Jun 30, 2013

Hanya Pindah

Seorang teman mengeluh dengan kehidupannya setelah menikah, dia merasa tidak nyaman dengan hidup barunya yang mulai dipenuhi rutinitas-rutinitas sebagai seorang suami. Ia merasa jenuh dengan hari-harinya yang menjadi monoton, seara dan statis. Rumah - tempat kerja - rumah begitulah alur waktunya setiap hari. Sebelum menikah ia adalah seorang laki-laki yang tak bisa diam, dinamis sebagai seorang pecinta alam dan selalu punya banyak cara untuk bisa kemana saja yang ia mau. Lalu seketika dunianya berubah saat ia memutuskan untuk menikahi gadis yang ia cintai.

Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan di dunia ini kecuali Allah sang Maha Abadi. Apa yang sedang kita hadapi tak ubahnya ujian-ujian yang kelak hasilnya akan kita lihat di masa depan. Sesungguhnya saat kita menikah itu artinya kita telah lulus sebagai seorang lajang dan berhak untuk memasuki dunia baru, level baru dan status baru sebagai seorang suami atau istri. Maka saat itu ujian yang baru di mulai, bedanya kali ini ujiannya lebih kepada penekanan ego dan kemauan pribadi. Ujian kali ini bukan lagi tentang obsesi menaklukan gunung yang mana atau keinginan menemui seseorang asing di ujung dunia sana. Ujian sebagai seorang suami atau istri itu tidak jauh-jauh dari pengendalian ego dan belajar berbagi suka dan duka dengan jujur dan setia.
Perpindahan dari lajang ke menikah itu tidak sama dengan pindah dari masa galau ke masa bahagia selamanya. Semua status punya ujiannya sendiri, punya porsi masing-masing. Kita hanya sedang berpindah ujian, dari ujian sebagai lajang menjadi ujian sebagai seorang yang telah menikah dan tentu saja itu adalah tanda bahwa hidup kita progress, Allah telah percaya pada kita, bahwa kita mampu untuk level berikutnya. Kita mendapatkannya karena kita sudah pantas menurut-Nya.  Itulah makanya banyak orang berkata "Memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh, mobil mewah, suami baik, istri baik dll" bisa jadi kita belum mendapatkan apa yang kita inginkan karena kita belum pantas. Wallahualam

Kemudian temanku berkata dengan lirih 

"Aku seperti penjahat bagi diriku sendiri, aku melakukan semua ini tidak sesuai dengan bisikan hati..."

Aku tersenyum, aku mengerti bagaimana perasaannya. Inilah hidup dan kita hanya manusia, kataku. Hidup ada yang mengatur dan kita adalah para pelakon yang mau tidak mau harus menjalani apa yang sedang terjadi di depan mata kita. Entah itu diterima oleh hati atau tidak sesuai dengan bisikan hati selama itu tidak merugikan orang lain dan melanggar norma. Terkadang pilihan terbaik adalah menerima. Pikirku, tidak semua hal yang terjadi itu buruk bagi kita, bukankah kesakitan, masalah dan kecewa itu adalah penempah jiwa agar menjadi lebih kuat dan bijak? Ah hidup ini sesungguhnya indah jika kita mengikuti alurnya dengan baik. 

Cinta itu bukan hanya mencintai sesuatu yang kamu sukai, semua orang bisa melakukan itu. Lebih dari itu, cinta adalah mencintai apa yang kadang-kadang tidak kita sukai dari seseorang yang menjadi bagian dari hidup kita. Itulah cinta yang sempurna. Penerimaan. Adakalanya kita tidak bisa mengubah keadaan, maka yang harus kita lakukan adalah mengubah cara pandang kita. Mari melihat dari sisi yang berbeda, mari menerima dengan ikhlas. Pada saatnya sabar akan berbuah manis, cinta akan menunjukkan kebesarannya, Allah akan menepati janjinya. Sekali lagi kadang-kadang pilihan terbaik adalah menerima dan menjalani. Memang sudah waktunya kita menanggalkan ego muda kita dan mulai membiasakan diri berbagi hati, menekan ego dan mencintai dengan sebenarnya cinta. Karena yakinlah, pasanganmu juga mungkin sedang meyakinkan diri bahwa ia memang tidak salah memilihmu. Mari (berusaha) menjadi yang terbaik untuk orang yang kita cintai, orang yang akan selalu ada di samping kita dalam keadaan apapun hingga waktu untuk berpisah tiba. Dalam keadaan ini, cinta bukan lagi hanya sebuah kata atau kalimat manis, cinta disini mulai menampakkan wujudnya, memperlihatkan keanggunan dan kesejatiannya. Cinta yang saling menjaga.

Kata kuncinya : Jalani.

Buat kawanku, semoga Allah selalu memberikan kita cukup kekuatan untuk langkah-langkah kita esok dan seterusnya karena sesungguhnya hidup ini adalah tanggung jawab yang akan ada hari dimana kita akan mempertanggung jawbakan semuanya. Semoga kita tetap kuat dan perkasa, hehehe.




Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community