aku membuatnya kecewa, ketika aku membantah perintahnya. Padahal sesungguhnya perintahnya tak lain agar aku bisa belajar untuk menjadi pemimpin anak dan istriku saat ini. Aku sangat mengerti sekarang, bagi seorang ayah nama anaknya adalah mantra ajaib yang melipat gandakan energinya untuk lebih kuat melawan kerasnya hidup. Senyum anaknya adalah motivasi terbesar untuk menyiapkan masa depan terbaik buat anaknya. Yah, Meski kadang seorang anak selalu menganggap ayah tak lebih baik darinya, seorang ayah tetap diam dan menunjukkan cintanya lewat tindakan-tindakannya yang terkadang tak kita pedulikan.  

Semoga Allah memanjangkan umur Ayah... Aku mencintaimu, Ayah!

Yang Terbaik Bagimu - Kevin Nikolas (cover) by nyaAjie
Comments
4 Comments

4 comments:

  1. aamiin ya Robb.. sangat terenyuh membacanya,,

    setelah kita menduduki posisi seperti mereka, barulah kita merasakannya, apa yang mereka rasakan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mbk, setiap hari selalu membayangkan masa kecil dan wajah ayah.

      Delete
  2. aeeeh.. belum habis saya baca ini e udah mo keluar air mata saya.
    makasih amaq e atas tulisan yg mampu membuat sy merenungkannya kembali. :'(

    ReplyDelete

Berkicau

Community