Mar 5, 2013

Senyum Laura

Namanya Laura. Gadis yang ceria dan penuh semangat. Aku mengenalnya ketika kami terlibat dalam proyek pergelaran seni beberapa waktu yang lalu. Laura gadis yang ramah, lincah dan manis. Tidak butuh waktu lama untuk bisa akrab dengannya. Wawasannya luas, kami membicarakan banyak hal bahkan di kali pertama kali berkenalan. Laura gadis yang supel dan pintar. Ia bisa mengimbangi apa saja yang menjadi pembicaraan kami, tapi bukan sok tahu atau hanya agar lawan bicaranya nyaman, tetapi memang benar ia menguasai, mengerti dan menyenangi apa yang sedang kami bicarakan. Pertemuan pertama yang menyenangkan sampai seorang laki-laki datang dan memanggilnya. Ardi namanya, pacar Laura. Aku terpaku seketika.

Baiklah, ini bahkan belum dimulai dan aku sudah kalah lebih dulu. Lucu. Bagaimana bisa aku merasakan sesuatu yang berbeda saat bertemu dengannya atau saat melihatnya bersama Ardi. Ini lucu, saat konsentrasi menjadi kacau karena pikiran serasa diobrak abrik oleh bayangan senyum manis yang tanpa permisi, tanpa ampun masuk dan mengobrak abrik seisi otakku. Duniaku. Ah, sihir apa yang ia gunakan sehingga batu berkenalan dan ngbrol sekali saja ia sudah membuatku nelangsa sedemikian rupa. Andai ia tahu bahwa aku terjerat olehnya, tetapi ada baiknya ia tidak perlu tahu apa yang sedang berkecamuk dalam perasaanku. Jika ia tahu, kesempatan untuk bisa menyapa, ngobrol atau bahkan bertemu lagi akan berakhir. Ada saat dimana kita harus ikhlas menerima kenyataan bahwa tidak semua keinginan harus dipaksakan. Kadang-kadang pilihan terbaik adalah menerima kenyataan meski ikhlas itu bukan perkara mudah. Siapapun tahu itu. Untuk segala rasa yang tak tersampaikan, untuk segala cinta yang terpendam, serahkan pada waktu. Hanya waktu yang tahu jawabannya. Bahkan jika kau terluka, waktu adalah obat paling mujarab, bersabarlah. Bersabarlah wahai aku yang terlambat.


Ops, ini bukan terlambat namanya. Aku bahkan belum sempat memulai bukan. Atau mungkin aku yang tidak sadar telah memulainya? Aku bingung seketika. Pilihanku sekarang adalah bergegas, berkemas dan berusaha menanggalkan segala rasa ini. Memang kamu bisa? Kata hati kecilku yang semakin menciutkan nyaliku. Kamu hanya tertarik, bukan mencintainya. Percayalah tidak ada cinta pada pandangan pertama, kata hati kecilku lagi. Lalu bagaimana dengan cinta pada kenalan pertama, pendengaran pertama, obrolan menyenangkan pertama yang begitu membuka dan memperlihatkan betapa menarik dan seksi dirinya. Oh ya, kamu harus tahu, seksi menurutku adalah kemampuan seorang wanita membuat lawan bicaranya nyaman bahkan jatuh sepertiku kini. Bagian terseksi seorang wanita menurutku adalah pola pikirnya yang luas, smart dan terbuka namun tegas pada apa yang tak ia yakini. Juga tegas pada apa yang ia yakini. Lalu pelan-pelan aku berharap, semoga ia tak benar-benar yakin pada pacarnya. Aah!

***

Dini hari, ketika hanya ada suara desir angin yang menyapu ranting-ranting cemara di depan rumah, ketika semua suara yang tadinya tak terdengar mulai muncul dan menjadi musik malam yang syahdu, jangkrik, detak jarum jam, suara tetesan air di kamar mandi, dan suara detak jantungku yang beregemuruh karena rindu yang tidak masuk akal. Apa yang harus kulakukan? Aku telah mencoba berbagai jurus untuk menolak serangan seperti ini. Seperti yang kusarankan kepada beberapa orang temanku yang berkali-kali bercerita tentang kisah cinta mereka, tentang bagaimana mereka ingin melupakan seseorang. Wanita-wanita yang mencurahkan isi hatinya padaku selalu senang dan berterimakasih dengan saranku, mereka berhasil.

"Aku sangat mencintainya kak, tapi dia meninggalkanku terang-terangan. Ia mengatakan dengan jujur bahwa ia lebih kencintai Dina daripada aku. Lalu selama ini apakah dia tidak punya rasa sama aku? Aku pacaran dengannya hampir satu tahun, kak!" Curhat Lisa suatu hari. Sambil terisak menahan sakit dan sedih hatinya.

"Aku harus bagaimana kak, aku mencintainya. Tapi buat apa aku mencintai orang yang tidak mencintaiku kak?" Lanjutnya

Aku menarik nafas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Aku bisa merasakan apa yang Lisa rasakan. Ini adil? Ah ini bukan perkara adil atau tidak adil. Dalam cinta keadilan bahkan tidak berlaku. Namun jika bersikeras mengatakan ini tidak adil buat Lisa, lihatlah dari sisi pacarnya yang pergi untuk Dina yang ia cintai. Apakah adil buatnya untuk terus membohongi dirinya mencintai Lisa? Sementara hatinya ada bersama Dina yang entah mencintainya atau tidak. Tentu tidak adil bukan jika seorang harus bertahan membohongi diri sendiri sekaligus membohongi orang lain hanya agar tidak ada yang tersakiti?. Menyakiti diri sendiri untuk membuat orang lain tetap bahagia itu kadang-kadang bukan pilihan yang bijak. Jujur adalah jalan keluarnya. Jujur itu seperti sebuah lubang kecil yang sempit yang harus kamu lewati untuk melihat dunia luar ketika kau terjebak dalam sebuah rungan pengap yang membosankan. Satu-satunya cara untuk keluar adalah berusaha melewati lubang itu, mungkin kau akan terluka tetapi setelahnya kau akan menemukan cahaya. Kau bisa bernafas lega dan terbebas dari segala beban. Perihal ada yang tersakiti, itu akan selalu ada. Untuk menjadi kupu-kupu yang cekatan dan kuat, kupu-kupu harus bersusah paya terlebih dahulu melewati lubang sempit kepompong. Begitulah hidup, setiap masalah, setiap kesakitan selalu punya tujuan, tujuan yang baik untuk hidupmu.

Maka ikhlaskanlah ia yang pergi. Tidak ada pilihan selain merelakan. Rayakanlah dengan air matamu. Biarkan ia mengalir, menetes lalu menguap bersama rasa sakitmu. Biarkan ia hilang bersama udara, mengendap dilapisan bumi terdalam. Tersenyumlah, hari baru yang menyenangkan kini menjadi milkmu. Jatuh cintalah lagi, sesungguhnya obat dari segala luka karena cinta adalah jatuh cinta lagi, tapi berhati-hatilah agar jatuhmu tidak terlalu jauh dan membuatmu kembali merasakan sakit.

Beberapa hari kemudian Lisa menghubungiku, hatinya sudah lega kini. Tak ada dendam atau sakit hati lagi. Hati-harinya menjadi begitu indah, penuh senyum dan ia mulai jatuh cinta lagi, kali ini pada sahabatnya sendiri. Lakukanlah apa yang membuatmu selalu bersemangat Lisa, jalani hari-harimu dengan ceria, buat setiap orang damai berada di dekatmu, maka akan banyak cinta yang kau dapatkan. Cinta yang bukan sekedar cinta. Cinta yang berkali-kali lipat lebih banyak dari cinta yang kau beri atau cinta yang meninggalkanmu. Tarik nafasmu pelan-pelan dan panjang, rasakan dadamu bergemuruh karena cinta, cinta dari Tuhanmu yang Maha Mengetahui isi hati setiap manusia, lalu hembuskan perlahan rasakan semua bebanmu ikut berjatuhan, melayang lalu hilang bersama angin. Relakan..relakan...

Lalu bagaimana denganku? Aku kembali tersadar. Hatiku sedang tidak baik-baik saja saat ini. Ada virus berwarna merah muda yang sedang bersarang disana. Mungkin karenanya aku tidak bisa mengontrol hatiku. Logikaku tak berdaya dibuatnya. Malam-malamku menjadi kelam, aku selalu ingin tahu tentangnya, apapun tentangnya selalu menarik perhatian dan mengguncang hati. Padahal rasa ingin tahu tentang dia hanya akan menambah sakit hatiku. Bukan, bukan sakit.. Tepatnya menambah nelangsa, gelisah dan galau.

Dini hari seperti ini, tanpa bisa kuhentikan (dan entahlah aku tak mengerti) aku membuka-buka timeline akun twitternya dan facebooknya. Apa yang ku dapatkan? Aku semakin menggilainya, kata-kata bijak dalam status dan twittnya, atau daftar tempat yang ia kunjungi yang sesaat membuatku semakin kagum. Lalu lihatlah ketika kalimat-kalimat indah yang ia tujukan untuk kekasihnya? Ah bahagianya mereka. Semkin hilang saja celah untukku. Semakin harus kusadari bahwa ini hanya perasaan kagum sesaat. Bukan cinta! Kupikir aku harus segera tidur, aku harus segera lelap. Suasana dini hari yang sepi tidak baik untuk orang-orang yang sedang memendam rasa cinta.

***
Terlambat, sama sekali bukan kebiasaanku. Aku dikenal oleh teman-temanku karena kedisiplinanku. Ah ini pasti karena semalam aku terlalu galau. Di ombang-ambingkan oleh rasa. Bahkan aku sampai lupa jika hari ini aku harus memotret model baru untuk promosi wisata. Outdoor dan waktunya 1 jam lagi, di Pantai Malimbu. Aku panik, Mataram -Malimbu memakan waktu 30an menit, sementara aku belum menyiapkan keperluan bahkan konsepnya belum sempat kupelajari benar.

"Gimana persiapannya,Ram?" Pertanyaan si bos membuatku gelagapan,

"Siap bos! Saya meluncur sekarang ke lokasi" jawabku cepat.

"Kamu baik-baik kan, ram?" Si bos mengeryitkan kening "gak biasanya kamu seperti ini, ya sudah, segera kesana, model dan crew sudah menunggu, mereka cukup lama menunggu tadi."

Aku bergegas, menuruni anak tangga sambil berlari hingga berkali-kali tripod yang ku tentang lepas. Dari bawah kulihat si Bos menggelengkan kepala heran dengan tingkah lakuku hari ini. Wisnu bukan sekedar bos, ia adalah sahabatku. Kami memulai Production House ini sudah dua tahun lebih, kami memulai semuanya dengan modal kekompakan, tekad, kesamaan hobi dan dukungan modal dari ayahnya Wisnu karena itulah aku selalu memanggilnya "Bos" meski diawal-awal ia tidak setuju dipanggil demikian. Lama-lama aku terbiasa menyebutnya bos dan Wisnu menyerah melarangku memanggilnya dengan sebutan Bos. Di tahun kedua kami sudah memliki 7 orang staff dan kru. Kami semakin optimis saat film pendek kami pertama berhasil menjuarai festival film indie dan film dokumenter kami masuk tiga besar ajang festival film dokumenterr yang diadakan salah satu tv nasional. Sejak itu kami kebanjiran proyek, mulai dari video klip band indie, pembuatan video profil perusahaan, video acara-acara hingga pemotretan model untuk berbagai keperluan seperti promosi produk, wedding, foto keluarga dan seperti sekarang kami mendapat job memotret model-model yang merupakan para finalis puteri pariwisata untuk keperluan promosi wisata yang didanai oleh dinas pariwisata. Ini pekerjaan penting buatku, ini pertama kali instansi pemerintah mempercayakan peroyek pada kami. Aku tidak ingin karena masalah hati, proyek berharga ini jadi kacau dan kami kehilangan kepercayaan.

Aku mengencangkan laju scooterku menuju wilayah Senggigi. Aku menggerutu, lampu merah rasanya menjadi terlalu lama. Aku hampir meneriaki kusir Cidomo yang menghalangi jalanku. Ah kota kecil ini semakin lama semakin terasa padat saja. Aku harus segera sampai ke Malimbu. Siang hari bukan waktu yang tepat untuk pemotretan. Tak bisa kubayangkan bagaimana muka-muka marah mereka jika aku sampai terlambat. Bisa-bisa seharian aku akan di suguhkan wajah cemberut teman-teman timku. Aku tidak boleh terlambat!

Ada beberapa lokasi pemotretan hari ini, ini akan jadi hari yang melelahkan. Beberapa destinasi wisata di Pulau ini akan menjadi setting pemotretan. Kelar dari Pantai Malimbu, kami akan melanjutkan ke rumah adat Bayan, lalu ke Air Terjun Sendang Gile yang terkenal itu dan akan berakhir di Sembalun tepatnya di lereng Rinjani. Itu bukan jarak yang dekat. Seharusnya aku tidak terlambat agar aku bisa ikut rombongan naik bus pariwisata, bukan naik scooter dan harus kepanasan dan kelelahan. Sejenak aku melupakan urusan hatiku yang menjadi penyebab segala ke-random-an pagi ini. Aku terus melaju, melewati Senggigi yang semakin dipenuhi wajah-wajah bule yang mendamba Matahari. Udara pagi masih dingin dan aku harus tetap melaju kencang, ini job penting.

*bersambung 


What Makes You Beautiful (Cover) by cakkanuraga
Comments
3 Comments

3 comments:

Berkicau

Community