Mar 19, 2013

Dua Potensi

Aku tidak begitu sepakat dengan kalimat "Tak ada manusia sempurna" yang sering orang-orang katakan ketika mendapati seseorang yang tadinya ia kenal baik, tiba-tiba melakukan hal tidak baik. Justru karena punya sisi buruk itulah maka manusia disebut sempurna. Manusia diciptakan dengan membawa sifat-sifat yang berpasangan. Baik dan buruk, kaya dan miskin, sombong dan rendah hati, kanan dan kiri, dan lainnya.

Manusia diberikan dua potensi yang sama besarnya sekaligus. Potensi menjadi baik dan potensi menjadi jahat. Dua potensi ini akan berkembang ketika manusia mulai lahir ke dunia, mengenal lingkungan dan mempelajari berbagai hal. Baik atau buruk. Keluarga adalah mereka yang berperan penting dalam pengembangan potensi ini. Dua potensi yang akan menentukan manusia seperti apa ia kelak dan di tempat mana ia akan berada di akhirat nanti. Keluarga adalah madrasah pertama yang memberikan bekal pada manusia untuk selanjutnya berjalan sendiri di muka Bumi. Keluarga adalah sekolah yang (seharusnya) mempersiapkan manusia-manusia kecil itu untuk siap menghadapi dunia. Siap dalam arti seluruhnya. Siap iman, ilmu, lahir dan bathin. Peran orang tualah yang sangat urgen. Tugas utama orang tua adalah mengembangkan potensi baik dan meminimalisir perkembangan potensi buruk sang anak. Lengah sedikit saja, lingkungan akan membuat potensi buruk sang anak berkembang dan akan menjadi bumerang kelak.

Keluarga besarku adalah keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan agama untuk anak-anaknya, Kakekku berpesan, tidak apa-apa kamu kekurangan harta asal iman dan ilmu harus terus bertambah dari hari ke hari. Sejak kecil, aku dan sepupuku mengaji bersama kakek hingga tamat dan terus belajar al qur'an ke beberapa tempat lainnya. Kehangatan dan kekompakan keluarga membuat masa kecil kami begitu sempurna. Kami, cucu-cucu kakek kami adalah anak-anak yang beruntung. Masa kecil kami begitu ceria, penuh tawa, pelajaran dan petualangan. Kakek benar-benar tahu bagaimana membuat kami tak akan melupakan masa kecil kami yang indah bersamanya. Kakek kami bukan orang kaya, tetapi ia tak pernah merasa kurang sesuatu apapun. Ia selalu mengajarkan itu pada kami. Kakek selalu mengajarkan kami untuk selalu bersyukur atas apapun yang kami miliki. Masih ada langit di atas langit, kata kakek. Jika kalian terus melihat ke atas tak akan ada batasnya, tak akan ada habisnya, tak akan ada puasnya dan kalian tidak akan ingat bersyukur maka kalian tidak akan tenang menjalani hidup. Lihatlah ke bawah, bahwa ada banyak orang yang hidupnya tak seberuntung kita. Dengan cara itu makan kalian akan tetap selalu bersyukur, tidak serakah dan waspada dalam menggunakan harta. Itulah salah satu nasehat tak terlupakan dari kakek waktu kami bersepeda ke bendungan Beringin Sila pada suatu hari minggu yang indah bersama sepuluh cucunya. Hari itu, adalah hari yang akan pernah kami lupakan sampai kapanpun. Kebahagiaan kakek dan cucu-cucunya.

Beranjak dewasa kami semakin menyadari bahwa dunia ini memang luas seperti kata kakek. Sekaligus dipenuhi oleh berbagai macam rupa manusia. Kami mengejar mimpi masing-masing. Berteman dengan banyak orang di tempat-tempat baru dan asing. Kami telah dipersiapkan oleh orang tua dan kakek kami. Jaga perasaan orang lain dan jadilah teman yang baik, itu pesan kakek ketika mengantarkanku berangkat untuk melanjutkan pendidikan ke pulau seberang. Kakek lalu mengusap kepalaku dan tersenyum. Senyum yang akan selalu kuingat. Senyum yang kubaca sebagai pesan : selamat berkelana dan berkenalan dengan dunia luas, kamu pasti sanggup melewati segala macam tantangannya. Aku menahan air mataku, mengecup punggung tangannya dan hari itu kehidupanku sebagai seorang manusia dewasa dimulai. 

Benar kata kakek, ada banyak rupa manusia yang akan ku temui. Dari yang baik, sedang-sedang, jahat dan pura-pura baik. Aku harus jeli mengenalinya. Saat itu yang benar-benar kusyukuri bukan bekal uang atau makanan dari orang tuaku, bukan juga bekal pakaian atau buku-buku tapi bekal iman dalam hati yang telah menjadi benteng dalam dada untuk menangkal setiap godaan yang bertubi-tubi. Semakin aku mencintai keluargaku. Dulu aku pernah begitu kesal karena tidak selalu di turuti kemauanku seperti anak-anak lainnya. Aku berkali-kali harus sabar karena keinginanku untuk mendapatkan apa yang kuinginkan selalu tidak terpenuhi dengan mudah. Di tanah orang, aku mengerti betapa hidup ini keras, aku harus belajar mengaturnya sendiri. Tidak semua keinginan itu harus dipenuhi. 

Aku menggeleng-gelengkan kepala karena miris melihat teman-temanku yang telah diberikan berbagai macam fasilitas oleh orang tuanya namun selalu merasa kurang. Dibohongi orang tuanya demi mendapatkan fasilitas lainnya yang lebih mahal terus dan terus seperti itu. Parahnya orang tua mereka seperti kerbau dicucuk hidungnya, menurut saja meski harus berhutang dan menjual harta bendanya. Betapa malang anak dan orang tua seperti itu. Semoga hari tua mereka terjamin oleh anak-anak seperti itu.

Bapakku lain lagi, pria sederhana itu selalu tegas dalam mendidik agama. Malas mengaji artinya aku sudah siap menerima sakitnya di pukul dengan bilah bambu. Malas sholat artinya aku harus siap di pukul di betis dengan kayu yang ia siapkan. Bapakku memang keras, tetapi itu adalah bentuk cintanya pada kami. Ia tidak ingin kami jadi anak yang tidak berakhlak, ia ingin Allah menyayangi kami  dengan mengaji dan sholat. Lagipula kami adalah tanggung jawab bapak yang harus ia pertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah. Seberapapun kesal dan jengkelnya aku pada bapakku atau siapa saja orang tua yang selalu membatasiku bermain, memaksaku sholat dan mengaji, aku menysukuri itu semua. Mereka melakukan itu semua tidak lain hanya untuk kebaikanku. Mereka tengah mempersiapkanku untuk menjadi manusia yang baik dan pemimpin yang baik untuk keluargaku.

Betapa aku rindu kehangatan keluargaku. Betapa disini dan dimanapun tidak akan kutemukan suasana seperti suasana ditengah-tengah keluargaku. Meski kadang ada selisi antara bibi-bibiku tapi kami tetap keluarga besar yang kompak di mata orang-orang. Kami keluarga besar yang sederhana dan berbahagia. Kami keluarga besar yang selalu mengutamakan rasa dari logika. Kami keluarga yang mementingkan perasaan. Emosi kami menyatu dalam cinta yang saling melengkapi. 

Hari ini, giliranku untuk menciptakan keluarga yang bahagia dalam kesederhanaan meski tantangannya teramat sangat berat. Tapi aku percaya saat ini aku tengah ditempa untuk kuat, siap dan layak untuk menerima kebahagian-kebahagiaan di masa depan. Pelan-pelan aku pasti bisa. Aku kepala keluarga sekarang, paling tidak aku harus bisa memberikan ketenangan dan kedamaian untuk keluarga kecilku. 

Allah bersama orang-orang dengan niat baik.

Letto - Sampai nanti, sampai mati by firza
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community