Mar 15, 2013

Kesan Pertama

Seperti apa harusnya kesan pertama buatmu, kawan? Sepenting apakah kesan pertama? Buatku kesan pertama itu sangat penting dan menentukan kesan selanjutnya. Ini bukan cuma pendapat, tapi tentang sebuah pengalaman.

Mungkin ini hanya pengalaman sederhana, tentang sebuah awal perkenalan yang tidak begitu baik. Dan hingga hari ini efeknya masih tidak begitu baik. Ini tentang perkenalanku dengan seorang teman dimana dia adalah suami dari temanku yang kuhormati. 

Berawal dari kabar temanku yang akhirnya menikah setelah sekian lama kami tidak berjumpa dan bertukar kabar. Lalu sebagai teman akupun ingin mengetahui siapa suami temanku tersebut. Akupun mencari tahu lewat akun facebooknya. Harapanku jika suaminya tidak punya akun facebook paling tidak ia telah membagikan foto pernikahannya di facebook. Ya, bukan hanya aku teman-teman yang lain juga demikian, ingin merasakan kebahagiaan seorang teman. Benar saja, sebuah foto akad nikah sederhana ditandai oleh seseorang ke timeline facebooknya. Ku lihat teman-temanku yang lain sudah terlebih dahulu memberikan icon jempol pada foto tersebut sebagai tanda suka berikut komentar berisi ucapat selamat dan doa semoga bahagia. Aku juga melakukan hal yang sama, menyukai dan membubuhkan komentar berisi doa semoga menjadi keluarga yang senantiasa damai dan saling mendamaikan, dan keluarga abadi. Aku senang sekali atas pernikahan temanku ini, begitu juga teman-temanku yang lain.

Lalu, aku membuka akun facebook orang yang menandai foto tersebut. Ternyata benar suaminya yang menandai foto tersebut. Tanpa pikir panjang, aku mengklik tombol pilihan "menambahkan sebagai teman", niatku jelas ingin berkenalan dan akrab dengan suami teman sendiri, seperti pasangan teman-temanku yang lain, saling mengenal satu sama lain, mempererat silaturrahmi dan tentu saja memudahkan berbagi informasi. Tak sampai satu jam, dia (suami temanku) menerima perminataan pertemananku di facebook. Oke done, pikirku. Aku sudah berteman dengan suami temanku dan akupun logout dari akun facebookku karena aku harus melanjutkan pekerjaan.

Sore hari, aku sign in lagi ke akun facebookku. Ada banyak pemberitahuan dan salah satunya dari suami temanku, ia menulis sesuatu di wall facebookku. Aku menuju wall facebook dan membaca apa yang ia tulis. Betapa kecewa aku mebacanya, bukan ucapan terimakasih atas permintaan pertemanan atau sejenis ucapan salam kenal lainnya yang kubaca. Melainkan sebuah kalimat yang bikin aku hampir marah. Dengan sombongnya ia menyebutku metrosexual entah atas dasar apa? tapi ku kira karena foto profil hasil jepretan temanku yang diolah dengan photoshop hingga menjadi demikian sempurna. Ia juga menyerukan agar aku bertaubat dari sifat metrosexual itu. Ini benar-benar teguran yang salah alamat, asal bicara dan bukan cara memulai kesan pertama yang baik, ini sangat buruk! Spontan aku kesal dan marah. Tapi tentu aku tidak ingin menjawab atau mengomentari apa yang ia tulis. Sepertinya aku tidak cocok berteman dengan orang arogan seperti ini. Aku men-delete nya dari friends list-ku. Kelar!

***

Tentu bukan salahku jika aku akhirnya mengenalnya sebagai sosok yang arogan bukan? karena di kali pertama aku mengenalnya ia sudah menunjukkan kesan arogannya. Bahkan celakanya ia menilai orang lain sebelum ia benar-benar mengenal orang itu seperti apa. Tidak semua yang terlihat itu bisa dinilai seperti yang terlihat. Boleh menilai, tapi simpanlah penilaian awal itu sementara sambil menemukan lagi hal-hal lainnya hingga akhirnya memutuskan orang seperti apa yang ingin dinilai itu. Aku kecewa mengapa ia begitu gegabah men-judge orang lain yang baru saja dia kenal dan di dunia maya pula. Celakanya lagi ia dengan terang-terangan menulis di wall-ku. Sangat disesalkan. Padahal aku membayangkan ia adalah sosok yang bijaksana karena temanku yang kini istrinya adalah wanita shaleha yang tangguh, bijak dan lembut hatinya. Aku bayangkan ia akan menulis semacam ucapan "terimakasih telah menambahkan saya kedalam daftar temanmu" atau "terimakasih ya permintaan pertemanannya, temannya istri saya ya?". Malah sebaliknya. Aku di nilai semau-maunya dan tanpa data yang memadai. Terus terang aku sangat kesal, aku paling tidak suka melihat laki-laki yang metrosexual, aku mengindarinya dan tiba-tiba dia datang dan menyebutku metrosexual yang harus segera bertaubat sebelum terlambat! Hhhh... Sedemikian sempurnakah makhluk itu?

Hingga hari ini, kesan bahwa ia arogan itu tak bisa kuhilangkan. Padahal aku selalu berusaha untuk menghapusnya dari ingatanku, anggap saja itu juga semacam teguran buatku agar lebih menjaga diri di dunia maya dan dunia nyata. Aku berusaha mengambil pelajaran dari peristiwa ini, bahwa setiap orang berhak berpendapat tentang kita sesuai yang mereka lihat. Walaupun aku masih percaya bahwa penilaian di waktu pertama kali melihat rasanya tetap kurang bijak apalagi menilai seseorang buruk.  Aku berusaha untuk tidak lagi menyimpan kesal kadang berhasil kadang tidak, sedemikian membekas kesalku karena kalimat-kalimat itu. Lalu aku mulai bisa melupakannya, aku kembali pada kesibukanku seperti biasa, menulis, memotret berbagai tempat dan orang lalu ku share di facebook. 

Beberapa bulan kemudian orang itu memberikan icon Like pada fotoku, lalu memngirimkanku friend request, tidak ku hiraukan sama sekali. Aku kembali ingat kesan pertama yang buruk itu hingga akhirnya dia mengirimiku pesan agar aku meng-konfirmasi Friend Request-nya. Dengan hati yang masih kesal kuterima request-nya tapi aku tidak pernah mencoba memulai obrolan, like, komentar atau lainnya. Biarkan ia menjadi ribuan temankku lainnya di facebook, aku tidak mengenalnya dan aku tidak berhak dan tidak berkepentingan untuk menilai atau berbicara dengannya. Aku menggunakan akun facebook seperti biasanya. Dia ada di list friend-ku atau tidak aku tidak mau ambil pusing. 

Begitulah, facebook tak ubahnya dunia nyata, kita tidak bisa mennghindar dari orang yang suka atau tidak menyukai kita. Kita tidak bisa melenyapkan orang-orang yang tidak menyukai kita karena bagaimanapun mereka juga ambil bagian dalam pembentukan diri kita. Jadi biarkanlah mereka berkicau, jika sumbang tutup saja telinga dan mata, jika merdu kicauannya berikan ia "jempol" dan lanjutkan kembali aktivitas seperti biasa. Jika ada friend request, berikan kesan pertama yang menyenangkan dan jadilah teman yang baik.


NB :
Metroseksual adalah sebuah istilah baru, sebuah kata majemuk yang berasal dari paduan dua istilah: metropolitan dan heteroseksual. Istilah ini dipopulerkan pada tahun 1994 untuk merujuk kepada pria (khususnya yang hidup pada masyarakat post-industri, dengan budaya kapitalis) yang menampilkan ciri-ciri atau stereotipe yang sering dikaitkan dengan kaum pria homoseksual (seperti perhatian berlebih terhadap penampilan), meskipun dia bukanlah seorang homoseksual. Istilah ini memicu perdebatan seputar penanda teoritis dekonstruksi seksual serta hubungannya dengan konsumerisme. (Wikipedia)

.... dan sama sekali aku tidak seperti itu.

Mixing Dubstep Firts Time by mtindiaz
Comments
4 Comments

4 comments:

  1. Sabar aji.... Mungkin itu cara dia mengespresikan dirinya. Dan aku salut sama dirimu, yang always be POSITIVE and keep focus.... SUKSES YA

    ReplyDelete
  2. namanya juga dunia maya sob, apa apa serba bebas terbuka dalam mengungkapkan pendapat tanpa sungkan lagi. seperti teman suami sobat, dia juga memberikan kesan pertama dengan apa yang dia lihat lewat photo profil.yah mungikn emang menurut suami tema anda itu emang begitu. ga perlu marah itu benar, bahkan saya salut sobat bisa langsung instropeksi , saya sendiri juga kadang lebih suka dikritik dari pada dipuji, karena dengan kritikan kita jadi tahu kekuranganm kita dimana. tetap semangat!!

    ReplyDelete
  3. penting sekali ..
    ada guru ku yang kesan pertama di sekolah jelek.. meski orangnya nyoba buat baik tetep aja anak anak gasuka

    ReplyDelete
  4. Sy sih pengen ketawa jie, kemudian tanya dimana dia sekolah?

    ReplyDelete

Berkicau

Community