Jul 9, 2013

RAMADHAN

Ramadhan, haruskah aku berpura-pura merindukanmu; Sementara di setiap kedatanganmu, kaki-kaki kesadaranku masih terus melekat ditarik gravitasi-gravitasi nafsu? Sungguh-sungguhkah aku menyambutmu, atau sekadar rutinitas seremonial gegap gempita yang kering dari makna
“Marhaban yĆ¢ Ramadhan,” ujarku, tanpa sungguh-sungguh mengerti apa artinya kedatanganmu di pintu rumahku. Lalu aku akan mereka kata-kata untuk mengirim SMS, atau tweet, atau e-mail, atau broadcast message berisi permintaan maaf kepada teman-temanku, seolah menghayati kesucianmu: Sesungguhnya hanya pencitraan yang mengharapkan pujian-pujian.
“Puasa adalah medan ujian untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan dengan menahan hawa nafsu.” Aku membaca kalimat itu dalam spanduk di sebuah pusat perbelanjaan. “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1434 H,” katanya. Tapi aku segera melupakannya, dibutakan potongan harga yang sesungguhnya pura-pura, memborong bahan-bahan makanan secara rakus dan berlebihan. Lalu aku mencari perlengkapan ibadah baru, juga mushaf al-Quran baru: Sebab yang lama telah usang dan berdebu buku. Oh al-Quran, oh baju takwa, oh sajadah, oh ustad-ustad berwajah tampan, kemana saja kalian di luar bulan Ramadhan?
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kedatanganmu, Ramadhan, masih terus membuatku bertanya-tanya: Mengapa tema-tema ceramah para ustad masih terus saja sama, kecuali make-up mereka yang makin tebal dan pakaian mereka yang makin mengilap? Berapa bayaran mereka sekali tampil dalam iklan dan acara televisi? Setiap tahun aku menonton dan mendengarkan mereka, mengapa selalu tak berhasil mengubah ulat-ulat dosa dalam diriku menjadi kupu-kupu takwa? Oh para ustad, oh para ulama, oh kesejukan agama, kemana saja kalian di luar bulan puasa?
Ramadhan, memang seharusnya aku tak menyalahkan siapa-siapa: Akulah diri yang bebal dan kepala batu. Maka selamat datang, Ramadhan: Selamat datang iklan sirup Marjan. Selamat datang iklan Promag. Selamat datang Om Deddy Mizwar. Selamat datang kolak dan acar bawang. Selamat datang perdebatan NU dan Muhammadiyah. Selamat saling berkelit mazhab hisab dan rukyah. Selamat datang acara-acara sahur penuh hadiah dan hiburan. Selamat datang diskon-diskon yang menggiurkan. Ah, betapa aku merindukan kalian!
Demikianlah aku merindukanmu, Ramadhan. Demikianlah aku mencintaimu—dengan caraku yang tak tahu malu. Terima kasih telah selalu menyediakan siang terik bermiliar pahala. Terima kasih telah selalu membentangkan malam doa yang meluas angkasa. Terima kasih telah selalu menjadi bulan seribu bulan—yang membuatmu tak pernah selesai kami hitung untuk menentukan malam permulaan dan penghabisan. Terima kasih telah selalu datang dan pergi dengan senang hati, tanpa mempedulikan kemunafikan, kemaksiatan, dan kebebalan kami.
Barangkali suatu saat nanti, Ramadhan, jika hilal-mu sudah benar-benar tampak di langit hatiku, aku tak perlu menghisab dan memperdebatkan apapun: Sebab aku tak lagi punya pintu untuk menyambut kedatanganmu. Jika saat itu tiba, maka masuklah, masukilah diriku dengan keseluruhan dirimu, aku akan mendekapmu selalu—dengan penuh keharuan dan kerinduan… (Fahdisme)
 

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Berkicau

Community